<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net &#187; Musik</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/category/musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Apr 2012 22:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mari Funk, Rebut Kembali?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 06:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1161</guid>
		<description><![CDATA[. Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_2.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1167" title="70sOC!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_2.jpg" alt="" width="429" height="304" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya (dan mungkin juga Anda) sekilas bakal terkecoh mengiranya sebagai Dian Pramana Poetra dalam versi yang tertukar; lebih muda, langsing, sedikit canggung dan peragu. Tapi memang selalu begitu: Anto akan tetap berdiri mematung tepat di depan pintu, seperti ragu-ragu harus menyapa dulu atau lebih baik menunggu, hingga akhirnya saya benar-benar menoleh dan melambaikan tangan; dan dia pun nyengir, senyumnya setipis kumisnya.</p>
<p>Akhir-akhir ini saya mulai sering membicarakan musik funk bersamanya, membahas film-film <em>blaxploitation</em>, menghadiahi <em>laserdisc</em> konser Gil Scott-Heron (salah satu pahlawan musik terbesarnya) di hari ulang tahunnya, tapi minat Anto Arief terhadap genre musik itu rasanya sudah diketahui banyak orang. <span id="more-1161"></span>Ketika 70’s Orgasm Club, trio rock-blues-funk yang digawanginya belakangan mulai jarang naik panggung komplet bertiga (hanya Tuhan yang tahu kenapa rencana rilis album perdana mereka selalu tertunda-tunda), Anto masih saja ngotot tampil di beberapa gigs kecil, cuek sendirian menenteng gitar kopong, jika dia merasa perlu maka barulah hadir pemain saksofon cabutan-entah-dari-mana, menemaninya menaklukkan mikrofon dan kualitas <em>soundsystem</em> dari panitia yang, apa boleh buat, seringkali seadanya.</p>
<p>Kegigihannya patut diacungi jempol. Penontonnya kadang bisa dihitung dengan jari (lagipula apa yang bisa diharapkan dari acara <em>workshop</em> yang membosankan?), namun di saat lain dengan santainya dia membuka konser tunggal Koil di hadapan ratusan penonton berbaju hitam-hitam di satu panggung besar. Dari sekadar genjreng-genjreng akustikan tiap Sabtu pagi di taman lansia di Bandung (setelah malamnya bikin open <em>mic rutin</em> di sebuah kafe), atau <em>jam session</em> dadakan di sebuah bazaar komunitas seni di Jakarta (melibatkan permainan terompet); menjadi <em>additional player</em> di band pengiring penyanyi Tulus yang sedang naik daun (selain bermain gitar dan ikut tur, Anto juga mencipta lagu di rekaman itu), hingga yang terakhir saya lewatkan—untung ada YouTube!—yaitu menyumbangkan permainan gitar singkat, monoton, tapi anehnya justru menggetarkan, untuk mengiringi penampilan langka Morgue Vanguard a.k.a. Ucok &#8216;Homicide&#8217; di penutupan pameran mengenang seorang seniman Bandung yang mati muda.</p>
<p>Meski tampil dengan mengenakan topi yang berbeda-beda di setiap penampilannya (fedora, <em>trilby</em>, <em>flat cap</em>, Anda tinggal sebut jenisnya), tapi ada racauan khas Anto yang nyaris selalu sama saat berusaha menguasai corong pengeras suara, yakni: &#8220;<em>Cinta, cinta, cinta!</em>&#8221; Nada pelafalannya susah digambarkan lewat tulisan, tapi beberapa dari Anda pasti sudah pernah mendengarnya. Sambil meringis tiap kali mendengarnya, saya selalu bertanya-tanya dalam hati, apakah saya sendirian di planet ini yang penasaran, kenapa dari jutaan kosakata lainnya di kamus, selalu itu-itu lagi yang dipilihnya? Mungkin sekarang momen yang tepat untuk bertanya. Dan yang paling penting, menyelidiki apa sebenarnya isi kepala Antruefunk di balik topinya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Anto Arief, kini 33 tahun, sudah lupa apa nama band pertamanya ketika masih duduk di bangku SMP, awal ’90-an di Jakarta. Yang masih jelas terekam di ingatannya, di situ dia bermain gitar membawakan repertoar Nirvana (tumbuh remaja di kala grunge deras melanda dunia, mau apa lagi?), dan seolah itu belum cukup: dia menorehkan nama &#8216;Kurt Cobain&#8217; di bodi gitar akustik merk Yamaha pertamanya. &#8220;Ada tren di sekolah gue waktu itu, semua cowok kelas 2 SMP harus bisa main gitar. Banyak yang tiba-tiba bisa (atau terpaksa harus bisa) main gitar karena tuntutan pergaulan,&#8221; senyum Anto lebih mirip seseorang sedang mengenang cinta monyetnya. Bukannya terpaksa, dia malah kepincut. Tapi cinta pertamanya tentang musik—atau bahkan cinta abadinya—saya rasa bukan pada grunge, bukan juga pada Kurt Cobain, melainkan pada gitar. Bertahun-tahun kemudian, Acong a.k.a. Sir Dandy memuja Anto sebagai &#8220;dewa gitar&#8221; di dua lagu spontan ciptaannya &#8220;Ode to Antruefunk Part I &amp; II&#8221;, menyebutnya mahaguru yang dimintanya mengajari &#8220;jurus kunci gitarmu&#8221;, dicampur mitos asal-asalan soal Mus Mujiono di YouTube. Kita tahu itu cuma bisa-bisanya Acong, tapi saya yakin banyak orang termakan bualan itu.</p>
<p>Senjata elektrik pertamanya, gitar Fender Mustang, memang Anto beli gara-gara Kurt Cobain juga memakai jenis itu, tapi ada alasan lain yang lebih spesifik: bentuk bodinya dia anggap agak berbeda saat itu. &#8220;Meski ternyata kualitasnya jelek. Mungkin karena gue belinya Fender yang kelas pelajar!&#8221; Kali ini gelak tawanya lebih terdengar seperti pemakluman bijak nan dewasa, tapi sekali lagi, masih atas nama cinta. Ketika demam grunge menyurut, Anto menghabiskan masa SMA ketika scene musik bawah tanah di Jakarta sedang didera demam Britpop, atau istilah bekennya waktu itu: indies. Anto ingat betul pengalaman joget keramas dan <em>crowd surfing</em> pertamanya di Poster Cafe. Di masa-masa indies itulah band-nya di SMA getol membawakan lagu-lagu Oasis, posisi dia tetap pada gitar, mungkin sambil sesekali membayangkan dirinya Noel Gallagher.</p>
<p>Batal masuk Institut Kesenian Jakarta, Anto hijrah ke Bandung tahun 1997 dan memilih kuliah desain di FSRD Itenas. Seolah tak mau buang waktu lebih lama lagi, dia menerima tawaran bergabung sebagai gitaris di band indies bernama Shelley, spesialis lagu-lagu Shed Seven. (Lucunya, baru belasan tahun kemudian Shed Seven akhirnya manggung di Bandung, dan saya berani bertaruh: di konser itu Anto pasti berada di barisan terdepan penonton, khusyuk <em>sing along</em> demi menjadi haji yang mabrur.) Anto lalu bergabung dengan The Bride, band lokal yang cukup fenomenal waktu itu, bentukan orang-orang Balubur Stone Complex yang gemar membawakan The Stone Roses era <em>Second Coming</em> dan Primal Scream. Cintanya pada gitar semakin menggebu-gebu: di situlah dia mulai dijuluki Anto Melody, lantaran kebiasaannya menyisipkan permainan melodi gitar berpanjang-panjang ngawur di tiap performa, duel maut dengan gitaris tandem-nya, sesuatu yang jarang dilakukan band-band indies saat itu. &#8220;Bersenang-senang banget deh pokoknya. <em>Skill</em> bodor-bodoran gitu. Dari situ gue mulai tertarik ngulik blues dan psychedelic.&#8221;</p>
<p>Jika cinta kemudian harus membawamu melangkah lebih jauh, maka itulah yang terjadi. Anto merasa butuh ruang ekspresi yang lebih luas, ketika menyadari minat musikalnya lebih pada &#8220;semua yang nge-<em>groove</em>.&#8221; Karena tak tahu bagaimana caranya ngomong langsung, akhirnya Anto memutuskan menulis surat resmi permohonan resign dari The Bride (yang justru ditertawakan para personel lainnya—saya kira-kira bisa mengerti kenapa: beberapa orang memang terlahir dengan pembawaan lebih serius ketimbang orang-orang lainnya). Setelah keluar dari band lamanya, Anto pun mantap membulatkan tekad, serius bikin band baru yang lebih mewadahi cinta terbesarnya yang bertahan hingga kini: funk rock, yang terinspirasi musik funk/soul klasik.</p>
<p>&#8220;Dari awal, sambil mencari-cari pemain bass dan drum yang cocok, di kepala gue sudah ada kandidat nama band.&#8221; Sejak pertama kali berkenalan dengan Rio Novtriansyah dan Endi Sutendi sekitar tahun 2004, mereka langsung nyambung. Anto Arief pun segera menyodorkan calon nama itu: 70’s Orgasm Club. Gayung bersambut, Endi dan Rio langsung tertarik bergabung gara-gara nama unik itu, yang sebenarnya dicomot begitu saja dari judul lagu &#8220;Orgasm Club&#8221; milik Corduroy, band acid jazz asal London yang sedang digandrungi Anto. Sementara penambahan kata 70’s di depannya, semata-mata lantaran &#8220;Gue demen banget musik funk ’70-an!&#8221; Rio sendiri menggilai The Jackson 5 dan Ben Folds Five, dan setuju untuk bermain bass. Sementara pada aksi drum, Endi menggemari beat-beat reggae ’70-an. Selain lagu-lagu Corduroy, frontman Anto langsung mencekoki dua teman barunya itu dengan Marvin Gaye, Jimi Hendrix, dan tentu saja, semua katalog funk kesukaannya. Sama-sama penggemar genre film detektif ’70-an dan juga <em>Star Wars</em>, mereka lantas membayangkan ‘70s Orgasm Club sebagai satu film dimana mereka bertiga memerankan karakter tetap di dalamnya. Muncul ide konyol seru-seruan, bikin nama panggung untuk tiap karakter: Anto adalah Antruefunk, Rio sebagai Roy Jefferson, dan Endi disebut Endy Echo.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_casts.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1168" title="70sOC_casts" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_casts.jpg" alt="" width="420" height="280" /></a></p>
