<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net &#187; Musik</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/category/musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 12:37:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Fell in Love with Planet Zeke</title>
		<link>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[. Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-898" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg" alt="" width="448" height="297" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung <em>outdoor</em> setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire <em>Salacca Zalacca</em>?<span id="more-587"></span></p>
<p>Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang <em>soundsystem</em>, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari <em>laptop</em>-nya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser <em>Salacca Zalacca</em>: di layar ada sosok &#8216;mirip Zeke&#8217;, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan &#8216;Bin&#8217; Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung meng-<em>cover</em> lagu-lagu album <em>Salacca Zalacca</em> atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin&#8217; Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.</p>
<p>Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.&#8221;Gue suka Reidvoltus. <em>Attitude </em>mereka asyik.&#8221; Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.</p>
<p>Apa itu berarti album <em>Salacca Zalacca</em> cukup diterima publik? &#8220;Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa <em>show</em>, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.&#8221;</p>
<p>April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album <em>Salacca Zalacca</em>, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai <em>genre</em> itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara <em>live</em>. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik <em>laptop</em> yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. <em>Sound</em>-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke <em>backdrop</em>.</p>
<p>Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika <em>laptop</em>-nya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari <em>laptop</em> itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, &#8220;<em>Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…</em>&#8221; Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film <em>Satyricon</em> dengan kru <em>lighting</em> yang mabok. <em>What a freakshow</em>!</p>
<p>Jelas dia sangat bersenang-senang di malam <em>launching</em> itu. &#8220;Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.&#8221; Tapi tak bisa dipungkiri, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel <em>backing band</em>-nya makin meriah (ada yang tugasnya &#8216;hanya&#8217; mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi <em>anonymous</em> di balik topeng. &#8220;Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.&#8221;</p>
<p>Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap <em>venue</em>, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. &#8220;Raymond, <em>additional player</em>-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser <em>Salacca Zalacca</em>, hahaha!&#8221; tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu &#8220;Kenakalan Remaja di Era Informatika&#8221; dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)</p>
<p>Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa <em>mainstream</em> seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut <em>Salacca Zalacca</em> sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—<em>artwork</em> poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun <em>social media</em>: &#8220;Dark Justice&#8221; dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, &#8220;…<em>dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah</em>.&#8221; Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik &#8220;…<em>gue mau, semua mau, jadi</em>…<em> man of the hour!</em>&#8221;</p>
<p>Tapi lagu &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata &#8220;<em>Jagoan selalu naik kuda putih,</em>&#8220;, disambung dengan &#8220;<em>Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja</em>…&#8221;, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/ penggila film/ <em>full-time musician</em>?</p>
<p>Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di <em>scene</em> musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album <em>Djakarta Goodbye</em> (2003) memuat lirik &#8221; …<em>cloning, replicating with a ghost&#8217;s cell biomythical…</em>&#8220;—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era &#8217;80-an. Kalimat di lagu lainnya, &#8220;<em>…dreaming the megapolis/ big city style you&#8217;re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…</em>&#8221; selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di <em>track</em> penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca <em>Eyes Wide Shut</em> seandainya dia tidak keburu meninggal: &#8220;…<em>listen big shot/ under your bed/ boogeyman</em>…&#8221; Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, &#8220;Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.&#8221;</p>
<p>Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, <em>Space in the Headlines</em> (2006), yang disebut majalah <em>Tempo</em> sebagai &#8220;The Beatles yang sakit&#8221;. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga <em>sample vocal</em> dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (&#8220;Kalau kata gue <em>Rebecca</em>!&#8221; sergahnya ketika saya menyebut <em>The Birds</em> sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film <em>Janji Joni</em> (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera <em>slow motion</em>, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.</p>
<p>Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: <em>KALA </em>(Joko Anwar, 2007) dan <em>Rumah Dara</em> (Mo Brothers, 2009). Di film <em>Fiksi. </em>(Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk <em>Pintu Terlarang</em> (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat <em>Salacca Zalacca</em> sarat dengan referensi film? Lagu &#8220;Ketimur-timuran&#8221; menyebut judul-judul film seperti <em>Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia,</em> juga keprihatinan Zeke pada lirik &#8220;…<em>bikin sutradara slave produser…</em>&#8221; Sementara lagu &#8220;Shit Is So Yesterday, Moralist Happens&#8221; lebih menohok lagi, &#8220;<em>…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.</em>&#8221;</p>
<p>Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, &#8220;Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.&#8221;</p>
<p>Bagaimana tidak aneh? Album <em>Salacca Zalacca</em> berisi 17 lagu yang <em>track listing</em>-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, <em>well</em>, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, <em>11:01,</em> Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, &#8220;<em>Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.</em>&#8221; Astaga, kisah macam apa ini?</p>
<p>Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di &#8220;Pak Tani&#8221;—salah satu lagu <em>giting</em> terbaik mereka &#8220;&#8230;<em>petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter</em>&#8230;&#8221;; maka kalimat Zeke di &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah <em>ngaco</em>, &#8220;&#8230;<em>helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan jangan lupa, sepenggal lirik di &#8220;Pig Paranoia&#8221; adalah <em>pick-up line</em> abad ini: &#8220;<em>…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…</em>&#8221; Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin&#8217; Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, &#8220;Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.&#8221;</p>
<p>Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. &#8220;Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan <em>Salacca Zalacca</em> ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.&#8221; Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (<em>weekly download</em>) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, <em>psychedelic</em>.</p>
<p>Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat <em>Salacca Zalacca </em>(&#8220;Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.&#8221;), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. &#8220;Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.&#8221;</p>
<p>Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai <em>bedroom musician</em>, setelah menitipkan CD <em>Salacca Zalacca</em> ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng &#8220;My Cosmic Autumn Rebellion&#8221;—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, &#8220;<em>Nice shoes, man</em>.&#8221; Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, &#8220;Oh <em>shit</em>, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.&#8221;</p>
<p>Delapan lagu baru pun tercipta. Meski <em>mood</em>-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala <em>hook</em> itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter <em>traditional singer-songwriter</em>. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep <em>weekly download</em> bagi Bin itu brilian. &#8220;Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin <em>man</em>, tiap minggu keluar lagu baru!&#8221;</p>
<p>Hasil perdana sesi <em>psychedelic</em> ini adalah &#8220;Fell in Love with the Wrong Planet&#8221;, lagu ke-18 dari <em>weekly download</em>-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata &#8216;<em>wrong</em>&#8216;, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (&#8220;Kadang pakai gitar, atau mulut doang.&#8221;), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan <em>software</em> musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan <em>rhythm</em> yang cocok, dia mencari-cari <em>beat</em> yang enak untuk <em>drum loop</em>. &#8220;Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah <em>beat</em> selalu merepotkan gue.&#8221; Tapi toh dia berhasil. Di &#8220;Rolling Like a Stupid Stone&#8221;, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan <em>beat</em> genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan <em>sound</em> bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>&#8220;Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.&#8221; Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. &#8220;Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.&#8221; Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, &#8220;Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?&#8221;</p>
<p>Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di &#8220;Causeway Bay&#8221;, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, &#8220;Bunyinya seperti nafas mesin.&#8221; Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya &#8220;<em>…nature procreates/ machine replicates.</em>&#8221; Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang <em>Chinese fortune teller</em> di Hong Kong (&#8220;Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol&#8230;&#8221;). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.</p>
<p>Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? &#8220;Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.&#8221; Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. &#8220;Seperti <em>love</em>, yang nggak ada batasnya.&#8221; Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan <em>file</em> yang dinamai <em>weekly potential</em>. Kata <em>finish</em> sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. &#8220;Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin <em>ngalor-ngidul</em>. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. &#8220;Gue suka <em>honesty</em>-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, &#8216;<em>Daniel, keep playing! Don&#8217;t worry, we love you!</em>&#8216; Semangat &#8216;<em>keep playing</em>&#8216; itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu &#8220;Tender&#8221;-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, &#8220;Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.&#8221; Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. &#8220;Gue selalu <em>look up</em> ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, <em>Gak kekejar nih, gak kekejar nih…</em>&#8221; Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.</p>
<p>&#8220;Tapi gue masih pengen terus ngejar.&#8221;</p>
<p>Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, lalu melanjutkan mengunggah lagu mingguannya. <em>Weekly download</em>-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu, di angka berapa dia bakal berhenti.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta-Bandung, Februari 2011</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran <a href="http://kineruku.com/zeke-khaseli-rolling-like-a-stupid-stone-ep-release-party/"><strong><em>Rolling Like a Stupid Stone EP</em></strong></a> di <strong>Kineruku</strong>. Foto oleh <a href="http://meicysitorus.co.cc/" target="_blank"><strong>Meicy Sitorus</strong></a>. Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://zekekhaseli.com/" target="_blank"><strong>Zeke Khaseli</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Brazil, someone once said</title>
		<link>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 09:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;return i will to old brazil&#8221; yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s 1984 and i saw gilliam&#8217;s brazil like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-438 aligncenter" title="ButtleTuttle!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/ButtleTuttle.jpg" alt="ButtleTuttle!" width="431" height="244" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;return i will<br />
to old brazil&#8221;</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><span id="more-436"></span>yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s <em>1984 </em>and i saw gilliam&#8217;s <em>brazil</em> like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which kills me again and again; softly for sure, you know, those blah blah blah cheesy words in the first lines (Geoff did it the best, IMHO, with the intro and the whistling-like sound), &#8216;<em>june</em>&#8216;, &#8216;<em>ambermoon</em>&#8216;, &#8216;<em>someday soon</em>&#8216;, rhyming never gets tiring, huh?, suddenly &#8220;<em>then tomorrow was another day</em>&#8221; (!), and finally &#8220;<em>return, i will, to old Brazil</em>&#8220;&#8212;should i say, the Past? or is it the Future? with sam lowry, you&#8217;ll never know.</p>
<p>[MP3s]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?yz5lzwyydwd" target="_blank"><strong>Kate Bush</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Brazil OST</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank"><strong>Geoff &amp; Maria Muldaur</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; </a><em><a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank">Pottery Pie</a><br />
</em><a href="http://www.mediafire.com/?ztmz3d1m1ej" target="_blank"><strong>Arcade Fire</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Rebellion (Lies)</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?mzd0mdya3tm" target="_blank"><strong>Beirut</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Live at KLRU Studios<br />
</em></a><a href="http://www.mediafire.com/?yyzywm2zmeq" target="_blank"><strong>Antonio Carlos Jobim</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Aquarela Do Brasil</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Band Beranak Band</title>
		<link>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 20:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Set your guitars and banjos on fire, and before you write a song: smoke a pack of whiskey and it’ll all take care of itself.&#8221; —Beck Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-597" title="ABBB0" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg" alt="" width="424" height="242" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Set your guitars and banjos on fire,<br />
and before you write a song: smoke a pack of whiskey<br />
and it’ll all take care of itself</em>.&#8221;<br />
—Beck</p>
<p>Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger &#8216;cuek&#8217; itu juga cool.</p>
<p>Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: &#8216;menjadi band terkenal&#8217;. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. <span id="more-577"></span>Badu pun terpaksa merelakan VW Combi-nya—yang lebih mirip rongsokan besi tua ketimbang mobil—dipindahkan dari garasi. Ya, ya, ya, harus dengan didorong, tentu saja. Terlalu lama dia mogok, dan semua tukang bengkel di seluruh dunia sudah angkat tangan. Ketika kami dorong rongsokan itu keluar, bodinya berderit-derit menyakiti telinga. Saya ingat betul, bahkan ketika si VW Combi sialan ini masih jalan pun (itu artinya waktu Muhammad Ali masih perkasa di ring tinju), bunyinya juga udah nggak keruan. Mesinnya berderak-derak. Bannya koclak. Jendela kacanya gemeretak. Pokoknya semuanya bunyi kecuali klakson. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rongsokan itu, kecuali jika menurut Badu, adalah plat nomornya: B 4 DU. Itupun sebenarnya kami nggak bangga. Biasa aja.</p>
<p>Persiapan pun dimulai. Kami harus menyulap garasi tua itu demi tujuan mulia: punya studio latihan sendiri. Ayo bagi tugas! Badu kebagian memindahkan barang-barang sambil menggerutu (peti-peti kemas milik papanya Badu sebenarnya cool sih, tapi kami selalu curiga salah satu di antaranya berisi mayat, jadi kami nggak mau ambil risiko latihan band metal kami yang bising nanti bakal membangunkan arwah-arwah yang penasaran). Saya kebagian tugas menyapu dan mengepel lantai, memperbaiki atap bocor (untung ada <em>how to</em>-nya di internet), dan menyemprotkan pewangi ruangan (yang juga bisa kamu pesan via online). Bada mendapat kehormatan (okay, sebenarnya itu hasil undian, karena kami rebutan) untuk menyebar undangan ke kos-kos cewek di sekitar rumah pohon kami, demi menjajaki kemungkinan awal adanya groupies band kami yang soon-to-be-famous ini. Hoho, pede dong. Sebab pede itu juga cool.</p>
<p>Setelah menjaga garasi itu supaya tetap dalam kondisi &#8220;nggak terlalu kotor, tapi juga nggak bersih-bersih amat&#8221; (sebab kami denger agak kumuh itu juga cool), maka kami pun siap latihan! Badu tampak siap dengan celana jeans robek-robeknya (katanya ini juga cool), Bada memakai topi panjang ala Slash (atau mungkin Mr. Robin, saya suka ketuker), karena katanya ciri khas penampilan itu penting, demi image band (tapi kok nyontek yang sudah ada ya?). Sementara saya, sudah siap dengan… bekal makan siang. Lho? Yoi, kalau rocker kena maag juga nggak cool bukan?</p>
<p>Setelah sambutan dari Bada (kami bertiga memang sepakat menuakan dia), dan sepatah dua patah kata dari Badu (kami anggap dia perwakilan anak muda dari karang taruna setempat), dilanjutkan acara gunting pita dan tabuh gong, potong nasi tumpeng dan minum jus wortel, maka studio latihan (d/h garasi) kami pun resmi dibuka. Kami bertiga sepakat menamakan studio baru itu dengan: &#8220;Latihan&#8221;. Nama yang lumayan cool, bukan? Jadi kalau dibaca lengkap: Studio &#8220;Latihan&#8221;. Edan! Alangkah brilian ide kami ini, yang memang kurang suka istilah-istilah yang sok berat penuh kiasan. Kami bertiga ini orangnya lugas-lugas saja. Okay, sedikit bodoh memang. Tapi peduli setan, pokoknya kami siap ngeband dan mengguncang dunia!</p>
<p>Di saat itulah kami baru menyadari sesuatu: kami belum punya alat musik satu pun.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Damn! Kami merasa sangat bodoh. Ini esensial, Bung! Bagaimana kami bisa latihan kalau nggak ada alat musik satu pun? Bahkan sekadar kicrik-kicrik pun kami nggak punya. Setelah saling tuding saling menyalahkan (Badu: &#8220;Elu sih Bud, mikirinnya interior dapur mulu! Budi: &#8220;Heh, enak aja, gue kan juga harus mikirin logistik dan konsumi, tauk!&#8221; Mulai panas: &#8220;Elu tuh yang kerjanya nggak bener! Dasar NATO!&#8221; Debat kusir: &#8220;Nggak&#8230; lu tuh!&#8221; &#8220;Yee&#8230; elu!&#8221; Nyaris tonjok-tonjokan: &#8220;Elu!!!&#8221; … &#8220;Elu!!!&#8221;), akhirnya Bada berhasil melerai kami berdua dan mengaku salah, &#8220;Sudah, sudah. Jangan berantem. Ini salah saya. Harusnya kemarin saya survey alat-alat band, tapi malah keliru beli alat pancing dan penggorengan ikan.&#8221;</p>
<p>Saya dan Badu melongo berdua. Arghhh. Kita ini mau ngeband atau magang jadi koki? Dasar bodoh! Tapi karena Bada adalah anggota yang kami tuakan, jadi segala makian itu cukup diucapkan dalam hati saja, supaya lebih afdol dan tidak memicu konflik. Amin. Akhirnya, setelah memasang senyum palsu secukupnya, kami sepakat untuk pergi ke toko alat musik dan belanja segala keperluan kami di sana. Tapi problemnya adalah: kami semua lagi bokek. Kas persaudaraan kami sudah ludes untuk merenovasi garasi menjadi studio, dan sisanya sudah kami habiskan di meja judi. Gawat.</p>
<p>&#8220;Ada usul, <em>guys</em>, gimana caranya kita beli alat musik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue tahu!&#8221; Badu bangkit dari duduknya, tangannya mengepal dan matanya berbinar-binar. Saya dan Bada langsung berdoa dalam hati, semoga usul Badu kali ini bermutu. &#8220;Gimana kalo kita ke toko musik, lalu kita pecahin semua alat di sana?&#8221;</p>
<p>Saya dan Bada saling berpandangan, bingung. &#8220;Ehmm, maksudnya…?&#8221;</p>
<p>Badu tampak kesal. &#8220;Ah, dasar bodoh kalian ini. Di toko kan suka ada tulisan &#8216;<em>Pecah Berarti Membeli</em>&#8216;! Jadi kalo kita pecahin alat musik di sana, berarti kita membelinya!&#8221;</p>
<p>Astaga. &#8220;DUITNYA, monyooooongggg!!!&#8221;</p>
<p>Sampai sekarang kami masih suka heran, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuhan ketika Dia menciptakan Badu.</p>
<p>Setelah melalui musyawarah untuk mufakat (awww, betapa kami menjaga nilai-nilai luhur bangsa!), keputusan bersamanya adalah: kami harus bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan dana untuk membeli alat-alat musik idaman kami. Pokoknya kami harus bisa nge-band!</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Besoknya, kami pun mulai mencari uang dengan kemampuan kami masing-masing. Ada yang &#8216;terpaksa&#8217; kembali menulis naskah komedi untuk salah satu acara lawak paling fenomenal di sejarah pertelevisian negeri ini (ahem!). Ada yang pulang kampung dan diam-diam menjual kerbau-kerbau peninggalan kakek. Pokoknya kami kumpulkan uang &#8220;sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit&#8221;. Hmm, ngomong-ngomong itu peribahasa yang agak aneh ya: maunya ngumpulin duit, kok dapetnya malah bukit? Apa bukitnya harus kita jual dulu, baru kita dapet duit? Ah rumit.</p>
<p>Sementara Badu berusaha mencari uang dengan jualan balon di SD-SD. Kasihan, rupanya dia belum tahu, bahwa ketimbang lagu &#8220;<em>Balonku ada limaaa, rupa-rupa warnanyaaa…</em>&#8220;, anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan &#8220;<em>Aku punya teman… uh, uh… Teman tapi mesraaa…</em>&#8221; Begitu tahu, Badu langsung banting setir, jualan lotre di bungkus permen karet. &#8220;Gimanapun juga, judi itu abadi, Bos. Nggak kenal jaman.&#8221; Walhasil, bukannya untung malah buntung. Dia berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian, karena menjanjikan hadiah motor padahal bohong. Badu pun dijebloskan ke penjara dengan pasal penipuan. Tapi dengan bantuan Setan, yang kebetulan dikurung di sel sebelah atas tuduhan pemaksiatan umat, Badu berhasil kabur dari penjara.</p>
<p>Sebagai ucapan terimakasihnya, Badu mendirikan usaha baru: atraksi Tong Setan. Itu lho, akrobat naik motor muter-muter di dalam tong raksasa. Dia sendiri yang jadi penunggang motornya. &#8220;Gini-gini, gue kan ada bakat pembalap,&#8221; kata Badu pede. Padahal seingat kami, satu-satunya balapan yang pernah dia ikuti adalah karapan sapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="TongSetan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg" alt="" width="454" height="302" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sialnya, usaha Tong Setan ini pun tak banyak menghasilkan uang. Malah lebih sering nombok, karena harga BBM selalu naik dan naik terus. Dan rasanya kok sayang aja gitu, buang-buang bensin cuman buat muter-muter bloon di tong bego kayak gitu. Dirundung putus asa, plus bisikan Setan tentunya, akhirnya Badu memutuskan untuk (maaf) jual diri. Sayang caranya salah: dia berteriak-teriak sambil menjajakan dagangannya, &#8220;<em>Diri, diri! Diri!</em>&#8221; Bukannya laku, orang-orang malah menganggapnya gila. Mungkin mereka benar.</p>
<p>Saya dan Bada merasa kasihan. Bagaimanapun, Badu bagian dari kami. Dia hanya khilaf. Akhirnya dengan semangat persaudaraan, penuh haru kami merangkul Badu. Kami mengajaknya insyaf, menggandengnya pulang. Trio Budi Bada Badu utuh lagi, dan kabar bagusnya, awas, kami akan memakai huruf kapital: UANG KAMI SUDAH CUKUP UNTUK BELANJA ALAT MUSIK!</p>