<p>Mereka mulai rajin latihan dan menulis lagu sendiri. Menurut Endi dan Rio, prosesnya sesimpel &#8220;Anto selalu datang dengan ide lagu-lagu yang dia tulis di kamarnya, lalu kami berdua siap merusaknya!&#8221; Tawaran manggung dari manapun mereka sikat. Mulai dari pensi di sekolah-sekolah, acara <em>tribute to</em> Benyamin S., ulang tahun stasiun radio, peluncuran seri terbaru ponsel, acara <em>Superbad!</em> edisi awal-awal, mengambil risiko tampil di panggung Bakar-bakaran IKJ yang audiens-nya terkenal kritis dan brutal, hingga membuka konser The S.I.G.I.T. tahun 2006—yang bagi Anto cukup membanggakan, karena menurutnya, &#8220;Rekti dkk jelas band rock ‘n’ roll terbaik nasional saat ini.&#8221;</p>
<p>Nama 70’s Orgasm Club mulai terangkat ke permukaan ketika mereka menjadi finalis di L.A. Lights Indie Fest tahun 2007. Satu lagu mereka masuk di album kompilasi pertama <em>event</em> kompetisi tahunan itu. Mereka sempat tampil <em>live</em> untuk pertama kalinya (sekaligus yang terakhir) di sebuah stasiun televisi swasta nasional, dimana mereka dipaksa <em>lip-sync</em>, dan akhirnya mereka malah memilih bersenang-senang dengan sengaja tidak melakukannya secara benar.</p>
<p>Layaknya impian anak band pada umumnya, harus ada rilisan fisik. Lagu-lagu 70’s Orgasm Club sebenarnya sudah cukup untuk materi satu album penuh, atau setidaknya mini-album. Namun yang sering terjadi adalah plot klasik di tiap cerita: manusia punya rencana, Tuhan jua yang menentukan. Selalu ada aral melintang, dan tiga sekawan itu tenggelam dengan kesibukan masing-masing: Anto Arief sempat menekuni karier menulisnya sebagai editor majalah <em>Ripple</em> (rubrik tetap dia di antaranya: komik konyol dan horoskop seru), juga beberapa penerbitan lainnya sambil menjadi seniman paruh waktu; sementara Rio dan Endi mulai berkeluarga, menikah dan bekerja di bidang non-musik. Sempat ada kawan baik yang bersedia menalangi semua biaya produksi album perdana yang terkatung-katung lama itu, namun entah hujan angin macam apa yang kemudian merontokkan segala niat mulia itu.</p>
<p>Petuah &#8220;semua bakal indah pada waktunya&#8221; mungkin terdengar klise. Anto dkk pasti sudah bosan mendengarnya, atau malah mereka sendiri yang terus menerus melafalkannya di dalam hati? Tapi percayalah, klise adalah hal-hal yang justru sudah teruji kebenarannya. Dan kabar gembira yang dinanti-nanti itu akhirnya hinggap juga di meja saya: setelah diundur bertahun-tahun, akhirnya rilisan fisik pertama 70’s Orgasm Club, <em>Supersonicloveisticated</em> EP resmi diluncurkan akhir April 2012 ini. Ironisnya, ini sekaligus album perpisahan Anto dengan dua personel lainnya. Setelah itu mereka sepakat untuk jalan sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Barangkali saya punya antusiasme agak berlebihan dalam menyelidiki lirik-lirik sebuah album. Karena itu saya segera meminta Anto mengirim lirik lengkap EP ini via <em>e-mail</em>, karena dialah yang bertanggung jawab penuh di departemen lirik. Setelah di-<em>print</em> dan saya pelajari dengan seksama sambil menyetel keras-keras materi lagunya (total ada 5 <em>track</em>), saya merasa apa yang saya lakukan kali ini percuma. Ternyata Anto tak berbicara banyak lewat lirik-liriknya, yang kebetulan memang irit kata-kata dari awal hingga ujung. Mengaku terpengaruh Jarvis Cocker dalam penulisan lirik, toh kenakalan khas Pulp yang suka <em>nyerempet-nyerempet</em> hanya muncul secuil di &#8220;Libido Schizophrenia&#8221;, &#8220;<em>Can I come to your place, maybe we could make it there?/ Throw your clothes on the floor, maybe we could get it on in your kitchen</em>.&#8221;</p>
<p>Sementara intro lagu pembukanya, &#8220;Supersonicloveisticated&#8221;—bisa jadi ini lagu paling tua di katalog mereka—terdengar seperti salah satu versi lain dari intro &#8220;Sunshine Of Your Love&#8221;-nya Cream. Ketika Anto meneriakkan kalimat &#8220;<em>&#8230;when you feel me inside, I’ve got nothing to hide&#8230;</em>&#8221; sebelum disusul suara &#8220;<em>hu-hu-hu</em>&#8221; di bagian <em>bridge</em>-nya, saya mulai berpikir jangan-jangan Anto memang tidak punya hal-hal untuk disembunyikan. Lagipula buat apa? &#8220;Sebenarnya <em>line</em> bass-nya gue ambil dari salah satu lagu Corduroy,&#8221; katanya dengan enteng dan blak-blakan, &#8220;tentunya dengan sedikit modifikasi.&#8221; Menurut Anto, lagu ini tentang kebangkitan seseorang dari keterpurukan. &#8220;<em>…you got to know everything turns yellow, you got to find the cure to heal the mellow…</em>&#8221;</p>
<p>Selain demi mengejar rima lagu, tampaknya &#8220;<em>yellow</em>&#8221; dan &#8220;<em>mellow</em>&#8221; adalah kata-kata favorit Anto, karena itu muncul lagi di akhir EP bahkan sebagai judul lagu, &#8220;Yellow Mellow&#8221;, satu-satunya lagu akustik di situ. &#8220;<em>You make me realize, you set my soul on fire</em>,&#8221; dalam petikan gitar yang tenang. Tapi seperti kata peribahasa, air tenang menghanyutkan, dan saya ingin tahu udang apa yang ada di balik batu. &#8220;Itu lebih tentang rasa bersyukur. Seringkali kita baru sadar apa yang kita punya setelah kita kehilangan, bukan?&#8221; Daripada perbincangan kami berbelok ke arah sentimentil yang tak perlu, saya lebih tertarik pada struktur lagunya yang terpengaruh komposisi akustik &#8220;For What Reason&#8221;-nya Supergroove. Band funk asal Selandia Baru itu juga salah satu pahlawan musik terbesar Anto. Mereka pernah datang ke Jakarta dan konser di M-Club, di kawasan Blok M pada tahun 1995, yang dalam istilah Anto, &#8220;Itu salah satu konser paling pecah yang pernah gue tonton!&#8221; Sementara judul &#8220;Yellow Mellow&#8221; itu malah mengingatkan saya pada lagu Donovan yang berjudul hampir sama, &#8220;Mellow Yellow&#8221; (1967), yang sempat ditengarai sebagai dukungan atas pengisapan kulit pisang sebagai alternatif legal dari mariyuana.</p>
<p>Anto sendiri bersikap netral soal drugs. Dia mengaku bisa mengerti jika orang-orang mengonsumsinya dalam batas <em>recreational drugs</em>, karena toh baginya semua itu lebih tentang pikiran. Substansi halusinogenik hanya perkara memperpanjang kesadaran hingga batas tak terhingga, dan itu soal pilihan. Anto juga menyukai musik-musik psychedelic, tapi dia lebih mempercayai <em>the power of mind</em>, termasuk konsep <em>The Secret</em>, buku motivasional yang sempat menghebohkan itu. Saya harus berhenti tertawa karena mimiknya berubah serius ketika mengaku: dia pernah mempraktikkan metode yang disarankan buku tersebut. &#8220;Gue pernah pengen banget punya satu gitar. Gue pasang gambarnya sebagai <em>screensaver</em> di <em>laptop</em>, gue <em>print</em> fotonya untuk ditempel di tembok. Bahkan gue udah sediain satu <em>stand</em> kosong di kamar gue, khusus buat gitar itu kelak. Dengan cara yang aneh, gitar itu akhirnya terbeli juga! Gimana gue nggak percaya?&#8221;</p>
<p>Mungkin itu juga yang mengilhami lirik &#8220;Peppermint Insect&#8221;, lagu <em>catchy</em> paling simpel dari 70’s Orgasm Club. &#8220;<em>Can’t get you out of my head, cause you’re always on my mind…</em>&#8221; Semuanya soal pikiran. Untuk ilustrasi sampul EP-nya, Anto memilih foto sayap kiri pesawat terbang, dengan latar belakang awan mendung separuh gelap. Lebih jeli dicermati, ada tiga &#8220;benda terbang aneh&#8221; di situ. Foto itu hasil jepretan seorang temannya, Dimas Theodora, murni tanpa rekayasa, diambil dari atas pesawat di perjalanan pulang dari Malaysia ke Indonesia. Sang teman mengaku seringkali &#8220;didatangi benda terbang aneh&#8221; di setiap foto hasil jepretannya. Anto yang juga tertarik perihal UFO, langsung antusias membuat karya seni dalam beberapa medium untuk merespon foto itu. Saya meminjamkan buku karya psikoanalis Jung berjudul <em>Flying Saucers</em> dari perpustakaan saya, yang antara lain berpendapat bahwa kesaksian seseorang yang merasa melihat penampakan UFO tak bisa dilepaskan dari kondisi psikologis yang bersangkutan. Lagi-lagi, <em>it’s all in your mind</em>. Saya yakin kekuatan pikiranlah yang membuatnya berhasil menyelesaikan total 10 karya (<em>pencil drawing</em>, foto, lukisan cat air, instalasi, dsb), dan semuanya akan muncul sebagai <em>limited edition</em> sampul EP berbeda-beda, yang hanya akan dirilis dalam bentuk CD sejumlah 100 keping saja. Lebih dari setengahnya sudah ludes dipesan melalui <em>pre-sale order</em>. Masing-masing karya itu juga akan dipamerkan dalam format medium sesungguhnya, selama 3 hari berturut-turut di eksebisi seni Anto Arief berbarengan dengan peluncuran EP 70’s Orgasm Club ini. Bahkan ditambah diskusi dengan tema “Antara Cinta, Benda Terbang Aneh, dan Psikadelia”. Seolah tak ada hari senggang di buku agendanya.</p>
<p>Bagaimana dia seorang diri bisa menjaga semangatnya untuk menjalani itu semua? Dia berbagi kiat melalui pesan pendek ke ponsel saya, &#8220;<em>Giving up is not an option for me</em>.&#8221; Sempat dibesarkan di lingkungan yang sering pesimis dan berpikir negatif, dia selalu menjaga untuk tetap ber-<em>positive thinking</em>-ria. Sebenarnya ada banyak perang batin dan pergulatan emosional yang berusaha diredam dan dipendamnya, tapi toh akun Twitter-nya justru lebih dipenuhi <em>tweet-tweet</em> optimistik memulai hari (&#8216;Gut em!&#8217; &#8216;Semangat, kaka…&#8217;), candaan jayus dalam kadar akut (&#8216;kelelawar rendah&#8217; sebagai padanan &#8216;habis batre&#8217; alias ‘<em>low-bat</em>&#8216;), hingga tebak-tebakan garing (‘Sayur apa yang buang badan?&#8217; &#8216;Lodeh!&#8217;). Selera humornya unik dan sering tak terduga. Mungkin karena itulah, di tengah segala kekacauan hari-hari ini, Anto mengajak kita tetap bertahan waras di dunia yang makin gila ini dengan naik bus cinta di lagu &#8220;Love Bus&#8221;, &#8220;<em>Leave all the hatred, sorrow far behind. We’re going on a bus of love!</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><em>Supersonicloveisticated</em> EP sejatinya adalah ajang pemanasan sebelum nantinya bakal dirilis album penuh 70’s Orgasm Club, yang juga entah kapan selesainya. Semua musik di album penuh itu sudah beres direkam, saya sempat mendengar utuh versi instrumental-nya, dengan vokal mentah Anto sebagai <em>rough guide</em>-nya. Departemen musik di calon album penuh itu memang lebih menjanjikan, sound-nya terdengar makin tebal dan lebih meyakinkan, dengan unsur soul/funk lebih kental lagi. Rio dan Endi terlibat terakhir kalinya di rekaman album setengah jadi itu, dimana <em>live show</em> ke depannya Anto bakal mencari backing band baru lagi. &#8220;Sebenarnya untuk rekaman album penuh itu gue tinggal <em>take vocal</em> doang. Tapi gue masih merasa perlu belajar nyanyi.&#8221; Anto tersenyum <em>legowo</em> mengakui kekurangannya. Suaranya memang masih tipis dan kadang fals di beberapa kesempatan, dan dia bukannya tidak menyadari itu. &#8220;Sekarang gue latihan nyanyi terus tiap habis bangun pagi. Pernah sampai les vokal segala di seorang <em>vocal coach</em> ternama di Jakarta. Tapi cuma bentar, karena ternyata mahal banget dan duit gue nggak cukup.&#8221;</p>