<p>Kami bertiga pun berangkat ke toko alat musik yang sudah kami incar dari dulu. Sepanjang jalan, saya dan Bada bernyanyi-nyanyi riang (sekaligus mengasah persediaan stok lagu-lagu awal kami, yang sebenarnya sudah cukup banyak untuk sekadar <em>double album</em>), sementara Badu hanya diam saja dari tadi. Mungkin dia masih merasa nggak enak dengan kejadian tempo hari, apalagi secara finansial dia tidak ikut berkontribusi. Ketika pelan-pelan kami yakinkan bahwa itu beneran nggak papa, dia malah heran, &#8220;Kalian ini kenapa sih? Gue kan lagi mikir, gitar merk apa yang sebaiknya kita beli nanti!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Setibanya di toko (wah, namanya Toko &#8220;Musik&#8221;!, hohoho kami langsung merasa satu frekuensi!), atas rekomendasi kuat—untuk tidak mengatakan setengah memaksa—dari petugas parkirnya, akhirnya Badu memilih satu gitar lusuh di pojok toko. &#8220;Itu gitar legendaris peninggalan musisi terkenal di jamannya!&#8221; demikian katanya sambil menyodorkan kartu parkir kami. Lalu gitar itu pun kami periksa dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tampak di stikernya yang sudah kusam, nama merk-nya: &#8220;Tua&#8221;. Well, ini pertanda bagus. Dengan gitar &#8220;Tua&#8221; ini, Badu pasti kan merasa seperti Rhoma Irama. Kami jadi curiga, jangan-jangan Pak-Petugas-Parkir tadi mantan anggota Soneta.</p>
<p>Bada, sebagai musisi spesialis alat tiup, mulai mencari-cari saksofon. Kami memang sempat terpikir mengubah aliran band kami menjadi jazz (karena kata sebuah lagu, &#8220;<em>&#8230;daripada musik metal lebih baik musik jazz&#8230;</em>&#8220;), tapi rupanya Toko &#8220;Musik&#8221; ini tidak menjual saksofon. Di etalase musik tiup kami hanya menemukan harmonika (yang segera kami hindari, karena mengingatkan pada pengamen country blues di warung sop kaki kambing langganan kami), pianika (aduh, memangnya anak SD ujian EBTA praktek?), seruling bambu (oh no, kami bukan band si gembala sapi!), dan&#8230; terompet bekas sisa Tahun Baru kemarin.</p>
<p>Astaga, kami salah memilih toko. Dengan suara tercekat, Bada bertanya, &#8220;Alat musik tiupnya cuman ada ini doang, Mbak?&#8221; Si Mbak-Pelayan-Yang-Lumayan mengangguk sambil tersenyum manis kayak tebu. Tapi dia mendadak seperti teringat sesuatu, lalu bergegas ke arah salah satu lemari. Dikeluarkannya kotak hitam lusuh, sambil berkata, &#8220;Ini ada satu lagi, Dek&#8230;&#8221; (Wah, ge-er juga dipanggil &#8220;Dek&#8221;. Pasti wajah imut kami inilah penyebabnya!)</p>
<p>Tapi ketika kotak hitam itu dibuka, lemaslah kami bertiga demi melihat isinya: peluit!</p>
<p>&#8220;Gimana, Dek, tertarik? Ini alat tiup juga kan? Kata distributornya, ini <em>limited edition</em> lho! Bisa dibilang <em>rare</em> lah!&#8221;</p>
<p>Tunggu. Peluit? Distributor? Tanpa aba-aba, kami bertiga serentak menoleh ke luar. Tampak Pak-Petugas-Parkir cepat-cepat melengos sambil bersiul-siul layaknya tak mendengar percakapan kami. Damn, apa yang bisa kami harapkan dari toko musik sialan ini?</p>
<p>Akhirnya, malas-malasan Bada mengambil seruling bambu. &#8220;Jangan kuatir, teman-teman. Saya akan memodifikasinya biar sedikit lebih berkelas. Band besar sekaliber Jethro Tull saja juga memakai seruling.&#8221; Okay bro, terserah kamu deh. Toh Bada adalah anggota persaudaraan yang kami tuakan, dan bagaimanapun, menghormati orang tua adalah sikap terpuji.</p>
<p>Oya, sebagai vokalis, supaya nggak terlalu nganggur waktu manggung ntar, saya pikir saya butuh kicrik-kicrik. Tapi lagi-lagi stok toko lagi kosong. Alasan Mbak-Pelayan-yang-Lumayan kali ini adalah, &#8220;Lagi nge-trend di kalangan musisi indie sekarang. <em>Sold-out</em> terus dari bulan kemarin.&#8221; Okay deh. Sebagai gantinya, saya beli <em>game-watch</em> Tetris. Toh fungsinya sama: supaya saya nggak terlalu nganggur di atas panggung. Jadi saya bayangkan, ketika membawakan salah satu lagu hits kami, yaitu sehabis saya menyanyikan bagian <em>reffrain</em> dua kali, lalu Badu akan bersolo gitar (yang pasti akan memakan waktu cukup lama, karena dia krisis eksistensi), maka selama itulah saya akan main Tetris. Cool.</p>
<p>Saatnya membayar. Di kasir, kami gagal meminta diskon. Padahal Badu sudah menyamar menjadi fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Lihat, celananya dekil, kaosnya robek-robek, tapi sialnya bermerk mahal. Tentu saja pihak toko nggak percaya. Hmm, Mbak Kasir cantik juga (potensial groupies awal?), tapi kok kayak judes dan pelit. Dan bener aja. Waktu nggak ada kembalian, kami dikasih permen. Bayangkan!</p>
<p>&#8220;Kembaliannya permen aja ya? <em>Sok atuh</em>, kalian masing-masing ambil 1 permen!&#8221;</p>
<p>Kami kesal bukan main. Enak aja kembalian tiga ratus perak diganti permen.  &#8220;Kenapa sih Mbak, kembaliannya mesti permen?&#8221;</p>
<p>Jujur aja, kejudesannya tadi sudah lumayan mengurangi kecantikannya. Apalagi setelah dia menjawab, &#8220;Karena kalian masih kecil, masih anak-anak. Jadi kembaliannya pakai permen…&#8221;</p>
<p><em>Oh man</em>, meski berwajah imut-imut, kami bukan anak-anak! Badu tampak kesal dan dari hidungnya keluar api, &#8220;JADI KALO KITA NTAR UDAH GEDE, KEMBALIANNYA PAKE BIR?!?!”</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di jalan pulang, kami masih agak kesal dengan perlakuan toko yang aneh tadi. Tapi kami mencoba tetap fokus dengan cita-cita luhur kami semula: Menjadi Anak Band! Oh, cool. Di kepala kami tersusun lagi rencana-rencana awal: latihan di garasi, manggung di gig-gig indie, upload lagu kami di internet, dilirik produser idealis yang mumpuni, kontrak rekaman yang menggiurkan, masuk TV dan terkenal, jadwal manggung yang padat, dikerubutin cowok-cowok, eh cewek-cewek, dsb., dst., dll., etc&#8230;</p>
<p>Sayang seribu sayang, mimpi tinggal mimpi. Semuanya terpaksa kandas, bahkan sebelum kami mulai. Ini gara-gara satu musibah absurd yang menimpa kami. Di jalan pulang tadi, kami bertemu, ehmm&#8230; well, seekor naga.</p>
<p>Ya, ya, ya, saya tahu kalian pasti tidak akan percaya. Selama ini kami juga berpikir naga hanya hidup di cerita-cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Besar, sangat besar, dan nyata. <em>ASTAGA NAGA RAKSASA</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="naganaganyadragon!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum kami sempat berpikir mengambil langkah seribu, Sang Naga sudah terlanjur mendenguskan nafas api, membakar habis semua alat musik kami! Kami sangat marah, tapi terlebih lagi, sebenarnya, kami sangat takut. Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar, mau memakan kami! Tak sempat menjerit, kami bertiga saling berpelukan seperti finalis AFI yang dieliminasi, sambil berikrar sehidup semati. Naga itu pun menelan kami!</p>
<p>Di saat itulah kami mulai paham arti istilah &#8220;<em>mulut lu bau naga, bro</em>.&#8221; Apalagi kami belajar langsung di lapangan, langsung dari sumber yang paling terpercaya. Tak kuat menahan bau naga mulut Sang Naga, kami bertiga pun jatuh pingsan. Ketika siuman, kami baru menyadari sudah berada di dalam perut Sang Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, kami harus menjalani sisa umur kami di sana. Sampai detik ini. Kami masih berpikir keras, bagaimana caranya bisa keluar dari  tempat ini. Mungkin dengan menuliskan cerita ini, sidang pembaca menjadi tergerak menolong kami. Kalian bisa mengirimkan saran-saran lewat surat pembaca, ke PO BOX N464. Kami tunggu ya. Terima kasih lho.</p>
<p style="text-align: right;">Salam,<br />
Budi, mewakili Bada dan Badu.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">*) Judul cerita ini diilhami dari judul film dokumenter <strong><em>Anak Naga Beranak Naga</em></strong> (2006), karya <a href="http://arianidarmawan.net"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>. Tulisan ini pertama kali muncul di <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2006/05/anak-band-beranak-band.html" target="_blank"><strong>blog lama</strong></a> saya.</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Besar Sembilan Puluhan Menurut Saya</title>
		<link>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 04:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning.&#8221; &#8212; Mo Rocca Licorice Roots &#8211; Melodeon (Mood Food, 1997). Neutral Milk Hotel &#8211; In The Aeroplane Over The Sea (Domino, 1998). Bongwater &#8211; The Power Of Pussy (Shimmy Disc, 1990). Milk &#8211; Succeeding/Receding (Spanish Fly, 1994). Blur &#8211; Modern Life Is Rubbish (Food, 1993). The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-804" title="Top90s-comp" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>&#8220;<em>The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning</em>.&#8221;<br />
&#8212; Mo Rocca</p>
<p><span id="more-805"></span></p>
<p><strong>Licorice Roots</strong> &#8211; <em>Melodeon</em> (Mood Food, 1997). <strong>Neutral Milk Hotel</strong> &#8211; <em>In The Aeroplane Over The Sea</em> (Domino, 1998). <strong>Bongwater</strong> &#8211; <em>The Power Of Pussy</em> (Shimmy Disc, 1990). <strong>Milk</strong> &#8211; <em>Succeeding/Receding</em> (Spanish Fly, 1994). <strong>Blur</strong> &#8211; <em>Modern Life Is Rubbish</em> (Food, 1993). <strong>The Jean-Paul Sartre Experience</strong> &#8211; <em>s/t compilation</em> (Flying Nun, 1995). <strong>Slint</strong> &#8211; <em>Spiderland</em> (Touch and Go, 1991). <strong>East River Pipe</strong> &#8211; <em>Shining Hours In A Can</em> (Merge, 1994). <strong>Scott Walker</strong> &#8211; <em>Tilt</em> (Mercury, 1995). <strong>Thomas Jefferson Slave Apartments</strong> &#8211; <em>Bait And Switch</em> (Onion, 1995).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Mulanya adalah Stroszek</title>
		<link>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 17:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[he&#8217;s watching him watching stroszek. happy 55th birthday, ian! &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg"><img class="size-full wp-image-726 aligncenter" title="watchstrosz!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><em></em>he&#8217;s watching him watching <a href="http://budiwarsito.net/stroszek/" target="_blank"><strong>stroszek</strong></a>.</span></span></p>
<p><span id="more-725"></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #c0c0c0;">happy 55th birthday, ian!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji? #1</title>
		<link>http://budiwarsito.net/janji-1/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/janji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, lucu juga idenya. 10 Penyanyi Perempuan Terfavorit? Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi: [01] Rebecca Schiffman [02] Sibylle Baier [03] Josephine Foster [04] Wheatie Mattiasich [05] Soelih Soejatno [06] Ann Magnuson (of Bongwater) [07] Fursaxa [08] soap&#38;skin [09] Sharon Van Etten [10] Freya Hollick [11] Jeri Rossi (of Your Funeral) [12] Ana da Silva &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-721" title="SS" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg" alt="" width="401" height="146" /></a></p>
<p>Hmm, lucu juga idenya. <em>10 Penyanyi Perempuan Terfavorit</em>?<em> </em>Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi:<span id="more-720"></span></p>
<p>[01] Rebecca Schiffman<br />
[02] Sibylle Baier<br />
[03] Josephine Foster<br />
[04] Wheatie Mattiasich<br />
[05] Soelih Soejatno<br />
[06] Ann Magnuson (of Bongwater)<br />
[07] Fursaxa<br />
[08] soap&amp;skin<br />
[09] Sharon Van Etten<br />
[10] Freya Hollick<br />
[11] Jeri Rossi (of Your Funeral)<br />
[12] Ana da Silva &amp; Gina Birch (of The Raincoats)</p>
<p>Dan ya, tetep kelebihan dua! Kapan-kapan ditulisnya. Semoga ini bisa lebih dari sekadar janji-janji tukang jahit.</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-739" title="SS!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>[MP3]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?a0w6ru4yveus7f4" target="_blank"><strong>Soelih Soejatno &#8211; &#8220;Nyanyian Musafir&#8221;</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/janji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang-binatang di Kepala Syd</title>
		<link>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 12:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[. An effervescing elephant with tiny eyes, and great big trunk once whispered to the tiny ears the ears of one inferior that by next June he&#8217;d die, oh yeah! because the tiger would roam and the little one said oh my goodness I must stay at home and everytime I hear a growl I&#8217;ll [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-264" title="Syd" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/06/Syd.jpg" alt="Syd" width="431" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
An effervescing elephant<br />
with tiny eyes, and great big trunk<br />
once whispered to the tiny ears<br />
the ears of one inferior<br />
that by next June he&#8217;d die, oh yeah!<br />
because the tiger would roam<br />
and the little one said oh my goodness I must stay at home<br />
and everytime I hear a growl<br />
I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl<br />
and I&#8217;ll be really safe you know<br />
The elephant he told me so<br />
And everyone was nervy, oh yeah!<br />
and the message was spread<br />
to zebra, mongoose, and the dirty hippopotamus<br />
who wallowed in the mud and chewed<br />
his spicy hippoplankton food<br />
and tended to ignore the word<br />
prefering to survey a herd<br />
of stupid water bison, oh yeah!<br />
and the jungle took fright<br />
and ran around for all the day and the night<br />
but all in vain because you see<br />
the tiger came and said to me,<br />
&#8220;You know I wouldn&#8217;t hurt not one of you<br />
I much prefer something to chew<br />
you&#8217;re all too scant, oh yeah!&#8221;<br />
He ate the elephant&#8230;<br />
</em>&#8212;lagu &#8220;Effervescing Elephant&#8221;, Syd Barrett, album <em>Barrett</em> (1970).</p>
<p>Saya tak begitu ingat apa saja yang saya lakukan di usia 16 tahun. Itu sudah bertahun-tahun silam. Mungkin membolak-balik majalah HAI, karena masih ada cerbung bubin LantanG di sana, dan saya suka. Mungkin sedang berusaha (terlalu) keras menyatakan cinta monyet pertama saya, deg-degan dan malu-malu. Oh, atau mungkin sedang terlalu antusias (antara senang sekaligus cemas) karena pergi dari rumah dan mulai hidup terpisah dari orang tua. Dan saya mulai menulis. Puisi-puisi norak, cerpen-cerpen yang tak pernah selesai, atau sekadar kata-kata patah hati yang tak tersampaikan. Saya menulis apapun, selain lagu. Ya, selain lagu. Sementara Syd Barrett, sudah menulis lagu sejak usia 16 tahun. Dan dia jenius. <span id="more-1"></span></p>
<p>Tentu saja lancang dan tolol sekali membandingkan diri saya dengan dia. Saya bukan otak kreatif awal Pink Floyd untuk kemudian dipecat dari sana (bahkan saya tidak pernah punya band, karena saya tak bisa bermain instrumen apapun selain seruling, dan itu pun hanya satu lagu, &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221;!), saya bukan seorang Capricorn, saya tidak mengonsumsi LSD tiga sampai empat kali sehari, dan saya tak pernah secara resmi dinyatakan gila. Setidaknya psikiater saya belum sampai hati mengatakannya.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara tak sengaja saya mendengar satu lagu Syd Barrett di sebuah toko musik, pada sebuah musim dingin di pinggiran Seoul. Dan kebetulan umur saya juga 16 tahun waktu itu. Ada perasaan merinding yang janggal, murung sekaligus senang, rasa penasaran menjalari kepala saya, atau kombinasi yang aneh dari semua itu. Sesuatu yang misterius. Semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Sejak saat itu saya resmi menjadi penggemar.</p>
<p>Lagu itu adalah &#8220;Effervescing Elephant&#8221;. Sebagai <em>closing track</em> dari album solo keduanya (yang kemudian menjadi album terakhirnya), itu justru termasuk lagu paling awal yang pernah Syd tulis, ketika masih berumur 16 tahun. Tentu saja ini bukan komposisi terbaiknya, tapi lagu tersebut sangat berarti bagi saya. Dinyanyikan hanya dengan iringan gitar kopong, nada lagu ini terdengar riang sekaligus ganjil, sepintas seperti progresi lagu mars untuk anak-anak. Liriknya pun terkesan kekanak-kanakan, meski sebenarnya tidak. Dia memang bercerita soal binatang, sejenis fabel. Namun fabel macam apa, dengan pesan jenis apa, yang keluar dari kepala seorang jenius gila seperti Syd?</p>
<p>Sedikit berbeda dari kebanyakan lirik Syd lainnya yang rumit dan sulit dimengerti, &#8220;Effervescing Elephant&#8221; sebenarnya cukup mudah. Dan tumben struktur dramatiknya jelas. Seperti ada logika bertutur yang dipatuhi, semacam pola Struktur Tiga Babak. Pertama, Perkenalan Karakter dan Masalah. Tersebutlah seekor Gajah, (perhatikan deskripsinya yang teliti &#8220;<em>…with tiny eyes and great big trunk…</em>&#8220;) sedang menyampaikan kekhawatiran tentang kehidupan hutan yang ganas, kepada rekannya sesama gajah yang lebih junior. Hukum rimba berlaku mutlak: siapa kuat, dia bertahan. Dan itu selalu berarti soal siapa memangsa siapa. Dan Harimau, tentu saja, adalah ancaman besar bagi mereka. Gajah Kecil jelas ketakutan, &#8220;<em>…oh my goodness I must stay at home</em>!&#8221;, tapi lagi-lagi, rumah macam apa, di tengah hutan, yang sanggup melindungi binatang dari kejamnya predator alam bebas?</p>
<p>Masuklah babak kedua, Intensifikasi Masalah. Maka ketika Harimau datang, seisi hutan pun tegang. &#8220;<em>…and everytime I hear a growl, I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl.</em>&#8221; Saya membayangkan sesosok loreng dengan otot-otot kaki yang ramping dan lentur, berjalan melenggang. Ya, hanya melenggang. Itu pun sudah cukup membuat sekumpulan binatang resah bukan main, dan mau tak mau mereka harus tetap bergerombol jika ingin selamat dari terkaman sang pemangsa (apakah Syd sedang menyindir konsep agung &#8220;manusia adalah makhluk sosial&#8221; sekaligus <em>homo homini lupus</em>?). Sederetan nama binatang Syd sebutkan, mulai dari Zebra, Mongoose, hingga Kuda Nil pemalas yang gemar berkubang dan mengunyah &#8220;<em>his spicy hippoplankton food</em>&#8220;. Diksi yang amat jeli. Bahkan Greg Graffin, vokalis Bad Religion yang juga profesor biologi di UCLA, rasanya tidak akan pernah terpikir memakai kata &#8216;<em>hippoplankton</em>&#8216; untuk sebuah lirik lagu.</p>
<p>Syd terus menggenjreng gitarnya, bernyanyi dengan suara tak stabil: seperti terlalu rendah saat mengambil nada awal, lalu <em>falsetto</em> di beberapa bagian, untuk kemudian nyaris tercekik kehabisan nafas di bagian lain. Dan tibalah penghujung cerita, Penyelesaian Masalah. &#8220;<em>…and the jungle took fright/ and ran around for all the day and the night</em>.&#8221; Siapa akhirnya yang menjadi santapan Harimau? Kepada siapa Nasib Buruk akan ditimpakan oleh Sang Penguasa? Ketakutan seluruh penghuni rimba sempat terhapus oleh Sabda Raja Hutan: &#8220;<em>You know, I wouldn&#8217;t hurt one of you.</em>&#8221; (Yeah, seperti dalam hidup, harapan seringkali muncul, bukan?) Tapi tunggu dulu, &#8220;<em>I&#8217;d much prefer something to chew</em>.&#8221; (Oh sial, harapan palsu, mulai dibanting.) Pada akhirnya, well, baca saja sendiri kalimat terakhir lirik di atas, ada baiknya setelah Anda selesai mengunduh lagu tersebut di Limewire.</p>
<p>Setiap lagu itu selesai diputar, saya selalu diam termenung. Syd menyisakan 15 detik di akhir lagu hanya dengan suasana sepi, hanya ada suara jengkerik di gelapnya malam, dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, lolongan binatang kesakitan. Saya curiga Syd tak sekadar membicarakan binatang semata-mata. Dia sedang membahas sesuatu yang lebih besar, hal-hal yang tak pernah selesai, lebih subtil, hal-hal yang susah dijelaskan. Pada titik tertentu dalam hidup, seberapa percaya Anda terhadap Takdir (dengan &#8216;T&#8217; besar), berikut segala usaha mengakalinya? Dan hebatnya, segala narasi itu dikemas Syd secara ringkas hanya dalam durasi lagu 1 menit 52 detik. Segala ironi dan kesia-siaan bertahan itu. Nada datar, progesi tak terduga, tanpa <em>reffrain</em>, 173 kata yang padat berisi, dan setiap bait hanya dinyanyikan sekali.</p>
<p>Entah kenapa kalimat terakhir lagu itu selalu mengingatkan saya pada baris puisi Chairil Anwar yang terkenal, &#8220;<em>sekali berarti sudah itu mati</em>&#8220;. Bisa jadi hidup yang sialan ini memang seperti itu: dia hanya sekali, dan tak lebih dari sekumpulan ironi atas hal-hal percuma. Mungkin tak masuk akal, tapi saya menangkap ada kemiripan di situ: keduanya sama-sama berusaha tetap optimis dari awal, meski sekaligus tahu betul betapa semuanya akan selalu berakhir tragis. Seberapa jauh kita sanggup menyiasatinya, untuk kemudian tetap tunduk takluk tak berdaya? Logika ironi selalu diramu dari bahan-bahan menyebalkan seperti itu. Chairil berharap panjang umur (&#8220;<em>aku mau hidup seribu tahun lagi</em>&#8220;), tapi toh penyakit TBC menghentikannya di angka 27. Sementara di lagu &#8220;Dark Globe&#8221;, komposisi terbaiknya menurut saya, Syd menyanyi dengan tenggorokan sedih luar biasa, &#8220;<em>Won&#8217;t you miss me?/ Wouldn&#8217;t you miss me at all?</em>&#8221; Dan kita tahu, karir musiknya yang brilian terpaksa terhenti di rentang waktu sangat pendek, setelah dinyatakan sebagai &#8216;<em>an incurable mad man</em>&#8216; oleh dokter jiwa, untuk kemudian menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang gila (dalam arti harfiah) dan tinggal di rumah ibunya hingga akhir hayatnya. Sering terlintas di benak saya, apa jadinya jika Chairil dan Syd, yang sama-sama tertarik tema kesepian transendental, hidup di zaman sama dan berkolaborasi? Seperti apa Chairil (dia penerjemah andal) mengalihbahasakan lirik lagu Syd &#8220;<em>when I was alone/ you promised the stone from your heart</em>&#8220;? Dengan nada minor macam apa Syd menyanyikan baris puisi Chairil &#8220;<em>aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang</em>&#8220;?</p>
<p>Ya, saya selalu kagum pada mereka yang demikian fasih perihal binatang-binatang sebagai metafor. Selain lagu di atas, beragam satwa bertebaran di karya-karya Syd Barrett, mulai dari Angsa, Burung, Serigala, hingga Cumi-cumi. Bahkan di salah satu sampul albumnya, tergambar bermacam-macam Serangga. Sementara satu-satunya hal yang pernah saya lakukan soal binatang, hanyalah sebaris puisi tolol berikut ini, yang tak mungkin hinggap di kepala Chairil Anwar, saya tulis di usia 7 tahun: &#8220;<em>Once I had a cat. Now he’s dead</em>.&#8221; Well, setidaknya itu berima.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?2ymaewitwgk" target="_blank"><strong>Syd Barrett &#8211; Effervescing Elephant</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>O Judge Dredd, Where Art Thou?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;They call him Judge, his last name is Dredd. So break the law, and you wind up dead.&#8221; (&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album Among The Living, 1987) Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="komikmagnetik" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/komikmagnetik.jpg" alt="komikmagnetik" width="160" height="217" /><em><span style="color: #ffffff;"> </span>&#8220;They call him Judge, his last name is Dredd.<br />
</em><em>So break the law, and you wind up dead.&#8221;</em><br />
(&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album <em>Among The Living</em>, 1987)</p>
<p>Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil&#8212;rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat <em>ngantor </em>demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. &#8220;<em>Life begins at six forty</em>!&#8221; (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si <em>slacker</em>: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain <em>metalhead</em>, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan.<span id="more-237"></span></p>
<p>Saya, masih kelas 2 SD waktu itu, sepulang dari sekolah sering main-main ke kamarnya, yang penuh puntung rokok, tumpukan kaset, dan komik bertebaran di mana-mana. Dialah yang pertama kali mencekoki saya dengan Batman (&#8220;<em>Daripada jadi Clark Kent mending jadi Bruce Wayne, nggak usah kerja udah kaya raya</em>!&#8221;), tak menggubris protes saya saat disuruh membuang komik-komik Donal Bebek (&#8220;<em>Tapi kan Paman Gober juga nggak kalah kaya, Mas</em>!&#8221;), dan menertawakan idola saya Gundala Putra Petir (&#8220;<em>Kamu pernah baca Flash nggak sih</em>?&#8221;). Saya tahu semua sikapnya menyebalkan, tapi apa yang bisa dilakukan anak umur 8 tahun yang juga merindukan figur seorang kakak sekaligus teman? Kamarnya selalu bising dengan lagu-lagu cadas, tapi toh saya tetap datang dan datang lagi. Saya ingat betul kenapa lagu<em> </em>Anthrax &#8220;I Am The Law&#8221; terus menerus dia putar: sebab lagu itu itu bercerita sepenuhnya tentang tokoh komik favoritnya&#8212;Judge Dredd! Yeah, hampir semua tokoh komik superhero impor digemarinya, namun di atas segalanya, Judge Dredd adalah pahlawan dia nomor satu. Lagipula, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang fakta bahwa band favorit kita berbagi cerita tentang jagoan yang sama?</p>