<p>Apapun itu, saya menghargai kejujurannya. Saya sudah memesan 2 buah CD <em>Supersonicloveisticated E</em>P jauh-jauh hari, dengan edisi sampul yang berbeda, tentunya. Satu untuk koleksi pribadi, satu lagi sebagai arsip perpustakaan yang saya kelola untuk publik. Ya, khalayak harus bisa mengakses dokumentasi terbatas yang sudah pasti bakal segera <em>out of print</em> ini. Entah kenapa, saya yakin ketulusan seorang Anto Arief itu (dalam banyak hal, itu lantas bersinonim dengan kegigihan) yang bakal membawanya ke satu titik yang lebih terang. Termasuk kejujurannya menantang diri sendiri di garis perbatasan: setelah ini, apakah dia akan menyeberang, atau tetap tinggal diam di tempat dia sekarang? Pasca konser perpisahan Antruefunk dengan Roy Jefferson dan Endy Echo di peluncuran <em>Supersonicloveisticated EP</em> ini, akankah Anto Arief tetap bersikeras mengibarkan bendera funk? Tidakkah dia tergoda mencoba petualangan lain? Ketika mendengar salah satu impian musikalnya adalah meng-<em>cover</em> penuh album legendaris Koes Plus <em>Dheg Dheg Plas</em> (1969)—itu album lokal favoritnya sepanjang masa dan piringan hitam koleksinya telah sah ditandatangani langsung oleh Yon Koeswoyo sendiri—saya tak bisa berkata apa-apa selain berjanji akan mendukung sepenuhnya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.</p>
<p>Mungkin suatu hari nanti, dia tiba-tiba muncul lagi di kantor saya, berdiri di depan pintu, semoga kali ini tanpa ragu-ragu. Apakah dia mantap merebut kembali funk, atau justru sebaliknya, tulus ikhlas melepasnya (karena bukankah &#8220;<em>to love is to let go</em>&#8220;), atau apapun itu yang memang sudah seharusnya? Mungkin terdengar klise, tapi justru di situ serunya. Saya akan tunggu kelanjutan kisah ini.</p>
<p style="text-align: right;">Bandung, Maret-April 2012</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pemilik dan pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Sial jang Menemukan Saxofon</title>
		<link>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 05:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[. Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang tren saksofon di kancah musik populer 2011, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah Intisari no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Adolphe-Sax-di-Intisari-52-Nopember-1967.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1101" title="Adolphe Sax di Intisari 52, Nopember 1967" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Adolphe-Sax-di-Intisari-52-Nopember-1967.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang <a href="http://madahbakti.blogspot.com/2011/12/2011-tahun-saxophone.html" target="_blank"><strong>tren saksofon di kancah musik populer 2011</strong></a>, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah <em>Intisari</em> no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa haru. Penuh semangat saya mengetiknya ulang&#8212;secara manual, bukan memindainya dengan perangkat lunak tertentu&#8212;untuk di-<em>post</em> di sini. Saya sengaja mempertahankan ejaan lamanya. Eh, maksud saya: Saja sengadja mempertahankan edjaan lamanja. Selamat membatja.<span id="more-1000"></span></p>
<h1 style="text-align: center;"><strong><span style="font-family: times new roman;">ORANG SIAL JANG MENEMUKAN SAXOFON</span></strong></h1>
<p><span style="font-family: times new roman; font-size: small;">— DJUARA DALAM MENDAPAT KETJELAKAAN<br />
— TUSUKAN PENITI JG MENENTUKAN<br />
— KLARINET KAJU DAN EMAS BEDAKAH SUARANJA?</span></p>
<p>Seorang kritikus musik bangsa Perantjis sedang ngobrol dengan kawan2nja tentang Adolphe Sax, penemu Saxofon. Mereka menjebutkan kemalangan2 jang menimpa orang itu sedjak ketjil sampai usia 30 tahun. Tetapi kritikus itu pada achirnja memberi komentar: “Kalian lupa akan ketjelakaannja jang terbesar !” Semua kawan2 memandangnja dengan mata bertanja. “Jaitu bahwa ia pernah menemukan alat musik itu”. Memang sampai achir hidupnja Sax banjak menderita karena penemuannja itu.</p>
<p><strong>Ramalan jang suram</strong><br />
Satu tahun sebelum pertempuran Waterloo (1815) lahirlah Adolph Sax dikota Dinant, jang terletak dipinggir sungai Maas di Belgi… Ajahnja seorang tukang membuat alat2 musik membuka bengkel di Brussel. Alat2 musiknja tjukup terkenal disana. Dari ajahnja itulah Adolphe mendapat keahlian membuat instrumen dan djuga pengetahuan jang mendalam tentang musik.</p>
<p>Ibunja kerapkali berkata : “Adolphe tidak akan hidup lama”. Utjapan itu bisa dimengerti kalau orang mengingat betapa hidup Adolphe penuh dengan kemalangan. Ketika hampir berumur 2 tahun, Adolphe menggelinding djatuh dari tingkat tiga lewat tangga dan kepalanja membentur batu. Tidak lama kemudian ia sudah tjukup kuat untuk menelan sebuah peniti, dan duduk diatas tungku sehingga lambungnja terbakar setjara mengerikan.</p>
<p>Pengalaman jang pahit ini tidak mampu mengekang anak jang bandel itu untuk selalu mentjoba2. Ketika ia berumur 3 tahun Adolphe minum asam belerang timah sari jang dikiranja susu. Hanja dengan disuapi banjak minjak, ususnja berhasil dibasuh dari ratjun jang berbahaja itu. Tetapi setelah sembuh ketjelakaan lain menerkamnja lagi. Ia main2 dengan mesiu bedil dan terluka karena terbakar. Kemudian ia berulang2 kena ratjun, seperti ratjun timah, kuningan dan warangan.</p>
<p>Suatu hari orang mengeringkan medja-kursi jang baru sadja dipernis dalam kamar Adolphe. Ketika ia tidur barang2 itu lupa dikeluarkan, sehingga paginja anak jang malang itu kedapatan lemas dirandjangnja kehabisan napas. Segalanja itu seolah-olah belum tjukup menjiksa hidup jang masih muda itu. Suatu hari sebuah batu djatuh dari atap tepat pada kepalanja, sehingga seumur hidupnja Adolphe menderita tjatjat karenanja, meski pikirannja jang gesit tak sedikitpun terpengaruh. Kemudian ketika bermain dengan teman2 ia djatuh kesungai dan tentu tertelan pusaran pintu air seandainja pada saat terachir tidak ada tangan penolong menjambarnja.</p>
<p>Itulah latar belakang dari ramalan ibunja jang suram itu. Seakan2 kemalangan itu belum tjukup pada umur 40 tahun ia diserang kanker pada bibirnja, namun Adolphe berhasil mentjapai usia 80 tahun. Dan setelah dewasa hidupnja tidak terantjam oleh keratjunan timah, ataupun warangan lagi, tetapi ada ratjun2 lain jang selalu mengganggunja: fitnah2 serta tuduhan.</p>
<p><strong>Kemenangan klarinet jang bolong</strong><br />
Saxofon bukanlah instrumen tunggal. Keluarga saxofon terdiri dari : saxofon sopran, alt, tenor, bariton dan bas. Semua memakai nama Saxofon. Pembuatan serta sifat2njapun tidak djauh berbeda. Tetapi tjoba bandingkan saxofon sopran dengan saxofon bas. Seperti baji dengan orang dewasa. Begitu djuga perbandingan suaranja.</p>
<p>Bagaimana asal mula Sax mentjiptakan alat2 itu ? Suatu hari sedang memainkan klarinetnja ia memutuskan hendak memperbaikinja. Ia selalu tidak puas dengan suaranja. Ia mentjoba2. Bas-klarinetnja di bolongi sebesar tusukan peniti. Lalu ditiupnja lagi. Sax jang muda itu melondjak kegirangan. Eksperimennja berhasil.</p>
<p>Dengan semangat Adolphe menundjukkan penemuannja itu pada dirigen orkes Philharmonis di Brussel. Ia diterima baik dan ditawari supaja memainkan alatnja jang baru itu dalam orkes tersebut. Tetapi seorang pemain klarinet pertama bentji melihat Sax jang begitu muda dan begitu pertjaja pada kemampuannja sendiri. Ia mengantjam akan keluar bila orkes jang sampai waktu itu begitu baik namanja direndahkan oleh masuknja seorang murid jang konjol.</p>
<p>Sax tidak putus asa. Ia menantang pemain itu untuk bertanding setjara terbuka. Pemain musik jang kenamaan itu dengan klarinetnja jang biasa, sedang ia akan memakai klarinetnja jang bolong. “Akan saja lumatkan dia seperti seekor lalat” begitu kata pemain klarinet itu dengan sombongnja. Tetapi 4000 orang penonton jang menghadiri pertandingan itu mengakui bahwa ia dikalahkan setjara mentjolok oleh pendatang baru jang pembrani itu. Pendidikan Sax disini membuktikan kegunaannja ! Tidak sia2 ia telah beladjar meniup alat2 musik.</p>
<p><strong>Long March 300 km.</strong><br />
Mana jang lebih indah suaranja : klarinet emas atau klarinet kaju ? Tentu banjak diantara anda jang mengira bahwa klarinet emaslah jang lebih unggul. Tetapi tidak demikian pendapat Adolphe Sax jang menjelesaikan penemuannja pada 27 tahun.</p>
<p>“Pada alat musik-tiup tinggi rendahnja nada ditentukan oleh pandjangnja kolom udara jang bergetar dalam bedjana instrumen itu. Bahan darimana bedjana itu dibuat samasekali tidak mempengaruhi nada suara”. Begitulah asas pertama jang mendasari penemuan Sax. Suatu asas jang memantjing ketidakpertjajaan banjak lawan2nja.</p>