<p>Selama intro lagu itu&#8212;kocokan gitar tebal diadu dengan gebukan drum gagah, memakan waktu 1 menit sendiri&#8212;tetangga saya itu ber-<em>headbanging</em> heboh di atas kasur, lalu dengan lantang meneriakkan lirik demi lirik, &#8220;<em>He keeps peace with his law-giver, judge, jury, and executioners</em>!&#8221; Dan menjerit sekeras-kerasnya di bagian &#8220;<em>I am the law, you won&#8217;t fuck around no more</em>!&#8221; Ketika dia tunjukkan adegan demi adegan Judge Dredd berjibaku di lembar-lembar komik koleksinya, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca.</p>
<p>Dalam hati&#8212;tentunya setelah bertahun-tahun kemudian&#8212;saya sering bertanya-tanya, jangan-jangan itu semua berhubungan dengan latar belakangnya sebagai anak seorang penegak hukum, ditambah kemungkinan batinnya sedang tertekan oleh persoalan hidup entah apa. Judge Dredd, sang jagoan berseragam yang menggabungkan kekuatan polisi, wibawa hakim, kebrutalan preman, teknologi mutakhir, dan sedikit aroma monster Frankenstein itu jelas mengejek sistem penegakan hukum di masyarakat masa depan. Atas nama hukum, aparat boleh bertindak apa saja, termasuk menghabisi nyawa si pelanggar hukum. Saya tidak sedang bicara moral atau soal benar salah di sini, tapi saya hanya curiga: bahwa yang dilihat tetangga saya di sosok Judge Dredd itu bukanlah kesewenang-wenangan aparat akibat kekuasaan, tapi semata-mata kebebasan bertindak. Bukankah dia mendambakan kemerdekaan, yang hanya diperoleh ketika rumahnya kosong, dan bapaknya, seorang hakim terhormat, sedang tidak berada di tempat?</p>
<p>Namun apapun itu, sejak itulah saya mulai berpikir ulang tentang persepsi primitif masa kecil saya perihal komik. Bahwa ternyata komik tak melulu tentang superhero (atau kalaupun masih, lebih sering muncul dalam parodi, atau antihero), bahwa narasi hitam putih bisa jadi sudah basi, dan bahwa telah (sedang, dan akan selalu) ada kebutuhan terciptanya format-format baru yang lebih menantang. Beranjak dewasa, saya harus berpisah selama-lamanya dengan tetangga saya itu. Saya bersekolah di luar kota, dan ada berita sedih: dia minggat dari rumahnya, lenyap tanpa kabar. Ada yang bilang dia menjadi preman di ibukota, dan kabar terbaru: dia mati ditusuk di sebuah huru-hara. Ayahnya, kini pensiun sebagai hakim, berduka untuk kedua kalinya, menghabiskan masa senja dengan berpindah domisili entah ke mana. Sementara di saat bersamaan. saya mulai &#8220;meninggalkan&#8221; komik, sedikit &#8220;beralih&#8221; dengan menemukan keasyikan di gambar bergerak alias film. Namun tiap kali tak sengaja mendapati tumpukan komik impor di toko buku, saya selalu teringat tetangga saya itu. Diam-diam saya bersyukur dia tak sempat menonton akting buruk Stallone di film <em>Judge Dredd</em> (1995)&#8212;sebuah upaya gagal memindahkan karakter komik ke pita seluloid. Bisa-bisa dia meringis kecewa.</p>
<p>Zaman makin berubah, dan perkembangan komik di negeri ini pun memasuki babak baru. Komik-komik bawah tanah mulai tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Pakem bertutur konvensional yang saya pahami, terang-terangan mereka labrak: panel-panel makin diruntuhkan, ada keliaran imajinasi yang semakin menjadi-jadi, serta imbuhan elemen lain seperti permainan kolase, baik untuk teks maupun gambar. Ada memang, yang terkesan asal-asalan, baru setengah jadi, atau cuilan-cuilan momen keseharian yang &#8216;Gak Penting&#8217; (tapi sebenarnya apa sih, yang &#8216;Penting&#8217; itu?), namun entah kenapa, beberapa di antaranya berhasil menggetarkan hati. Jangan-jangan justru di situ poinnya: mereka cuek dengan tampilan, toh yang lebih esensial adalah gagasan. Ada gairah bermain-main di situ&#8212;sebuah kesadaran penuh sebagai <em>homo ludens</em>&#8212;maka jika kemerdekaan bercerita dan ketersampaian pesan justru tercapai dengan mempreteli segala perangkat baku itu, kenapa tidak?</p>
<p>Ketika pameran komik—baik yang &#8220;lurus&#8221; maupun eksperimental&#8212;mulai menjamur di mana-mana, ingin rasanya saya ajak tetangga saya itu datang melihat-lihat. Saya penasaran apa pendapat dia. Tapi di mana dia sekarang? Saya tidak tahu. Jangan-jangan sebenarnya dia selalu &#8216;ada&#8217; menemani saya. Barangkali di alam sana, sambil menekuni halaman demi halaman komik Judge Dredd, dia tetap meneriakkan lagu Anthrax kesukaannya. Namun akankah dia bersetia pada lirik &#8220;<em>so break the law, and you wind up dead</em>&#8220;? Entahlah. Angkat gelasmu, ayo bersulang untuk kebebasan!</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penikmat budaya pop, tinggal di Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ditulis sebagai catatan pendamping<em> </em>&#8220;<strong>Komik Magnetik</strong>&#8220;&#8212;Pameran Komik 10 Seniman, di RURU Gallery, ruangrupa, 14-29 November 2009. Kurator: Ifan Ismail dan Yudha Sandy.</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?j5iy5kzkyzm" target="_blank"><strong>Anthrax &#8211; &#8220;I Am The Law&#8221;</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Si Koin Bolong</title>
		<link>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[. there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose &#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album Nine Lives, 1997 Dulu waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-305" title="yencoinbolong" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/yencoinbolong1.jpg" alt="yencoinbolong" width="230" height="162" /><em>there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose<br />
</em>&#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album <em>Nine Lives</em>, 1997</p>
<p>Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja &#8220;Masih ada, Bu!&#8221;&#8212;ini persoalan etika menyenangkan orang seberang&#8212;sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu.<span id="more-82"></span></p>
<p>Saya yakin pasti ada pertimbangan lain yang bukan sekadar artistik belaka. Ketika tinggal di Mishima beberapa hari, menatap lebih dekat salju di pucuk gunung Fuji sambil membaca novel-novel Yukio Mishima (benar-benar kombinasi kegiatan yang sangat pas! Alias norak banget), saya bertanya ke Motonori (teman sebangku di sekolah yang suka main tamagotchi) soal koin itu, dan dia juga hanya bisa mengangkat bahu—belakangan saya baru tahu minat dia lebih ke musik dan membentuk band punk bareng tetangga sebelah rumahnya. Wuiih, ini rukun warga pangkeh bener!</p>
<p>Sampai balik ke Indonesia, pertanyaan itu tetap tidak terjawab. Saya malah menjadikan koin bolong itu sebagai bandul kalung, hingga saya masuk bangku kuliah di Bandung dan mulai nyadar bahwa ternyata <em>geuleuh</em> juga ya kalung itu (<em>pisan, jang!</em>). Akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari sebuah buku, yang saya beli dengan harga cukup wajar di pojok Lt. 3 Gramedia Merdeka, ini dia cuplikannya:</p>
<blockquote><p><em>Why do ¥5 and ¥50 coins have holes?</em></p>
<p><em>When the Japanese economy was based on the sen (¥0.01) rather than the yen, there were several coins with circular holes in the middle. During the first half of 20th century the holes disappeared and coins were distinguished by size and material. There was also a time when there were not so many denominations of coins, so one of two distinctions sufficed. Today, however, we have coins of ¥1, ¥5, ¥10, ¥50, ¥100, and ¥500 value. Size alone, even with the addition of tooled edges, is insufficient to help the user recognize the denomination. The hole was, therefore, reintroduced to help even people with limited sight distinguish between ¥5 and ¥10 coins and ¥50 and ¥100 coins by feel alone.</em></p>
<p>(<em>Japan from A to Z, Mysteries of Everyday Life Explained</em>. p.28-29. James M. Vardaman, Jr. and Michiko Sasaki Vardaman. Yenbooks, 1995)</p></blockquote>
<p>Ah, dasar orang Jepang, sampai segitunya. Tapi bagus sih, niatnya mulia. Lalu apa hubungannya koin Yen dengan lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;-nya Aerosmith yang saya kutip di awal tulisan? Sama-sama bolong aja, gitu? Bukan. Begini ceritanya. Lagu itu sedang populer waktu saya balik ke Indonesia, dan ada seorang teman baik saya di SMA yang pacarnya lagi suka banget lagu itu. (Teman baik saya itu cuma minta &#8220;oleh-oleh&#8221; koin Yen buat koleksi mata uang dia. Hehehe, itu sih oleh-oleh yang gampang dan murah!). Di <em>sleeve</em> kasetnya rupanya tidak disertakan lirik, dan waktu itu internet belum sangat populer di tempat kami. Demi tampil heroik di mata ceweknya, jadilah saya ditodong untuk men-transkrip lirik lagu itu. Tentu saja dia nanti akan bilang ke ceweknya bahwa dia-lah yang telah bersusah payah men-transkripnya, spesial atas nama cinta. Well, taktik gombal murahan sebenarnya, tapi siapa tahu ampuh.</p>
<p>Di radio tape butut miliknya (sumpah butut banget), dengan semangat mulia &#8220;<em>a friend in need is a friend indeed</em>&#8221; membara di dada, kami memutar kaset itu berulang-ulang, mencatat kata demi kata. Sementara saya pasang kuping baik-baik (listening saya sebenarnya sama bututnya), teman saya itu malah sibuk mencabuti jenggotnya dengan dua koin Yen yang bolong tengahnya itu. Buset, kayak tukang ojek lagi nungguin penumpang aja. Liriknya mulai tercatat sedikit demi sedikit. Ketika baru sampai baris &#8220;<em>&#8230;yeah there&#8217;s a hole in my soul, but one thing I&#8217;ve learned, for every love letter written, there&#8217;s another one burned&#8230;</em>&#8221; (hmmm, dalem juga si Oom Tyler ini!) radio tape butut itu mulai batuk-batuk. Uhuk-uhuk. Well, usia lanjut tak bisa bohong. Begitu sampai lirik &#8220;<em>&#8230;is it over, is it over, ‘cause I&#8217;m blowin&#8217; out the flame&#8230;</em>&#8221; radio tape itu tiba-tiba berhenti bekerja. Sialan, pas banget sama liriknya!</p>
<p>&#8220;Tenang Bud, bentar lagi dia jalan lagi kok. Dia emang suka begitu&#8230;&#8221; ujar teman saya itu meyakinkan, sambil mengetok-ngetok bodi renta radio tape-nya. Tapi rupanya kali ini lain. Ditunggu-tunggu lama, radio tape itu tak mau hidup lagi. Diketok-ketok lagi, diam saja. Saya mulai khawatir, jangan-jangan wafat beneran. Padahal kata Chairil Anwar, &#8220;kerja belum selesai, belum apa-apa.&#8221;</p>
<p>Dengan otoritas penuh sebagai pemilik sah, akhirnya teman saya itu dengan pedenya mencoba membongkar dikit-dikit radio tape kesayangannya itu. Ini demi cewekku, katanya sambil sesekali menerawang (halo, sinetron). Maka dibukanya bodi radio tape yang sudah bau tanah itu. Beberapa sekrupnya, itupun kalau masih bisa disebut sekrup, sudah karatan dimakan usia. Waduh, saya lupa teman saya itu orangnya agak ceroboh. Bukannya ditaruh dulu, koin Yen bolong dia itu (plus beberapa helai jenggotnya menempel di situ) malah kecemplung masuk ke dalam radio tape butut itu! Yak, sempurna!</p>
<p>Koin sialan itu nyelip di antara kabel keropos dan onderdil busuk. Setelah mengumpat secukupnya, dia mengajak saya membongkar total radio tape itu. Saya sebenarnya males, tapi demi persahabatan (uhuk-uhuk!) saya menurut saja. Baiklah, ambil obeng, dsb. Bongkar sana bongkar sini, dsb. Tapi karena kami berdua tidak begitu paham soal barang-barang elektronik, jadilah duo-amatir-sok-tukang-reparasi ini cuma bisa &#8216;terima bongkar, tidak terima pasang&#8217;. Alias, &#8216;terima bongkar.. dan terima kasih&#8217;. Jadilah radio tape itu makin ancur. Operasi kami gagal total, dan bertambah satu lagi kasus malpraktik di Indonesia. Ketika kami membawanya ke tukang reparasi beneran di daerah dekat Kraton, diagnosis resmi yang kami terima adalah: &#8220;Wah, ini sih harus diganti, Dik!&#8221; … &#8220;Oh gitu? Diganti apanya ya Mas? Onderdilnya?&#8221; … &#8220;Bukan. Radio tapenya! Beli aja yang baru!&#8221;</p>
<p>Teman saya tersenyum kecut. Penuh haru, diangkutnya radio tape butut legendaris itu pulang. Didekapnya erat-erat, mungkin semacam penghormatan terakhir. Saya mengekor saja di belakang. Di perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Kami berkabung. Di kepala saya berkumandang lagu &#8220;Gugur Bunga&#8221;, adegan tentara baris berbaris, plus beberapa tembakan salvo. Jadilah teman baik saya itu gagal tampil heroik di depan ceweknya. Seminggu kemudian, mereka putus.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">PS.<br />
Download di <a href="http://www.4shared.com/file/94488155/d870f688/Aerosmith_-_Hole_In_My_Soul.html" target="_blank"><strong>sini</strong></a> jika ingin mendengar lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopi, TV, Popularitas</title>
		<link>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 01:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Y&#8217;know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating &#8216;coffee is so delicious, it would be a pity to let the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-281" title="coffeeandtvmilk2" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/07/coffeeandtvmilk2.JPG" alt="coffeeandtvmilk2" width="302" height="223" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;Y&#8217;know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating &#8216;coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it&#8217;. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.</em>&#8221;<br />
&#8212;Bob Dylan, memperkenalkan &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; di acara radionya pada tahun 2006</p>
<p>Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung.<span id="more-69"></span> <strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6oqXVx3sBOk&amp;ob=av3e" target="_blank">Videoklip &#8220;Coffee &amp; TV&#8221;</a> </strong>adalah cerita tentang sebuah misi mulia. Sebuah upaya penyelamatan. Perjalanan si kotak susu menjadi sangat heroik sekaligus mengharukan. Dan perjuangannya tak sia-sia. Si anak hilang berhasil ditemukan—dia sedang bermain musik, nge-band bersama teman-temannya. Si anak hilang pun bergegas pulang, meninggalkan teman-temannya, kembali ke rumah orangtuanya. Tugas si kotak susu selesai.</p>
<p>Blur, band asal Inggris, berhasil menerjemahkan lirik lagunya ke dalam bahasa gambar videoklip dengan cara yang &#8216;berbeda&#8217;. Lirik lagu &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; sendiri bercerita tentang seorang superstar yang lelah akan dunianya. Lirih, lagu bernuansa minor ini dilantunkan—setengah berharap, setengah mengejek. &#8220;<em>Do you feel like a chain store/ practically floored/ one of many zeros/ kicked around bored…</em>&#8221; Popularitas menjadikan seorang bintang seakan-akan (harus) hidup dalam deretan etalase toko: siap dilihat-lihat, dan oleh sebab itu harus bagus—karena konsumen adalah raja. Sang bintang pun terjebak dalam rutinitas itu: rangkaian konser yang gegap gempita, jadwal tur yang melelahkan, kejaran pers, dan histeria penggemar. Ruang gerak pun menjadi terbatas. Privasi tiba-tiba menjadi satu hal langka.  Penggemar bisa berada di mana saja, siap mengejar-ngejar untuk sekadar tanda tangan atau foto bersama. Sesuatu yang mungkin pada awalnya menyenangkan, membanggakan, tapi lama-kelamaan merepotkan juga. Sang bintang pun merasa letih. Mungkin juga jenuh—dan karenanya ingin sekali-kali hengkang dari situ. Di bagian <em>reffrain</em>, dengan teriakan setengah tertahan, keinginan itu diungkapkan: &#8220;<em>&#8230;so give me coffee and TV easily/ I’ve seen so much/ I’m going blind/ and braindead virtually…</em>&#8221; Hal-hal sepele pun kemudian menjadi sangat berharga: ditemani secangkir kopi, menonton televisi, menjalani kehidupan seperti orang lain, layaknya seorang manusia biasa.</p>
<p>Videoklip lagu ini tak lantas ber-&#8217;frontal ria&#8217;. Dia tidak hendak menerjemahkan lirik lagu begitu saja. Dipilihnya cara penyampaian yang lebih &#8216;halus&#8217;. Sebuah sudut pandang yang sedikit berbeda, tanpa harus menyimpang dari tema utama dan pesan lagu yang ingin disampaikan. Tak ada sepotong pun adegan tentang gemerlapnya dunia bintang. Tak ada kilapan blitz kamera dan lampu-lampu panggung yang menyilaukan. Tak ada kepungan mikrofon wartawan dan teriakan histeris penggemar. Sebagai gantinya, dipakainya simbol-simbol, yang cukup simpel tapi dalam: kotak susu dan foto anak hilang.  Hampir seluruh adegan adalah petualangan seru si kotak susu. Sang bintang digambarkan sebagai &#8220;si anak hilang&#8221;. Sebuah kiasan yang cukup bersahaja. Bahwa si kotak susu harus menempuh perjalanan yang cukup berat—untuk ukuran sebuah kotak susu—menggambarkan betapa misi mulia itu tidaklah mudah: &#8220;mengembalikan&#8221; sang bintang ke dunianya yang semula. Betapa tidak gampang untuk keluar dari sebuah lingkaran setan bernama &#8220;dunia <em>showbiz</em>&#8221; itu. Dunia yang penuh gemerlap, tampak menyenangkan, tapi sekaligus kejam. &#8220;<em>Take me away from this big bad world&#8230;</em>&#8220;—Blur bahkan menggambarkannya sebagai &#8220;sebuah dunia besar dan buruk&#8221;.</p>
<p>Dunia bintang ternyata tak selalu seenak kelihatannya, dan popularitas tak selamanya menyenangkan. Tak jarang mereka memaksa seorang bintang harus terus memakai topeng, demi menghibur penggemar. &#8220;<em>Your ears are full but you’re empty/ holding out out your heart/ to people who never really/ care how you are&#8230;</em>&#8221; Ada &#8216;kekosongan&#8217; di tengah ketenaran itu, menyelinap diam-diam. Ada sesuatu yang hilang.  Tapi siapa yang mau peduli &#8216;kehampaan&#8217; itu? Tiba-tiba kita teringat kisah tragis Kurt Cobain. Popularitas Nirvana—lengkap dengan segala konsekuensinya—ternyata, siapa sangka, sangat menyiksa dia. Salah satu judul lagunya yang terkenal, &#8220;I Hate Myself And I Want To Die&#8221; seakan mengisyaratkan sesuatu. Semacam beban yang berat. Bisa jadi sesuatu yang tak terjelaskan, namun menghimpit. Surat terakhirnya lebih menegaskan lagi: &#8220;<em>…kejahatan terbesar yang pernah aku lakukan adalah naik ke panggung dan mempertontonkan kepalsuan…</em>&#8221; Dan matilah si dewa grunge itu—dengan pistol ia meledakkan kepalanya sendiri. Tragis.  Blur bukannya tak tahu hal itu. Invasi pertama Blur ke Amerika di awal &#8217;90-an—mencoba mengulang kesuksesan Beatles—gagal total karena demam grunge ala Nirvana sedang kuat-kuatnya melanda Amerika. Band asal Inggris lainnya, Oasis, yang sukses menginvasi Amerika beberapa tahun kemudian, juga pernah menulis tentang risiko sebuah popularitas. Lirik lagu &#8220;Champagne Supernova&#8221; mereka menyiratkan hal itu: &#8220;<em>How many special people change/ how many lives are living strange/ where were you when we were getting high?</em>&#8221;</p>
<p>Dunia pesohor tak selamanya indah. Blur pernah menjadi bintang, merasakan popularitasnya, menanggung risikonya. Dan mereka ingin sekali-kali &#8220;keluar&#8221;—sebelum beban itu meledak. Melepaskan label-label superstar mereka, meski cuma sejenak. Mereka memilih cara yang sehat: dengan &#8220;kopi dan televisi&#8221;—bukan pistol. Pilihan yang manis. Lebih manis lagi, dengan sekotak susu yang berjalan-jalan lucu sepanjang videoklip.</p>
<p style="text-align: right;">Bandung, Mei 2001<br />
<strong>Budi Warsito</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>[MP3]</strong> <a href="http://www.mediafire.com/?ntzhaovywi3" target="_blank"><strong><br />
Blur &#8211; Coffee and TV</strong></a> (album <em>13</em>, 1999) <a href="http://www.mediafire.com/?nyygdgnvyy1" target="_blank"><strong><br />
Blur &#8211; Coffee and TV</strong></a> (Live at Hyde Park, July 2009)</p>
<p><strong>[video]</strong><br />
<strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6oqXVx3sBOk&amp;ob=av3e" target="_blank">Blur &#8211; Coffee and TV</a></strong> (YouTube)</p>
<p><strong>UPDATE:</strong><br />
<span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Di videoklip yang dibuat tahun 1999 ini, &#8220;si anak hilang&#8221; diperankan oleh gitaris Blur, Graham Coxon, yang juga menulis lirik &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; dan menyanyikannya sendiri (di lagu ini vokalis Damon Albarn hanya mengiringi sebagai vokal latar). Uniknya, melalui videoklip ini Graham Coxon seolah meramalkan nasibnya sendiri. Tiga tahun setelah itu lagu itu dibuat, dia hengkang dari Blur, meninggalkan teman-temannya, dan melanjutkan proyek solonya.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Setelah perpisahan itu, Blur sempat merilis album <em>Think Tank</em> (2003), untuk kemudian vakum hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Tiap personel disibukkan dengan proyek musik dan non musik masing-masing. Berbagai rumor bercampur harapan menyebutkan kemungkinan reuni formasi lengkap (termasuk Graham Coxon) dan rencana meliris album baru Blur. Namun harapan tinggal harapan. Dalam sebuah wawancara pada Oktober 2007, Damon Albarn mengakui ada masalah internal yang tidak kunjung terpecahkan dan bahwa reuni itu tidak akan pernah ada.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Namun akhirnya Blur sepakat rujuk kembali, dan mengadakan konser reuni yang fenomenal di Hyde Park, London pada 2 Juli 2009. Ketika penjualan tiket konser itu mulai dibuka via online setengah tahun sebelumnya, puluhan ribu tiket langsung ludes hanya dalam waktu 2 menit!</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Sutradara videoklip ini, Garth Jennings (tergabung dalam Hammer and Tongs), juga membuat videoklip keren lainnya: &#8220;Imitation of Life&#8221;-nya R.E.M (2001) yang unik, dan &#8220;Silent Sigh&#8221;-nya Badly Drawn Boy (2002) yang menyentuh.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atas Nama Jalanan&#8230;</title>
		<link>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 02:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…&#8221; &#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221; Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-271" title="breathless" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2007/10/breathless.jpg" alt="breathless" width="380" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…</em>&#8221;<br />
&#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221;</p>
<p>Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir <em>nyerempet</em> mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama <em>suspense</em> sedang terjadi.<span id="more-111"></span> Perhatikan pula sekelilingnya, sebuah ruang pentas berbagai <em>genre</em> peristiwa: dua polisi gendut duduk-duduk santai sambil <em>ngerumpi</em>, padahal lalu lintas padat jelas-jelas membutuhkan mereka (<em>komedi satir</em>); mbak-mbak pegawai kantoran tergopoh-gopoh menyusuri lorong gang sempit, cemas karena diikuti preman suruhan mantan pacarnya yang sakit hati (<em>thriller</em>); anak-anak STM tawuran, kejar-kejaran sambil menghunus pedang (<em>action</em>); atau sepasang remaja modis saling menatap malu-malu di dalam mobil mewah (jelas punya orangtua mereka) dan menunggu-nunggu kapan bisa berciuman (<em>drama remaja</em>). Segala peristiwa itu terjadi berbarengan, di sebuah <em>setting</em> besar bernama EXT. JALANAN.</p>
<p>Begitu juga pengamen di perempatan, yang <em>misuh-misuh</em> nadanya jadi agak fals lantaran harus berkelit menghindari ojek yang ugal-ugalan. Padahal gitar kopongnya (lecet kena seruduk ojek) sedang mendendangkan lagu lawas KLa Project yang merepresentasikan dirinya: &#8220;<em>…musisi jalanan mulai beraksi, seiring langkahku kehilanganmu…</em>&#8221; Barangkali dia kehilangan beberapa rupiah, atau dia sedang sentimentil. Namun kita tahu, jalanan tidak melulu soal &#8220;kehilangan&#8221;. Jalanan juga &#8220;menumbuhkan berbagai hal&#8221;. Jika tidak, bagaimana mungkin para seniman menghasilkan karya-karya mumpuni yang inspirasinya jelas-jelas dicomot dari jalan?</p>
<p>Film <em>City of God </em>(2002), misalnya, menunjukkan betapa jalanan bisa berarti keji, dan dendam pribadi mampu menjelma kekuatan kolektif yang brutal dan mengerikan. Segala drama jalanan yang keras dan penuh darah, termasuk perang antar geng di Rio de Janeiro dengan senjata api, jelas disadari sutradara Fernando Meirelles sebagai bahan dasar mengasyikkan untuk dipindahkan ke pita seluloid. Sama-sama mengangkat tema jalanan, Garin Nugroho memilih Jogja dan menghasilkan sketsa kemiskinan yang menggugah, lewat permainan akting anak jalanan non-aktor di film <em>Daun di Atas Bantal</em> (1998). Sementara di film <em>Slacker</em> (1991), Richard Linklater seperti hendak memberi aura positif kepada para <em>slacker</em> yang luntang-lantung di jalanan, bergaya bohemian dan meracau soal Dostoevsky, UFO, Marxisme, teori konspirasi JFK, dan Madonna. Perhatikan juga film <em>Breathless</em> (1960), mahakarya Jean-Luc Godard dengan <em>scene</em> legendarisnya: gadis Amerika berteriak menjajakan koran di jalanan Paris, &#8220;<em>New York</em><em> Herald Tribune! New York Herald Tribune!</em>&#8221; Menarik sekali mencermati <em>street fashion</em> di film itu: Jean Seberg tampil manis dengan model rambut <em>pixie</em>, <em>t-shirt</em> semi-turtleneck dengan lengan digulung, dipadu celana capri dan <em>flats</em>; berjalan di sebelah Jean-Paul Belmondo yang mengenakan setelan jas dan <em>ankle-high slim pants</em>, topi fedora, mengisap rokok dan merasa dirinya Humphrey Bogart.</p>