<p>Untuk membuktikan thesisnja itu ia membangun sebuah klarinet kuningan. Suaranja samasekali tidak berbeda dari klarinet kaju jang biasa digunakan waktu itu. Dhadi bahan dari bedjana itu tidak mendjadi soal, asal ukuran2nja samasekali sama, demikian djuga permukaannja haruslah sama halusnja. Selain itu dengan pertjobaan ini ia djuga membuktikan bahwa peranan bahan pada alat tiup tidak sama pada instrumen gesek. Pada biola misalnja, rongga badannja merupakan basis suara jang memperbesar getaran tali2nja, maka dasar suara itu mempengaruhi rona nadanja.</p>
<p>Pertimbangan2 ini membawa Sax kepada asas jang kedua. “Supaja kolom udara dalam bedjana itu bergetar dengan bebas, maka pada instrumen tiup bedjana itu semakin mendekati udjung haruslah semakin besar. Demikian djuga mengenai lubang2 nadanja.</p>
<p>Kalau seruling dan klarinet dimana2 pada tubuhnja sama besar, maka pada penampang bedjana saxofon alat jang pada bagian mulut hanja sebesar 2 milimeter pada tjorong makin membesar sampai 10 kali lipat. Ini memberikan bentuk jang chas: tubuh jang rundjung makin ke udjung makin menggembung. Tetapi djuga menjebabkan saxofon memiliki “suara manusia” dan luwes untuk dimainkan.</p>
<p>Sax berumur 28 tahun ketika ia mengemasi instrumennja, mengantongi uang sebanjak 7 dollar dan berangkat ke Paris. Djalan kaki 300 km untuk menjiarkan penemuannja kepada dunia.</p>
<p><strong>Orkes jang diboikot.</strong><br />
Pertemuannja dengan komponis Berlioz sangat menggembirakan hati Sax. Ia mendapat kesempatan mempertundjukkan penemuannja. Berlioz terharu dan menulis artikel pandjang tentang Sax dan instrumennja. Tetapi hal ini hanja membangkitkan iri hati dari saingan2nja jang menggunakan segala tjara untuk menggagalkan Sax. Misalnja sadja ketika komponis Donizetti, pentjipta “Lucia di Lamermoor” mau menggunakan bermatjam2 instrumen jang telah diperbaiki Sax untuk gala premiere suatu opera baru di Paris. Lawan2 Sax mendekati pemain2 musik opera tersebut dengan sogokan supaja mereka memprotes rentjana Donizetti. Dan mereka berhasil.</p>
<p>Sementara menelan kegetiran dari kegagalannja, Sax terus berusaha. Dalam tahun 1845 ia mengadjukan usul kepada pemerintahan Perantjis untuk mengorganisir orkes militer dengan saxofon. Usulnja diterima, tetapi terlebih dahulu harus melewati udjian. Ia diminta memimpin satu orkes jang dikurangi 8 klarinet, semua hobo dan fagotnja dan diganti dengan “keluarga” Saxofon. Orkes ini akan bertanding dengan suatu orkes lengkap dimana 14 klarinet ambil bagian penting dibawah pimpinan Carafa, jang setjara fanatik melawan Sax.</p>
<p>Pada hari jang ditentukan penonton berdujun2 pergi ke Champs de Mars di Paris untuk menjaksikan perlombaan dua orkes Militer itu. Djuri djenderal de Rumingny telah hadir. Demikian pula Carafa dengan orkesnja jang komplit. Tetapi dalam orkes Adolphe tudjuh kursi kosong : para pemain jang harus memegang saxofon tidak hadir. Mereka mengingkari kontraknja karena sogokan lawan2 Sax.</p>
<p>Perlombaan tetap berlangsung. Sax sendiri berganti2 memainkan saxofonnja. Pada waktu orkesnja mulai beraksi, timbul keributan demonstrasi2 mengatjau. Tetapi pada achirnja meledak tepuk sorak jang mengguntur untuk menghormatinja. Ia menang. Surat kabar2 muntjul dengan artikel2 jang memudjinja. Setelah ditimbang matang2, perbaikan dari Sax diterima oleh pemerintah Perantjis.</p>
<p><strong>Ditantang sampai achir.</strong><br />
Tetapi dengan kemenangannja itu belum selesailah pertjobaan hidup Adolphe Sax. Tuduhan demi tuduhan dilantjarkan oleh lawan2nja jang djahat untuk mendjatuhkannja. Ia mendjadi bulan2an fitnah dan sampai achir hidupnja ia terlibat dalam proses2 pengadilan jang banjak menghasilkan waktu dan uang. Waktu itu haktjipta dan hak patent lebih mudah digelapkan dari pada sekarang. Bersamaan dengan usaha mendjelekkan nama Sax, para lawannja djuga mentjuri menggunakan penemuannja pada instrumennja sendiri tanpa memberinja bajaran.</p>
<p>Sepandjang sedjarah Adolphe Sax adalah penemu jang paling djago dalam soal bertanding. Setiap tantangan diterimanja dan tak sebuah serangan dibiarkan tanpa balasan. Perkara2nja banjak menggerogoti modalnja. Tetapi achirnja ia berhasil : Tidak hanja saxofon2nja tetapi semua penemuan2 lainnja mendapat pengakuan. Sekarang ini tak bisa dibajangkan orkes harmoni atau fanfare (orkes tiup) tanpa adanja saxofon. Begitu djuga orkes hiburan.</p>
<p><span style="font-size: 90%;">&#8212;Diketik ulang dengan sukarela oleh Budi Warsito dari majalah <em>Intisari</em> no. 52, Nopember 1967 hlm. 85-89.</span></p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Intisari-nomor-52-Nopember-1967.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1103" title="Intisari nomor 52, Nopember 1967" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Intisari-nomor-52-Nopember-1967-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Menit, Sehat Sempurna</title>
		<link>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[. Aku senam, maka aku ada. Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh file musik pengiring SKJ &#8217;88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar. Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/02/SKJ_still.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1069" title="SKJ_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/02/SKJ_still.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku senam, maka aku ada.</em></p>
<p>Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh <em>file</em> musik pengiring SKJ &#8217;88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar.</p>
<p>Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru menyadarinya sekarang—langsung muncul prasangka di kepala saya: jangan-jangan itu semacam perlambang obsesi Orde Baru atas ketertiban dan stabilitas, karena bukankah itu gunanya peluit? Pak Polantas nan gendut meniupnya di jalan raya demi menyetop sepeda motor yang melanggar lampu merah. Wasit sepakbola memakainya di lapangan untuk menyemprit bek kiri yang terlalu keras mengganjal penyerang lawan. Dan bagaimana mungkin saya lupa guru olahraga di SD dulu, yang setelan baju <em>training</em> dan wibawanya terasa kurang afdol jika tanpa kalung peluit di lehernya? Dialah yang biasa berteriak-teriak lewat pengeras suara setiap Jumat pagi, sambil sesekali membunyikan peluit saktinya, gusar karena murid-muridnya sangat susah untuk sekadar berjejer rapi di halaman sekolah. Setelah barisan dirasa cukup solid dan enak dipandang, barulah semuanya—guru, murid, karyawan TU, tanpa terkecuali—dengan semangat &#8220;tiada hari tanpa olahraga&#8221; tunduk patuh pada <em>tape compo</em> butut yang mengumandangkan komposisi gagah karya <a href="http://hurek.blogspot.com/2007/01/n-simanungkalit-bapak-paduan-suara.html" target="_blank"><strong>N. Simanungkalit</strong></a> itu.<span id="more-970"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/Kaset-SKJ-88.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1075" title="Kaset SKJ '88" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/Kaset-SKJ-88.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a></p>
<p>Namun ketika tiba di menit kedua dari sesi mendengar <em>file</em> unduhan tadi, yang kemudian berkelebat di pikiran saya justru kenangan-kenangan masa kecil yang langsung meruntuhkan prasangka tentang obsesi ketertiban tersebut. Adegannya seperti ini: setelah berjalan di tempat selama 2 x 8 hitungan untuk pemanasan, menurut aturan baku, peserta senam seharusnya bergerak serentak berbalik menghadap ke kanan. Tapi selalu saja ada di antara kami, namanya juga anak SD, yang malah sengaja menghadap ke arah sebaliknya. Jadilah beberapa muka saling berhadap-hadapan, dan kami pasti tertawa cekikikan karenanya. Juga di gerakan-gerakan selanjutnya: sengaja mendorong tangan ke samping secara berlebihan hingga menyenggol bahu teman di sebelah, dan seabrek adegan <em>slapstick</em> lainnya. Kepatuhan ternyata tak selalu berjalan dengan semestinya. Di negeri yang penuh bakat-bakat pelawak ini, kepatuhan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan lelucon.</p>
<p>Mungkin SKJ memang bukan soal kepatuhan, melainkan tentang bersenang-senang. Jumat pagi bisa berarti kesempatan emas melihat kecengan di luar kelas. Meski hanya bisa menatapnya dari jauh, itu pun dari belakang, tapi pemandangan sang pujaan melompat-lompat lucu mengikuti irama lagu tak jarang bikin hati ini ikut melompat-lompat. Apalagi di gerakan tertentu, yang apa boleh buat selalu sukses bikin rok dia sedikit tersingkap, jelas adalah bonus vitamin A yang luar biasa untuk ukuran saat itu. Tak kalah menyenangkan, ketika mendapati guru matematika berkacamata tebal yang biasanya tampil menakutkan dengan penggaris besi di depan kelas, tiba-tiba melenggak-lenggok jenaka ke kanan dan ke kiri. Rasanya absurd.</p>
<p>Menengok sejarahnya, bisa jadi SKJ memang lahir dari keinginan untuk lebih bersenang-senang. Ia semacam koreksi dari senam massal sebelumnya, Senam Pagi Indonesia (SPI). Masyarakat kita mulai mengenal SPI ketika Presiden Soeharto menyebutkannya dalam <a href="http://www.bappenas.go.id/node/42/1812/pidato-kenegaraan-tahun-1975/" target="_blank"><strong>pidato kenegaraan</strong></a> di depan sidang DPR, 16 Agustus 1975, &#8220;&#8230;<em>ini sangat besar manfaatnya bagi pembinaan raga, juga agar kita tetap sehat dan lincah, serta untuk menggerakkan dan menggelorakan lagi semangat berolah raga.</em>&#8221; Sejak itulah pemerintah mewajibkan sekolah-sekolah melakukan senam pagi sebelum pelajaran dimulai. Gerakannya diramu dari jurus-jurus silat asli Indonesia (konon beberapa pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia banyak terlibat di perumusannya), dengan sedikit banyak pengaruh taisho, yakni senam khas Jepang yang biasa dilakukan pagi-pagi dengan menghadap ke arah matahari sebelum beraktivitas sehari-hari.</p>
<p>Tapi masalahnya, meski ada siaran petunjuk gerakan SPI di TVRI setiap hari Minggu pagi, bagi beberapa kalangan gerakan senam ini tetap dirasa sulit. Salah satunya, Ismail Marahimin, di majalah <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1983/04/02/KL/mbm.19830402.KL45636.id.html" target="_blank"><strong><em>Tempo</em>, 2 April 1983</strong></a>, menuliskan kritiknya, &#8220;<em>Gerakan-gerakannya sangat tidak sederhana. Dalam satu hitungan terdapat dua, tiga, bahkan empat gerakan, yang jika dilaksanakan dengan baik memang akan menghasilkan sederetan gerakan indah. Namun sangat rumit, sehingga akan menimbulkan perasaan kikuk pada orang awam</em>.&#8221; Ismail yang kebetulan sempat mengalami masa wajib taisho di zaman pendudukan Jepang, bahkan menilai urutan gerakan SPI tak memenuhi standar dalam melatih otot-otot tubuh secara nyaman. Dia mengusulkan perlu adanya senam baru yang lebih sederhana, logis, dan populer. Jika perlu, imbuhnya, ajak artis terkenal untuk ikut kampanye, seperti Bob Tutupoly atau Gepeng. Maka lahirlah SKJ, yang pertama kali diperkenalkan pemerintah pada 11 Maret 1984 (perhatikan tanggalnya, keramat ala Orde Baru), di era Menpora legendaris Abdul Gafur.</p>
<p>Berhasilkah usaha SKJ ini, terutama dalam &#8220;memasyarakatkan olahraga, dan mengolahragakan masyarakat&#8221;? Seorang ibu dari Cilacap cukup serius menulis surat pembaca di harian <em>Kompas</em>, 8 Mei 1984, &#8220;<em>&#8230;kami menghimbau agar TVRI juga menyajikan peragaan dan petunjuk untuk SKJ secara gerak lambat. Sehingga seluruh lapisan masyarakat yang berminat dapat belajar sendiri.</em>&#8221;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-klipingKompas.jpg"><img class="aligncenter" title="SKJ-klipingKompas" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-klipingKompas.jpg" alt="" width="414" height="426" /></a></p>
<p>Sementara dari obrolan dengan teman-teman sebaya saya yang mengalami olahraga semi-didaktis ini, hampir semuanya tersenyum ketika mengingat kesan mereka tentang SKJ: kocak, <em>fun</em>, seru! Beberapa menjawab: nggak penting; tetap sambil cengengesan. Rupanya bagi beberapa siswa, empat menit yang harus rutin dilalui tiap pekan itu bukanlah beban. Itu hanya formalitas santai layaknya jadwal piket kelas yang penuh dengan lempar-lemparan kapur, penghapus, bahkan sapu. Jika Warkop DKI saja sampai merasa perlu memasukkan adegan senam nasional ini di <a href="http://youtu.be/5Cp_WmxTg5I" target="_blank"><strong>salah satu film mereka</strong></a>—pemerannya Eva Arnaz berkaos yukensi, lengkap dengan pameran bulu keteknya—bukankah itu kian menegaskan kekocakan senam ini?</p>
<p>Mungkin Anda pernah juga mendengar tebak-tebakan garing ini, yang sempat beredar luas di pergaulan, &#8220;Tank apa yang bikin sehat?&#8221; Jawabannya menyebalkan, &#8220;<em>Tank, teng, teng, teng, teng, teng&#8230;</em>&#8221; yang harus diucapkan sesuai nada SKJ ’84. Boleh jadi tak semua orang tertawa karenanya. Tapi guyonan itu, selain jahilnya yang khas Indonesia, juga bisa dibaca sebagai pengakuan kolektif bawah sadar kita bahwa SKJ <em>memang</em> bikin sehat. Sampai hari ini, tiap kali mau berolahraga dan harus melakukan gerak pemanasan sebelumnya, disadari atau tidak, yang saya pakai adalah <a href="http://youtu.be/ECn1Q_hXvlc" target="_blank"><strong>langkah-langkah SKJ</strong></a>. Rupanya, setelah sekian tahun, seri gerakan itu tetap bersemayam di ingatan.</p>
<p>Mengenangnya kembali, kali ini dengan lebih serius dan dahi berkerut, berat hati saya harus mengakui: jangan-jangan ucapan Soeharto tentang &#8220;agar kita tetap sehat dan lincah&#8221; itu benar adanya. Karena setiap beres ber-SKJ-ria, saya yang termasuk cukup serius dalam menjalaninya langsung merasa lebih semangat dan lincah di kelas sepanjang hari. Bisa jadi itu cuma efek dari melihat singkapan rok pujaan hati atau tertawa karena tingkah konyol teman-teman ketimbang kesehatan jasmani, tapi bukankah jiwa dan raga saling berhubungan? Jargon paling beken di dunia olahraga ini rasanya harus sedikit dipelintir: <em>mens senam in corpore sano.</em> Dalam senam yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Tulisan ini dimuat di rubrik Olahraga majalah <strong><em>Bung!</em></strong> edisi perdana, Oktober 2011, hlm. 77-78. Majalah pria dewasa dwibulanan terbitan ruangrupa ini bisa didapatkan di <a href="http://www.twitter.com/rurushop" target="_blank"><strong>Ruru Shop</strong></a> (Jakarta) dan <a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a> (Bandung).</span></p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-MajalahBung.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1084" title="SKJ-MajalahBung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-MajalahBung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span style="color: #000000;">&gt;&gt; Yuk, unduh <a href="http://www.4shared.com/audio/ETpXRN50/SENAM_SKJ_88.htm" target="_blank"><strong>musik SKJ &#8217;88</strong></a> untuk memulai pagi-pagi Anda dengan lebih semangat!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fell in Love with Planet Zeke</title>
		<link>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[. Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-898" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg" alt="" width="448" height="297" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung <em>outdoor</em> setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire <em>Salacca Zalacca</em>?<span id="more-587"></span></p>
<p>Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang <em>soundsystem</em>, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari <em>laptop</em>-nya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser <em>Salacca Zalacca</em>: di layar ada sosok &#8216;mirip Zeke&#8217;, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan &#8216;Bin&#8217; Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung meng-<em>cover</em> lagu-lagu album <em>Salacca Zalacca</em> atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin&#8217; Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.</p>
<p>Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.&#8221;Gue suka Reidvoltus. <em>Attitude </em>mereka asyik.&#8221; Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.</p>
<p>Apa itu berarti album <em>Salacca Zalacca</em> cukup diterima publik? &#8220;Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa <em>show</em>, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.&#8221;</p>
<p>April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album <em>Salacca Zalacca</em>, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai <em>genre</em> itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara <em>live</em>. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik <em>laptop</em> yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. <em>Sound</em>-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke <em>backdrop</em>.</p>
<p>Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika <em>laptop</em>-nya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari <em>laptop</em> itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, &#8220;<em>Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…</em>&#8221; Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film <em>Satyricon</em> dengan kru <em>lighting</em> yang mabok. <em>What a freakshow</em>!</p>
<p>Jelas dia sangat bersenang-senang di malam <em>launching</em> itu. &#8220;Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.&#8221; Tapi tak bisa dipungkiri, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel <em>backing band</em>-nya makin meriah (ada yang tugasnya &#8216;hanya&#8217; mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi <em>anonymous</em> di balik topeng. &#8220;Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.&#8221;</p>
<p>Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap <em>venue</em>, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. &#8220;Raymond, <em>additional player</em>-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser <em>Salacca Zalacca</em>, hahaha!&#8221; tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu &#8220;Kenakalan Remaja di Era Informatika&#8221; dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)</p>
<p>Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa <em>mainstream</em> seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut <em>Salacca Zalacca</em> sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—<em>artwork</em> poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun <em>social media</em>: &#8220;Dark Justice&#8221; dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, &#8220;…<em>dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah</em>.&#8221; Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik &#8220;…<em>gue mau, semua mau, jadi</em>…<em> man of the hour!</em>&#8221;</p>
<p>Tapi lagu &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata &#8220;<em>Jagoan selalu naik kuda putih,</em>&#8220;, disambung dengan &#8220;<em>Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja</em>…&#8221;, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/ penggila film/ <em>full-time musician</em>?</p>