<p>Di situlah sebenarnya keunikan budaya jalanan: tak ada yang betul-betul persis satu sama lain. Apa yang khas di sudut Paris tentu berbeda dengan jalanan Amerika Latin, dan pelosok Jogja jelas lain dengan hiruk pikuk di Shinjuku. Dan tidakkah itu seru dan menantang untuk digali? Keragaman dirayakan, kebebasan berekspresi diberi tempat, dan jalanan penuh sesak dengan inspirasi. Tak heran seorang <em>filmmaker</em> pemula yang kebingungan mencari ide untuk karya pertamanya, mendapat wejangan singkat dari seniornya: &#8220;Ambil kameramu, dan pergilah ke jalan.&#8221; Mungkin dia bisa mulai dengan bertanya-tanya apa yang ada di benak Damon Albarn saat terkesima melihat kata-kata graffiti di salah satu sudut kota London. Sedemikian pentingkah suara ekspresif khas jalanan itu, hingga Albarn menjadikan graffiti tersebut judul album kedua Blur di era ’90-an: &#8220;<em>Modern life is rubbish</em>&#8220;? Bisa jadi iya. Dunia modern kian letih, monoton, butuh pencerahan-pencerahan baru. Dan bukan tidak mungkin kesegaran itu justru muncul dari jalanan: aksi manuver tukang ojek, makian khas pengamen, gaya berpakaian seenaknya, atau coretan di dinding-dinding jalan. Persis seperti &#8216;ramalan&#8217; Simon and Garfunkel: &#8220;<em>…sabda nabi-nabi tertulis di tembok-tembok subway…</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingatan, dan Rasa Kehilangan yang Abadi</title>
		<link>http://budiwarsito.net/ingatan-dan-rasa-kehilangan-yang-abadi/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/ingatan-dan-rasa-kehilangan-yang-abadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 23:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Do you mind telling me where you’re headed, Trav? What’s out there? There’s nothing out there.&#8221; —Walt (Dean Stockwell) kepada Travis (Harry Dean Stanton) di film Paris, Texas Padang gersang, di sepenggal waktu yang tidak terlampau jelas. Seorang pria dengan setelan lusuh, sepatu kisut, topi bisbol warna merah, berjalan melintasi sengatan matahari. Cambangnya kusut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-316" title="paris texas" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2007/04/paris-texas.jpg" alt="paris texas" width="431" height="242" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;<em>Do you mind telling me where you’re headed, Trav?<br />
What’s out there? There’s nothing out there</em>.&#8221;<br />
—Walt (Dean Stockwell) kepada Travis (Harry Dean Stanton) di film <em>Paris, Texas</em></p>
<p>Padang gersang, di sepenggal waktu yang tidak terlampau jelas. Seorang pria dengan setelan lusuh, sepatu kisut, topi bisbol warna merah, berjalan melintasi sengatan matahari. Cambangnya kusut masai, langkahnya ringkih, terayun dalam irama tak pasti. Dari atas bebatuan kusam, berlatar belakang langit biru terang nan luas, seekor burung pemangsa menatapnya tajam, mungkin menanti kematiannya. Letih dan dahaga menyergap tak terperi, namun di atas segalanya, rasa kehilanganlah yang paling kentara: mata pria itu cekung dan menerawang. Di film <em>Paris, Texas</em> (1984), si pejalan kaki yang linglung itu bernama Travis, dan memang ada yang hilang dari hidupnya. Tapi dia tidak ingat apa itu. Dia terus melangkah dan melangkah, tanpa tahu ke mana dan mengapa.<span id="more-96"></span></p>
<p>Di menit-menit berikutnya, kita kemudian tahu, Travis ternyata memiliki anak dan istri, dan saudara laki-laki bernama Walt. Sesuatu yang buruk telah terjadi di masa silam, hingga Travis harus kehilangan mereka semua. Dan sebaliknya, mereka juga kehilangan dia. Travis raib tanpa kabar, dan orang-orang menyangkanya sudah mati. Tapi beberapa tahun kemudian dia muncul kembali: dari padang antah berantah, berbaju kumal, dengan ingatan payah dan mulut terkunci. Di salah satu gurun itulah Travis jatuh pingsan karena kelelahan, dirawat oleh dokter, dan Walt datang menjemputnya.</p>
<p>Cerita kemudian bergulir bukan pada kisah orang hilang, namun lebih pada perasaan kehilangan itu sendiri. Di sepanjang film penonton disuguhi upaya keras seorang ayah sekaligus suami melawan amnesia, mencari-cari kepingan masa lalu yang tercecer, menyusun ulang sembari berharap bisa kembali utuh seperti semula. Hunter, putranya yang masih bocah, ternyata dibesarkan oleh Walt dan pasangannya di kota Los Angeles selama dia menghilang. Sementara Jane, sang istri tercinta, tak jelas kabarnya. Layaknya perasaan kehilangan pada umumnya, selalu ada yang sulit kembali. Perlahan Travis mulai bersedia membuka mulut, dan memorinya berangsur-angsur pulih. Dengan segala keterbatasannya, susah payah dia terus mencoba. Maka film <em>Paris, Texas</em>, yang mengalir khidmat seperti air sungai yang tenang, lebih terfokus pada jalinan plot yang simpel, skenario lurus, dan karena itu justru mengharukan di sana-sini.</p>
<p>Tampak pada satu adegan, Travis bercukur rapi, membeli baju dan memakai sepatu yang pantas, lalu menjemput anaknya di gerbang sekolah. Dia peragakan aksi-aksi konyol demi merebut kembali hati Hunter yang awalnya tak bisa menerima kedatangannya. Setelah hubungan ayah dan anak mulai menghangat, mereka berdua sepakat melintasi perbatasan kota, mencari sang ibu. Rupanya Jane selalu mengirim uang untuk Hunter pada tanggal tertentu tiap bulannya dari sebuah rekening bank di Houston. Untuk melacaknya, Travis pun membeli sebuah truk tua. Maka dimulailah misi mulia itu, perjalanan mencari sesuatu yang di hilang di masa lalu.</p>
<p>Wim Wenders, sutradara kenamaan Jerman, terkenal piawai mengolah hal-hal melankolis menjadi sesuatu yang menggetarkan. Hampir semua karyanya kental dengan tema-tema seputar kesepian, perasaan tersisihkan, dan serangkaian perjalanan mencari sesuatu. Dengan kata lain: alienasi. Tiga karya Wenders sebelumnya, acapkali disebut &#8220;<em>road movies trilogy</em>&#8220;, jelas-jelas berkisah tentang hal itu. <em>Alice in the Cities</em> (1974) bercerita tentang seorang wartawan Jerman yang merasa kehilangan spiritualitas saat berkeliling Amerika mengendarai mobil sendirian, dan berusaha keras mencari inspirasi untuk menyelesaikan tulisannya. <em>Wrong Move</em> (1975) mengisahkan seorang pria payah berangan-angan menjadi seorang penulis, yang bertemu atlet veteran Olimpiade dalam sebuah perjalanan kereta api menuju Bonn. <em>Kings of the Road</em> (1976) mengangkat perihal tukang reparasi proyektor keliling yang mendatangi bioskop-bioskop tua, dan akhirnya bertemu pria muda yang depresi akibat perkawinannya yang baru saja hancur. Apapun itu, semuanya selalu tentang orang-orang terpinggirkan, tersisihkan karena satu keadaan, dan karenanya selalu merasa ada yang kurang atau hilang dalam hidup mereka.</p>
<p>Sementara film <em>Paris, Texas</em>—bisa dibilang salah satu karya terbaik Wenders—jelas sebuah <em>road movie</em> tentang kesepian (adakah yang lebih sepi ketimbang kehilangan ingatan?) dengan latar tempat yang sangat khas Amerika (lanskap padang gersang Texas lengkap dengan segala mitologi Western-nya), yang justru digarap dengan gaya estetika Eropa. Wenders lahir dan tumbuh besar pada masa di mana Jerman (dan dunia pada umumnya) mulai dilanda Amerikanisasi, dan itu diakuinya sangat mempengaruhi karya-karyanya. Pergulatannya atas pengaruh tersebut, bercampur latar belakang Jerman pada diri Wenders, juga pengalamannya belajar melukis di Prancis, memberikan sentuhan visual unik pada interpretasi cerita ber-<em>setting</em> Amerika. Inilah kenapa lanskap-lanskap Amerika yang harusnya familiar di mata penonton, menjelma sebagai ranah yang sedikit asing. Penonton pun menjadi kurang lebih &#8220;senasib&#8221; dengan Travis.</p>
<p>Seluruh elemen pendukung film bergerak serentak mendukung tema. Wenders memilih menggunakan banyak <em>established shot</em>, sebuah langkah jitu untuk menggambarkan plot yang memang mengalir perlahan, dan karakter-karakter murung yang teralienasi di dalamnya. Tak salah Wenders mempercayakan urusan sinematografi pada Robby Müller, partner abadinya. Dengan cerdik, Müller memilih warna-warna merah dan hijau mendominasi layar, menghadirkan nuansa tersendiri pada lanskap kota yang muram dalam kadar yang aneh. Suasana ngelangut, tenang dan sepi, juga merayapi penonton ketika warna coklat kusam padang bebatuan dikontraskan dengan warna langit yang biru cerah. Dan sosok Travis tampak kecil nun jauh di tengah sana: begitu rentan, bersedih dalam porsi yang susah dijelaskan. Perhatikan juga adegan ketika Travis berpindah tempat, dari padang gersang Texas menuju kota Los Angeles, lalu ke Houston. Meski dipenuhi billboard dan cahaya neon warna-warni, pemandangan kedua kota modern itu tetap tampak kosong dan sunyi, tak jauh berbeda dengan gurun-gurun gersang berwarna kusam tadi. Musik latar yang digarap Ry Cooder pun mengalun syahdu, terasa sangat lebur menyatu. Teknik <em>slide-guitar</em> Cooder yang menyayat-nyayat, meneriakkan nada-nada kesepian—tema paling tua musik blues—makin menegaskan kehampaan dan kegundahan Travis.</p>
<p>Kisah seputar kehilangan dan pencarian, jika tidak ditangani secara tepat, berpotensi jatuh menjadi cerita yang luar biasa klise. Wenders tahu betul cara menghindarkannya: ketimbang cerewet dengan kata-kata, dia lebih banyak &#8216;berbicara&#8217; melalui bahasa gambar yang kuat dan menghipnotis. Sam Shepard, penulis skenario berkebangsaan Amerika, berhasil menciptakan dialog-dialog natural dan simpel, yang justru mengiris dalam kadar yang tepat. Kata-kata yang dia tulis untuk setiap karakter sangat jauh dari bumbu-bumbu kesedihan yang berlebihan. Namun kesederhanaan itulah yang kemudian membuat narasi film ini terasa menggetarkan. Semuanya dituturkan dalam nada rendah, tanpa tanda seru. Ketika Hunter &#8216;memamerkan&#8217; pengetahuannya pada sang ayah tentang proses terjadinya alam semesta dan terbentuknya bintang-bintang, tiba-tiba terlontar satu pertanyaan polos dan sederhana, &#8220;Ayah, kenapa ibu meninggalkan kita?&#8221; Travis pun termangu: baginya, pertanyaan itu jelas butuh jawaban yang tidak sederhana. Sama tidak sederhananya dengan rasa kehilangan itu sendiri.</p>
<p>Selalu ada sesuatu yang sentimentil dalam meratapi dan mencari kembali masa lampau yang hilang. Keraguan kerap singgah di tengah upaya pencarian itu. Tergambar jelas pada satu adegan paling krusial di film ini: saat mendapati Jane, berbaju merah menyala, kini berprofesi sebagai wanita penghibur di balik kaca cermin satu arah dan bilik telepon yang sempit, Travis berusaha tegar. Toh dia tak kuasa menatap istrinya sendiri, bahkan dari balik kaca sekalipun, dan dia pun memilih posisi membelakangi ketika harus berbagi cerita tentang masa lalu, termasuk membuat pengakuan siapa dirinya. Air mata tumpah. Ada kerapuhan yang tersamar, ada kebimbangan menyelinap diam-diam. Kaca tersebut seolah menegaskan adanya batas tak terelakkan: antara dua orang yang dulu pernah sangat dekat; antara masa lalu dan masa sekarang. Melalui salah satu adegan monolog paling penting sepanjang sejarah sinema dunia ini, penonton seperti ditunjukkan betapa manusia memang sering terombang-ambing antara keinginan meninggalkan suatu tempat dan rasa rindu untuk kembali.</p>
<p>Di penghujung cerita, Travis menyaksikan dari kejauhan, anaknya bertemu dan berpelukan dengan sang ibu. Dengan perasaan yang sulit diterjemahkan, Travis pun beranjak pergi. Adakah dia kembali melanjutkan perjalanan, mencari sesuatu yang belum pasti dia dapati? Kita tidak tahu. Pada akhirnya, di setiap kehilangan yang terjadi, selalu ada yang tidak seutuhnya kembali. Seperti halnya rasa kehilangan itu sendiri, film <em>Paris, Texas</em> ini pun abadi. [<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><strong><em>Paris, Texas</em></strong><br />
Wim Wenders, France/West Germany, 1984. Color, 147 min, DVD.</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
Lagu favorit saya di <em>OST Paris, Texas</em>: <span id="filelistingtab1" style="display: block;"><span id="filelisting5"> </span></span><a href=" http://www.mediafire.com/?idkzkthmwlk"><strong>Ry Cooder feat. Harry Dean Stanton &#8211; Cancion Mixteca</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/ingatan-dan-rasa-kehilangan-yang-abadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Music: A Very Short Introduction</title>
		<link>http://budiwarsito.net/music-a-very-short-introduction/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/music-a-very-short-introduction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Oct 2006 03:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[. Ketika diwawancarai sebuah majalah musik, Elvis Costello pernah mengatakan, &#8220;Writing about music is like dancing about architecture.&#8221; Lebih jauh lagi, &#8220;It&#8217;s a really stupid thing to want to do.&#8221; Satu pernyataan menohok dan pesimistis. Tapi pada kenyataannya, buku-buku tentang musik akan tetap ditulis dan diburu orang. Benarkah menulis tentang musik itu hal yang bodoh? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-322" title="music" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2006/10/music2.JPG" alt="music" width="204" height="202" />Ketika diwawancarai sebuah majalah musik, Elvis Costello pernah mengatakan, &#8220;<em>Writing about music is like dancing about architecture</em>.&#8221; Lebih jauh lagi, &#8220;<em>It&#8217;s a really stupid thing to want to do</em>.&#8221; Satu pernyataan menohok dan pesimistis. Tapi pada kenyataannya, buku-buku tentang musik akan tetap ditulis dan diburu orang. Benarkah menulis tentang musik itu hal yang bodoh?<span id="more-138"></span></p>