<p>Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di <em>scene</em> musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album <em>Djakarta Goodbye</em> (2003) memuat lirik &#8221; …<em>cloning, replicating with a ghost&#8217;s cell biomythical…</em>&#8220;—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era &#8217;80-an. Kalimat di lagu lainnya, &#8220;<em>…dreaming the megapolis/ big city style you&#8217;re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…</em>&#8221; selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di <em>track</em> penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca <em>Eyes Wide Shut</em> seandainya dia tidak keburu meninggal: &#8220;…<em>listen big shot/ under your bed/ boogeyman</em>…&#8221; Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, &#8220;Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.&#8221;</p>
<p>Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, <em>Space in the Headlines</em> (2006), yang disebut majalah <em>Tempo</em> sebagai &#8220;The Beatles yang sakit&#8221;. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga <em>sample vocal</em> dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (&#8220;Kalau kata gue <em>Rebecca</em>!&#8221; sergahnya ketika saya menyebut <em>The Birds</em> sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film <em>Janji Joni</em> (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera <em>slow motion</em>, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.</p>
<p>Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: <em>KALA </em>(Joko Anwar, 2007) dan <em>Rumah Dara</em> (Mo Brothers, 2009). Di film <em>Fiksi. </em>(Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk <em>Pintu Terlarang</em> (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat <em>Salacca Zalacca</em> sarat dengan referensi film? Lagu &#8220;Ketimur-timuran&#8221; menyebut judul-judul film seperti <em>Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia,</em> juga keprihatinan Zeke pada lirik &#8220;…<em>bikin sutradara slave produser…</em>&#8221; Sementara lagu &#8220;Shit Is So Yesterday, Moralist Happens&#8221; lebih menohok lagi, &#8220;<em>…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.</em>&#8221;</p>
<p>Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, &#8220;Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.&#8221;</p>
<p>Bagaimana tidak aneh? Album <em>Salacca Zalacca</em> berisi 17 lagu yang <em>track listing</em>-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, <em>well</em>, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, <em>11:01,</em> Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, &#8220;<em>Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.</em>&#8221; Astaga, kisah macam apa ini?</p>
<p>Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di &#8220;Pak Tani&#8221;—salah satu lagu <em>giting</em> terbaik mereka &#8220;&#8230;<em>petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter</em>&#8230;&#8221;; maka kalimat Zeke di &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah <em>ngaco</em>, &#8220;&#8230;<em>helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan jangan lupa, sepenggal lirik di &#8220;Ballet Paranormal&#8221; adalah <em>pick-up line</em> abad ini: &#8220;<em>…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…</em>&#8221; Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin&#8217; Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, &#8220;Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.&#8221;</p>
<p>Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. &#8220;Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan <em>Salacca Zalacca</em> ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.&#8221; Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (<em>weekly download</em>) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, <em>psychedelic</em>.</p>
<p>Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat <em>Salacca Zalacca </em>(&#8220;Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.&#8221;), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. &#8220;Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.&#8221;</p>
<p>Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai <em>bedroom musician</em>, setelah menitipkan CD <em>Salacca Zalacca</em> ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng &#8220;My Cosmic Autumn Rebellion&#8221;—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, &#8220;<em>Nice shoes, man</em>.&#8221; Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, &#8220;Oh <em>shit</em>, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.&#8221;</p>
<p>Delapan lagu baru pun tercipta. Meski <em>mood</em>-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala <em>hook</em> itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter <em>traditional singer-songwriter</em>. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep <em>weekly download</em> bagi Bin itu brilian. &#8220;Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin <em>man</em>, tiap minggu keluar lagu baru!&#8221;</p>
<p>Hasil perdana sesi <em>psychedelic</em> ini adalah &#8220;Fell in Love with the Wrong Planet&#8221;, lagu ke-18 dari <em>weekly download</em>-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata &#8216;<em>wrong</em>&#8216;, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (&#8220;Kadang pakai gitar, atau mulut doang.&#8221;), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan <em>software</em> musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan <em>rhythm</em> yang cocok, dia mencari-cari <em>beat</em> yang enak untuk <em>drum loop</em>. &#8220;Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah <em>beat</em> selalu merepotkan gue.&#8221; Tapi toh dia berhasil. Di &#8220;Rolling Like a Stupid Stone&#8221;, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan <em>beat</em> genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan <em>sound</em> bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>&#8220;Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.&#8221; Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. &#8220;Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.&#8221; Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, &#8220;Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?&#8221;</p>
<p>Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di &#8220;Causeway Bay&#8221;, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, &#8220;Bunyinya seperti nafas mesin.&#8221; Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya &#8220;<em>…nature procreates/ machine replicates.</em>&#8221; Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang <em>Chinese fortune teller</em> di Hong Kong (&#8220;Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol&#8230;&#8221;). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.</p>
<p>Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? &#8220;Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.&#8221; Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. &#8220;Seperti <em>love</em>, yang nggak ada batasnya.&#8221; Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan <em>file</em> yang dinamai <em>weekly potential</em>. Kata <em>finish</em> sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. &#8220;Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin <em>ngalor-ngidul</em>. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. &#8220;Gue suka <em>honesty</em>-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, &#8216;<em>Daniel, keep playing! Don&#8217;t worry, we love you!</em>&#8216; Semangat &#8216;<em>keep playing</em>&#8216; itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu &#8220;Tender&#8221;-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, &#8220;Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.&#8221; Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. &#8220;Gue selalu <em>look up</em> ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, <em>Gak kekejar nih, gak kekejar nih…</em>&#8221; Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.</p>
<p>&#8220;Tapi gue masih pengen terus ngejar.&#8221;</p>
<p>Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, lalu melanjutkan mengunggah lagu mingguannya. <em>Weekly download</em>-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu, di angka berapa dia bakal berhenti.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta-Bandung, Februari 2011</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran <a href="http://kineruku.com/zeke-khaseli-rolling-like-a-stupid-stone-ep-release-party/"><strong><em>Rolling Like a Stupid Stone EP</em></strong></a> di <strong>Kineruku</strong>. Foto oleh <a href="http://meicysitorus.co.cc/" target="_blank"><strong>Meicy Sitorus</strong></a>. Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://zekekhaseli.com/" target="_blank"><strong>Zeke Khaseli</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Brazil, someone once said</title>
		<link>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 09:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;return i will to old brazil&#8221; yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s 1984 and i saw gilliam&#8217;s brazil like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-438 aligncenter" title="ButtleTuttle!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/ButtleTuttle.jpg" alt="ButtleTuttle!" width="431" height="244" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;return i will<br />
to old brazil&#8221;</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><span id="more-436"></span>yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s <em>1984 </em>and i saw gilliam&#8217;s <em>brazil</em> like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which kills me again and again; softly for sure, you know, those blah blah blah cheesy words in the first lines (Geoff did it the best, IMHO, with the intro and the whistling-like sound), &#8216;<em>june</em>&#8216;, &#8216;<em>ambermoon</em>&#8216;, &#8216;<em>someday soon</em>&#8216;, rhyming never gets tiring, huh?, suddenly &#8220;<em>then tomorrow was another day</em>&#8221; (!), and finally &#8220;<em>return, i will, to old Brazil</em>&#8220;&#8212;should i say, the Past? or is it the Future? with sam lowry, you&#8217;ll never know.</p>
<p>[MP3s]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?yz5lzwyydwd" target="_blank"><strong>Kate Bush</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Brazil OST</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank"><strong>Geoff &amp; Maria Muldaur</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; </a><em><a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank">Pottery Pie</a><br />
</em><a href="http://www.mediafire.com/?ztmz3d1m1ej" target="_blank"><strong>Arcade Fire</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Rebellion (Lies)</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?mzd0mdya3tm" target="_blank"><strong>Beirut</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Live at KLRU Studios<br />
</em></a><a href="http://www.mediafire.com/?yyzywm2zmeq" target="_blank"><strong>Antonio Carlos Jobim</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Aquarela Do Brasil</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Band Beranak Band</title>
		<link>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 20:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Set your guitars and banjos on fire, and before you write a song: smoke a pack of whiskey and it’ll all take care of itself.&#8221; —Beck Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-597" title="ABBB0" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg" alt="" width="424" height="242" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Set your guitars and banjos on fire,<br />
and before you write a song: smoke a pack of whiskey<br />
and it’ll all take care of itself</em>.&#8221;<br />
—Beck</p>
<p>Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger &#8216;cuek&#8217; itu juga cool.</p>
<p>Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: &#8216;menjadi band terkenal&#8217;. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. <span id="more-577"></span>Badu pun terpaksa merelakan VW Combi-nya—yang lebih mirip rongsokan besi tua ketimbang mobil—dipindahkan dari garasi. Ya, ya, ya, harus dengan didorong, tentu saja. Terlalu lama dia mogok, dan semua tukang bengkel di seluruh dunia sudah angkat tangan. Ketika kami dorong rongsokan itu keluar, bodinya berderit-derit menyakiti telinga. Saya ingat betul, bahkan ketika si VW Combi sialan ini masih jalan pun (itu artinya waktu Muhammad Ali masih perkasa di ring tinju), bunyinya juga udah nggak keruan. Mesinnya berderak-derak. Bannya koclak. Jendela kacanya gemeretak. Pokoknya semuanya bunyi kecuali klakson. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rongsokan itu, kecuali jika menurut Badu, adalah plat nomornya: B 4 DU. Itupun sebenarnya kami nggak bangga. Biasa aja.</p>
<p>Persiapan pun dimulai. Kami harus menyulap garasi tua itu demi tujuan mulia: punya studio latihan sendiri. Ayo bagi tugas! Badu kebagian memindahkan barang-barang sambil menggerutu (peti-peti kemas milik papanya Badu sebenarnya cool sih, tapi kami selalu curiga salah satu di antaranya berisi mayat, jadi kami nggak mau ambil risiko latihan band metal kami yang bising nanti bakal membangunkan arwah-arwah yang penasaran). Saya kebagian tugas menyapu dan mengepel lantai, memperbaiki atap bocor (untung ada <em>how to</em>-nya di internet), dan menyemprotkan pewangi ruangan (yang juga bisa kamu pesan via online). Bada mendapat kehormatan (okay, sebenarnya itu hasil undian, karena kami rebutan) untuk menyebar undangan ke kos-kos cewek di sekitar rumah pohon kami, demi menjajaki kemungkinan awal adanya groupies band kami yang soon-to-be-famous ini. Hoho, pede dong. Sebab pede itu juga cool.</p>
<p>Setelah menjaga garasi itu supaya tetap dalam kondisi &#8220;nggak terlalu kotor, tapi juga nggak bersih-bersih amat&#8221; (sebab kami denger agak kumuh itu juga cool), maka kami pun siap latihan! Badu tampak siap dengan celana jeans robek-robeknya (katanya ini juga cool), Bada memakai topi panjang ala Slash (atau mungkin Mr. Robin, saya suka ketuker), karena katanya ciri khas penampilan itu penting, demi image band (tapi kok nyontek yang sudah ada ya?). Sementara saya, sudah siap dengan… bekal makan siang. Lho? Yoi, kalau rocker kena maag juga nggak cool bukan?</p>
<p>Setelah sambutan dari Bada (kami bertiga memang sepakat menuakan dia), dan sepatah dua patah kata dari Badu (kami anggap dia perwakilan anak muda dari karang taruna setempat), dilanjutkan acara gunting pita dan tabuh gong, potong nasi tumpeng dan minum jus wortel, maka studio latihan (d/h garasi) kami pun resmi dibuka. Kami bertiga sepakat menamakan studio baru itu dengan: &#8220;Latihan&#8221;. Nama yang lumayan cool, bukan? Jadi kalau dibaca lengkap: Studio &#8220;Latihan&#8221;. Edan! Alangkah brilian ide kami ini, yang memang kurang suka istilah-istilah yang sok berat penuh kiasan. Kami bertiga ini orangnya lugas-lugas saja. Okay, sedikit bodoh memang. Tapi peduli setan, pokoknya kami siap ngeband dan mengguncang dunia!</p>
<p>Di saat itulah kami baru menyadari sesuatu: kami belum punya alat musik satu pun.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Damn! Kami merasa sangat bodoh. Ini esensial, Bung! Bagaimana kami bisa latihan kalau nggak ada alat musik satu pun? Bahkan sekadar kicrik-kicrik pun kami nggak punya. Setelah saling tuding saling menyalahkan (Badu: &#8220;Elu sih Bud, mikirinnya interior dapur mulu! Budi: &#8220;Heh, enak aja, gue kan juga harus mikirin logistik dan konsumi, tauk!&#8221; Mulai panas: &#8220;Elu tuh yang kerjanya nggak bener! Dasar NATO!&#8221; Debat kusir: &#8220;Nggak&#8230; lu tuh!&#8221; &#8220;Yee&#8230; elu!&#8221; Nyaris tonjok-tonjokan: &#8220;Elu!!!&#8221; … &#8220;Elu!!!&#8221;), akhirnya Bada berhasil melerai kami berdua dan mengaku salah, &#8220;Sudah, sudah. Jangan berantem. Ini salah saya. Harusnya kemarin saya survey alat-alat band, tapi malah keliru beli alat pancing dan penggorengan ikan.&#8221;</p>
<p>Saya dan Badu melongo berdua. Arghhh. Kita ini mau ngeband atau magang jadi koki? Dasar bodoh! Tapi karena Bada adalah anggota yang kami tuakan, jadi segala makian itu cukup diucapkan dalam hati saja, supaya lebih afdol dan tidak memicu konflik. Amin. Akhirnya, setelah memasang senyum palsu secukupnya, kami sepakat untuk pergi ke toko alat musik dan belanja segala keperluan kami di sana. Tapi problemnya adalah: kami semua lagi bokek. Kas persaudaraan kami sudah ludes untuk merenovasi garasi menjadi studio, dan sisanya sudah kami habiskan di meja judi. Gawat.</p>
<p>&#8220;Ada usul, <em>guys</em>, gimana caranya kita beli alat musik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue tahu!&#8221; Badu bangkit dari duduknya, tangannya mengepal dan matanya berbinar-binar. Saya dan Bada langsung berdoa dalam hati, semoga usul Badu kali ini bermutu. &#8220;Gimana kalo kita ke toko musik, lalu kita pecahin semua alat di sana?&#8221;</p>
<p>Saya dan Bada saling berpandangan, bingung. &#8220;Ehmm, maksudnya…?&#8221;</p>
<p>Badu tampak kesal. &#8220;Ah, dasar bodoh kalian ini. Di toko kan suka ada tulisan &#8216;<em>Pecah Berarti Membeli</em>&#8216;! Jadi kalo kita pecahin alat musik di sana, berarti kita membelinya!&#8221;</p>
<p>Astaga. &#8220;DUITNYA, monyooooongggg!!!&#8221;</p>
<p>Sampai sekarang kami masih suka heran, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuhan ketika Dia menciptakan Badu.</p>
<p>Setelah melalui musyawarah untuk mufakat (awww, betapa kami menjaga nilai-nilai luhur bangsa!), keputusan bersamanya adalah: kami harus bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan dana untuk membeli alat-alat musik idaman kami. Pokoknya kami harus bisa nge-band!</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Besoknya, kami pun mulai mencari uang dengan kemampuan kami masing-masing. Ada yang &#8216;terpaksa&#8217; kembali menulis naskah komedi untuk salah satu acara lawak paling fenomenal di sejarah pertelevisian negeri ini (ahem!). Ada yang pulang kampung dan diam-diam menjual kerbau-kerbau peninggalan kakek. Pokoknya kami kumpulkan uang &#8220;sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit&#8221;. Hmm, ngomong-ngomong itu peribahasa yang agak aneh ya: maunya ngumpulin duit, kok dapetnya malah bukit? Apa bukitnya harus kita jual dulu, baru kita dapet duit? Ah rumit.</p>
<p>Sementara Badu berusaha mencari uang dengan jualan balon di SD-SD. Kasihan, rupanya dia belum tahu, bahwa ketimbang lagu &#8220;<em>Balonku ada limaaa, rupa-rupa warnanyaaa…</em>&#8220;, anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan &#8220;<em>Aku punya teman… uh, uh… Teman tapi mesraaa…</em>&#8221; Begitu tahu, Badu langsung banting setir, jualan lotre di bungkus permen karet. &#8220;Gimanapun juga, judi itu abadi, Bos. Nggak kenal jaman.&#8221; Walhasil, bukannya untung malah buntung. Dia berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian, karena menjanjikan hadiah motor padahal bohong. Badu pun dijebloskan ke penjara dengan pasal penipuan. Tapi dengan bantuan Setan, yang kebetulan dikurung di sel sebelah atas tuduhan pemaksiatan umat, Badu berhasil kabur dari penjara.</p>