<p>Nicholas Cook, seorang profesor musik dari University of Southampton, Inggris, bisa jadi tidak sepakat. Meski pendapat Costello itu dia sertakan di kata pengantar <em>Music: A Very Short Introduction</em>, buku-tipis-padat-berisi yang ditulis Cook ini justru menunjukkan betapa menulis musik bisa jadi sesuatu yang serius, intens, dan mencengangkan. Buku ini memang berbau akademis, namun relatif santai. Dengan merujuk di sana-sini pemikiran dari beberapa filsuf (Wittgenstein, Adorno, dsb), buku ini membahas Musik (dengan &#8220;M&#8221; besar) dan kaitannya dalam kompleksitas dunia yang semakin tua ini. Bab pertama dibuka dengan kalimat menggebrak &#8220;<em>I want to be… a musician</em>.&#8221; Tapi jangan harap menemukan kiat-kiat praktis menjadi musisi. Yang ada justru sebaliknya: mempertanyakan, apa sebenarnya &#8220;musisi&#8221; itu?</p>
<p>Dengan pisau analisis yang tajam dan selera humor yang bagus, Cook menari-nari di padang musik yang cukup luas: mulai dari pembahasan <em>The Ninth Symphony</em>-nya Beethoven yang abadi, awal terbentuknya Spice Girls dari sebuah iklan audisi, hingga notasi pada instrumen tradisional Cina. Kita juga diajak berpikir ulang tentang wacana gender dalam musik (&#8220;<em>A woman&#8217;s place is in the kitchen, not in the symphony orchestra</em>&#8230;&#8221;), seberapa besar peran dunia akademik dalam perkembangan musik (&#8220;<em>What the hell is musicology</em>?&#8221;), dan hal-hal menarik lainnya.</p>
<p>Kalau kepala kamu sering dipenuhi pertanyaan: kenapa penggemar Radja sama banyaknya dengan pembencinya; kenapa The Mars Volta mendapat tempat terhormat di kalangan kritikus musik; dan kenapa Slamet Abdul Sjukur tetap setia di jalur musik kontemporer; mungkin buku ini bisa membantu kamu ke arah jalan yang terang. [<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p><em><strong>Music: A Very Short Introduction</strong></em><br />
Nicholas Cook, Oxford University Press, 2000, 144 pages.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/music-a-very-short-introduction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bahwa seteru abadi tak pernah mati.</title>
		<link>http://budiwarsito.net/bahwa-seteru-abadi-tak-pernah-mati/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/bahwa-seteru-abadi-tak-pernah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jun 2006 13:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.&#8221; —Adorable &#8220;Homeboy&#8221; pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/05/vs..jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-528" title="vs.!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/05/vs..jpg" alt="" width="272" height="448" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>&#8220;<em>I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.</em>&#8221;<br />
—<strong><a href="http://www.mediafire.com/?n5unzeihwye" target="_blank">Adorable &#8220;Homeboy</a></strong>&#8221;</p>
<p>pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa di dunia, kata-kata terakhir dengan senyum sinis yang dilatih ratusan kali di depan kaca, juga segenap detil lainnya dengan pengaruh film-film detektif murahan di sana-sini. namun seperti kisah-kisah klise di buku dongeng, ternyata gelas kita tertukar: tanpa sadar aku menenggak racunku sendiri. (ah, &#8216;ternyata&#8217;—bukankah itu kata sialan yang sudah lama berusaha kita hapus dari kamus?)<span id="more-527"></span></p>
<p>betapa usangnya. tapi juga betapa perihnya: wahai siapapun yang merasa jenius sudah menciptakan istilah &#8216;senjata makan tuan&#8217;, silakan berbangga, bung. pagi itu pula, aku kemudian menggelepar meregang nyawa, mati konyol dan sia-sia. leherku melepuh, dan perutku terbakar dengan indah (sia-sia saja berusaha mengutuk), sementara parasmu tampak memucat dengan kecemasan yang putih dan tulus. adakah kau khawatir? keringat sisa bercinta semalam memantulkan cahaya keperakan di pipimu yang cekung, lalu semuanya memburam: selamat tinggal.</p>
<blockquote><p><em>jika dada rasa hampa,<br />
dan jam dinding yang berdetak.</em></p></blockquote>
<p>bahkan kita dulu pernah foto bersama. masa muda yang gelap? lihat, kau tampak limbung mengacungkan sebotol bir, menggumamkan sebaris puisi chairil anwar, atau toto sudarto bachtiar, atau siapapun tentang segala hal yang heroik, dan kembali meracau tentang karya-karya ginsberg. astaga, alangkah noraknya. sementara aku berdiri tolol dengan pupur tebal yang tak kalah noraknya, memakai topi rombeng yang bolong-bolong dimakan ngengat, juga asap tembakau yang mengepul samar dengan aroma daun surga, dan kata-kata mutiara sialan betapa dunia adalah panggung sandiwara. mungkin kita hanya terlalu serius menyiasati kedunguan masing-masing. bukankah kuil tempat kita rajin berdoa hanyalah bioskop tua dengan sejuta sarang laba-laba, dan yang tersisa adalah chaplin atau keaton atau lloyd yang tak bosan-bosannya berjumpalitan menuai tawa yang tak pernah ada? kita hanya meringis tipis, sebab belati sedang menancap di masing-masing perut, merobek lambung dan membanting harapan, sementara sidik jari kita jelas-jelas bertebaran, saling bersilangan dan berseberangan. tiba-tiba segalanya serupa nafas terakhir kita yang tersengal-sengal: keteraturan tak lagi menarik. jari kita basah meraba luka, rembes, dan genangan merahnya terlalu becek, namun senyum kuyu tetap berusaha dipaksakan—begitu senyap, dan redup mata bertahan menatap layar: kenapa kita selalu berusaha saling membunuh?</p>
<blockquote><p><em>tiba-tiba kau ingat maut dan bertanya<br />
adakah taman puspa di atas sana.</em></p></blockquote>
<p>dan aku hanya bisa tertawa. gara-gara kita, bioskop tua itu lalu ditutup selamanya, dengan berita kecil di koran lokal. kini, dari nisan tua yang makin jarang kau ziarahi: serupa hantu gentayangan yang terus mencoba, aku kembali turun ke bumi, dan bersumpah akan terus mengusikmu. dan bersikeras membunuhmu. lalu pertarungan bisa kita lanjutkan di alam baka. jika hari perhitungan dinyatakan tertunda, jika tuhan terlalu sibuk dengan angka-angka, jika surga-neraka tak pernah ada.</p>
<p>lalu kita berdua menulisi buku harian masing-masing dengan tinta darah: &#8220;<em>do you know how to make god laugh? MAKE A PLAN</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/bahwa-seteru-abadi-tak-pernah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Carpe Diem, Ernold Same!</title>
		<link>http://budiwarsito.net/carpe-diem-ernold-same/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/carpe-diem-ernold-same/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2005 04:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[. Pada tahun 1996, Blur menulis lagu &#8220;Ernold Same&#8221;, sebuah perlambang yang bagus tentang rutinitas. Dilantunkan dengan ekspresi datar, demikian bunyi liriknya: &#8220;Ernold Same awoke from the same dream, in the same bed, at the same time, looked in the same mirror, made the same frown, and felt the same way as he did everyday.&#8220; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-338" title="routine!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2005/12/routine.jpg" alt="routine!" width="185" height="194" />Pada tahun 1996, Blur menulis lagu &#8220;Ernold Same&#8221;, sebuah perlambang yang bagus tentang rutinitas. Dilantunkan dengan ekspresi datar, demikian bunyi liriknya: &#8220;<em>Ernold Same awoke from the same dream, in the same bed, at the same time, looked in the same mirror, made the same frown, and felt the same way as he did everyday.</em>&#8220;<span id="more-149"></span></p>
<p>Ya, benar. Mereka memang bicara soal rutinitas, alias hal yang sama dan berlangsung terus-menerus. Adakah kita termasuk golongan si Ernold Same itu? Adakah setiap pagi kita harus terbangun karena dering jam weker (atau bunyi alarm di <em>handphone</em>) yang sama, lalu menyeret langkah ke kamar mandi di waktu yang tidak jauh berbeda, kemudian sarapan dengan menu yang itu-itu saja, sambil membaca koran yang selalu sama, dan TV yang menyala di <em>channel</em> yang tak pernah berubah? Lirik berikutnya lebih menegaskan lagi: &#8220;<em>Then Ernold Same caught the same train, at the same station, sat in the same seat, with the same nasty stain, next to same old what&#8217;s-his-name, on his way to the same place, with the same name, to do the same thing, again and again and again.</em>&#8221;</p>
<p>Lagu itu seolah menyindir kita: sekumpulan orang-orang berwajah beku, yang menjalani hari-hari yang ajeg dan luar biasa membosankan. Tiap hari kita berangkat ke tempat yang sama (kerja, sekolah, atau apapun) dengan rute dan ritual yang sama: menyetir kendaraan pribadi dengan pemandangan serupa tiap kali kita melongok ke luar jendela; atau menunggu bus yang sama di halte yang sama, berdesak-desakan dengan penumpang sama antara kemarin, hari ini, dan esok. Senin tak jauh berbeda dengan Selasa dan Rabu dan Kamis dan Jumat.</p>
<p>Hidup kadang terasa membosankan, dan tentu saja itu wajar. Yang mungkin tidak wajar adalah jika kita mau-mau saja terus-terusan tenggelam di dalamnya, menjadikan sesuatu yang sudah mulai kehilangan makna menjadi semakin tak bermakna. Pernahkah terlintas di benak kita untuk merayakan kehidupan, dan bukan merayakan kebosanan?</p>
<p>Barangkali film <em>Dead Poets Society</em> (Peter Weir, 1989) bisa menunjukkan contoh bagus tentang hal itu. Seorang murid sekolah persiapan bernama Todd (diperankan dengan sempurna oleh Ethan Hawke yang masih belia) mendapati sekolahnya sebagai sesuatu yang dingin dan kaku. Guru-guru yang keras, sistem belajar yang kuno, peraturan ketat, kamar-kamar asrama yang sempit, dan menu sarapan yang nyaris tak pernah berganti dari hari ke hari. Dan semuanya harus dijalani tanpa hak untuk bertanya. Jadilah Todd dan kawan-kawan sekelasnya &#8220;sekumpulan Ernold Same&#8221; yang hampa, bagai robot-robot tak berjiwa.</p>
<p>Mereka akhirnya mencicipi makna kehidupan yang sesungguhnya dari seorang guru baru bahasa Inggris yang kemudian menjadi favorit mereka, John Keating (Robin Williams). Seisi kelas tercerahkan oleh sihir baru bernama &#8216;puisi&#8217;. Disampaikan Pak Keating dengan mendobrak cara konvensial yang biasa-biasa saja, puisi lalu disulap menjadi sebuah élan yang menumbuhkan. Kelas yang semula dingin mendadak riuh rendah membahas karya Byron, Frost, dan apa saja. Anak-anak muda itu segera menghambur ke alam imajinasi dan kebebasan. Semua dipersilakan berekspresi, semua dibebaskan bereksplorasi; termasuk menulis sebaris puisi pendek yang mungkin terdengar tolol: <em>a cat sat on a mat</em>. Pak Keating yang nyentrik itu—berselera humor bagus dan bisa dipanggil &#8220;O Captain! My Captain!&#8221;, dari judul puisi Whitman—bahkan menyuruh para siswanya berdiri naik ke atas meja, untuk &#8220;memandang hidup dari perspektif yang berbeda.&#8221; Atau dalam kata-kata Thoreau, &#8220;<em>The universe is wider than our views of it.</em>&#8221;</p>
<p>Ada benang merah yang menghubungkan film <em>Dead Poets Society</em> dan lagu &#8220;Ernold Same&#8221;: keduanya seperti hendak bercerita betapa rutinitas mesti diterobos dengan kebaruan. Hanya dengan sebuah penciptaan dan eksplorasi tiada henti, barulah kita bisa mendobrak kebekuan. Dan tentunya ini butuh keberanian. Persis seperti baris-baris puisi Chairil Anwar: &#8220;Aku suka pada mereka yang berani hidup, aku suka pada mereka yang masuk menemu malam.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Jika merasa hidup ini membosankan, coba tonton film <em>Dead Poets Society</em>, dan jangan ketiduran. Ajaklah Ernold Same, kepalkan tangan ke udara, dan berteriaklah bersama-sama: <em>Carpe diem</em>! <em>Seize the day</em>!</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Yuki Tamaen/Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?mwheyz1qjix" target="_blank"><strong>Blur &#8211; Ernold Same</strong></a></p>
<p style="text-align: left;"><span>Gambar ilustrasi dicomot dari <a href="http://constanthing.blogspot.com/2008/08/routine.html" target="_blank"><strong>sini</strong></a>.</span></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><span><br />
</span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/carpe-diem-ernold-same/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