<p>Sebagai ucapan terimakasihnya, Badu mendirikan usaha baru: atraksi Tong Setan. Itu lho, akrobat naik motor muter-muter di dalam tong raksasa. Dia sendiri yang jadi penunggang motornya. &#8220;Gini-gini, gue kan ada bakat pembalap,&#8221; kata Badu pede. Padahal seingat kami, satu-satunya balapan yang pernah dia ikuti adalah karapan sapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="TongSetan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg" alt="" width="454" height="302" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sialnya, usaha Tong Setan ini pun tak banyak menghasilkan uang. Malah lebih sering nombok, karena harga BBM selalu naik dan naik terus. Dan rasanya kok sayang aja gitu, buang-buang bensin cuman buat muter-muter bloon di tong bego kayak gitu. Dirundung putus asa, plus bisikan Setan tentunya, akhirnya Badu memutuskan untuk (maaf) jual diri. Sayang caranya salah: dia berteriak-teriak sambil menjajakan dagangannya, &#8220;<em>Diri, diri! Diri!</em>&#8221; Bukannya laku, orang-orang malah menganggapnya gila. Mungkin mereka benar.</p>
<p>Saya dan Bada merasa kasihan. Bagaimanapun, Badu bagian dari kami. Dia hanya khilaf. Akhirnya dengan semangat persaudaraan, penuh haru kami merangkul Badu. Kami mengajaknya insyaf, menggandengnya pulang. Trio Budi Bada Badu utuh lagi, dan kabar bagusnya, awas, kami akan memakai huruf kapital: UANG KAMI SUDAH CUKUP UNTUK BELANJA ALAT MUSIK!</p>
<p>Kami bertiga pun berangkat ke toko alat musik yang sudah kami incar dari dulu. Sepanjang jalan, saya dan Bada bernyanyi-nyanyi riang (sekaligus mengasah persediaan stok lagu-lagu awal kami, yang sebenarnya sudah cukup banyak untuk sekadar <em>double album</em>), sementara Badu hanya diam saja dari tadi. Mungkin dia masih merasa nggak enak dengan kejadian tempo hari, apalagi secara finansial dia tidak ikut berkontribusi. Ketika pelan-pelan kami yakinkan bahwa itu beneran nggak papa, dia malah heran, &#8220;Kalian ini kenapa sih? Gue kan lagi mikir, gitar merk apa yang sebaiknya kita beli nanti!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Setibanya di toko (wah, namanya Toko &#8220;Musik&#8221;!, hohoho kami langsung merasa satu frekuensi!), atas rekomendasi kuat—untuk tidak mengatakan setengah memaksa—dari petugas parkirnya, akhirnya Badu memilih satu gitar lusuh di pojok toko. &#8220;Itu gitar legendaris peninggalan musisi terkenal di jamannya!&#8221; demikian katanya sambil menyodorkan kartu parkir kami. Lalu gitar itu pun kami periksa dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tampak di stikernya yang sudah kusam, nama merk-nya: &#8220;Tua&#8221;. Well, ini pertanda bagus. Dengan gitar &#8220;Tua&#8221; ini, Badu pasti kan merasa seperti Rhoma Irama. Kami jadi curiga, jangan-jangan Pak-Petugas-Parkir tadi mantan anggota Soneta.</p>
<p>Bada, sebagai musisi spesialis alat tiup, mulai mencari-cari saksofon. Kami memang sempat terpikir mengubah aliran band kami menjadi jazz (karena kata sebuah lagu, &#8220;<em>&#8230;daripada musik metal lebih baik musik jazz&#8230;</em>&#8220;), tapi rupanya Toko &#8220;Musik&#8221; ini tidak menjual saksofon. Di etalase musik tiup kami hanya menemukan harmonika (yang segera kami hindari, karena mengingatkan pada pengamen country blues di warung sop kaki kambing langganan kami), pianika (aduh, memangnya anak SD ujian EBTA praktek?), seruling bambu (oh no, kami bukan band si gembala sapi!), dan&#8230; terompet bekas sisa Tahun Baru kemarin.</p>
<p>Astaga, kami salah memilih toko. Dengan suara tercekat, Bada bertanya, &#8220;Alat musik tiupnya cuman ada ini doang, Mbak?&#8221; Si Mbak-Pelayan-Yang-Lumayan mengangguk sambil tersenyum manis kayak tebu. Tapi dia mendadak seperti teringat sesuatu, lalu bergegas ke arah salah satu lemari. Dikeluarkannya kotak hitam lusuh, sambil berkata, &#8220;Ini ada satu lagi, Dek&#8230;&#8221; (Wah, ge-er juga dipanggil &#8220;Dek&#8221;. Pasti wajah imut kami inilah penyebabnya!)</p>
<p>Tapi ketika kotak hitam itu dibuka, lemaslah kami bertiga demi melihat isinya: peluit!</p>
<p>&#8220;Gimana, Dek, tertarik? Ini alat tiup juga kan? Kata distributornya, ini <em>limited edition</em> lho! Bisa dibilang <em>rare</em> lah!&#8221;</p>
<p>Tunggu. Peluit? Distributor? Tanpa aba-aba, kami bertiga serentak menoleh ke luar. Tampak Pak-Petugas-Parkir cepat-cepat melengos sambil bersiul-siul layaknya tak mendengar percakapan kami. Damn, apa yang bisa kami harapkan dari toko musik sialan ini?</p>
<p>Akhirnya, malas-malasan Bada mengambil seruling bambu. &#8220;Jangan kuatir, teman-teman. Saya akan memodifikasinya biar sedikit lebih berkelas. Band besar sekaliber Jethro Tull saja juga memakai seruling.&#8221; Okay bro, terserah kamu deh. Toh Bada adalah anggota persaudaraan yang kami tuakan, dan bagaimanapun, menghormati orang tua adalah sikap terpuji.</p>
<p>Oya, sebagai vokalis, supaya nggak terlalu nganggur waktu manggung ntar, saya pikir saya butuh kicrik-kicrik. Tapi lagi-lagi stok toko lagi kosong. Alasan Mbak-Pelayan-yang-Lumayan kali ini adalah, &#8220;Lagi nge-trend di kalangan musisi indie sekarang. <em>Sold-out</em> terus dari bulan kemarin.&#8221; Okay deh. Sebagai gantinya, saya beli <em>game-watch</em> Tetris. Toh fungsinya sama: supaya saya nggak terlalu nganggur di atas panggung. Jadi saya bayangkan, ketika membawakan salah satu lagu hits kami, yaitu sehabis saya menyanyikan bagian <em>reffrain</em> dua kali, lalu Badu akan bersolo gitar (yang pasti akan memakan waktu cukup lama, karena dia krisis eksistensi), maka selama itulah saya akan main Tetris. Cool.</p>
<p>Saatnya membayar. Di kasir, kami gagal meminta diskon. Padahal Badu sudah menyamar menjadi fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Lihat, celananya dekil, kaosnya robek-robek, tapi sialnya bermerk mahal. Tentu saja pihak toko nggak percaya. Hmm, Mbak Kasir cantik juga (potensial groupies awal?), tapi kok kayak judes dan pelit. Dan bener aja. Waktu nggak ada kembalian, kami dikasih permen. Bayangkan!</p>
<p>&#8220;Kembaliannya permen aja ya? <em>Sok atuh</em>, kalian masing-masing ambil 1 permen!&#8221;</p>
<p>Kami kesal bukan main. Enak aja kembalian tiga ratus perak diganti permen.  &#8220;Kenapa sih Mbak, kembaliannya mesti permen?&#8221;</p>
<p>Jujur aja, kejudesannya tadi sudah lumayan mengurangi kecantikannya. Apalagi setelah dia menjawab, &#8220;Karena kalian masih kecil, masih anak-anak. Jadi kembaliannya pakai permen…&#8221;</p>
<p><em>Oh man</em>, meski berwajah imut-imut, kami bukan anak-anak! Badu tampak kesal dan dari hidungnya keluar api, &#8220;JADI KALO KITA NTAR UDAH GEDE, KEMBALIANNYA PAKE BIR?!?!”</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di jalan pulang, kami masih agak kesal dengan perlakuan toko yang aneh tadi. Tapi kami mencoba tetap fokus dengan cita-cita luhur kami semula: Menjadi Anak Band! Oh, cool. Di kepala kami tersusun lagi rencana-rencana awal: latihan di garasi, manggung di gig-gig indie, upload lagu kami di internet, dilirik produser idealis yang mumpuni, kontrak rekaman yang menggiurkan, masuk TV dan terkenal, jadwal manggung yang padat, dikerubutin cowok-cowok, eh cewek-cewek, dsb., dst., dll., etc&#8230;</p>
<p>Sayang seribu sayang, mimpi tinggal mimpi. Semuanya terpaksa kandas, bahkan sebelum kami mulai. Ini gara-gara satu musibah absurd yang menimpa kami. Di jalan pulang tadi, kami bertemu, ehmm&#8230; well, seekor naga.</p>
<p>Ya, ya, ya, saya tahu kalian pasti tidak akan percaya. Selama ini kami juga berpikir naga hanya hidup di cerita-cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Besar, sangat besar, dan nyata. <em>ASTAGA NAGA RAKSASA</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="naganaganyadragon!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum kami sempat berpikir mengambil langkah seribu, Sang Naga sudah terlanjur mendenguskan nafas api, membakar habis semua alat musik kami! Kami sangat marah, tapi terlebih lagi, sebenarnya, kami sangat takut. Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar, mau memakan kami! Tak sempat menjerit, kami bertiga saling berpelukan seperti finalis AFI yang dieliminasi, sambil berikrar sehidup semati. Naga itu pun menelan kami!</p>
<p>Di saat itulah kami mulai paham arti istilah &#8220;<em>mulut lu bau naga, bro</em>.&#8221; Apalagi kami belajar langsung di lapangan, langsung dari sumber yang paling terpercaya. Tak kuat menahan bau naga mulut Sang Naga, kami bertiga pun jatuh pingsan. Ketika siuman, kami baru menyadari sudah berada di dalam perut Sang Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, kami harus menjalani sisa umur kami di sana. Sampai detik ini. Kami masih berpikir keras, bagaimana caranya bisa keluar dari  tempat ini. Mungkin dengan menuliskan cerita ini, sidang pembaca menjadi tergerak menolong kami. Kalian bisa mengirimkan saran-saran lewat surat pembaca, ke PO BOX N464. Kami tunggu ya. Terima kasih lho.</p>
<p style="text-align: right;">Salam,<br />
Budi, mewakili Bada dan Badu.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">*) Judul cerita ini diilhami dari judul film dokumenter <strong><em>Anak Naga Beranak Naga</em></strong> (2006), karya <a href="http://arianidarmawan.net"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>. Tulisan ini pertama kali muncul di <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2006/05/anak-band-beranak-band.html" target="_blank"><strong>blog lama</strong></a> saya.</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Besar Sembilan Puluhan Menurut Saya</title>
		<link>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 04:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning.&#8221; &#8212; Mo Rocca Licorice Roots &#8211; Melodeon (Mood Food, 1997). Neutral Milk Hotel &#8211; In The Aeroplane Over The Sea (Domino, 1998). Bongwater &#8211; The Power Of Pussy (Shimmy Disc, 1990). Milk &#8211; Succeeding/Receding (Spanish Fly, 1994). Blur &#8211; Modern Life Is Rubbish (Food, 1993). The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-804" title="Top90s-comp" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>&#8220;<em>The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning</em>.&#8221;<br />
&#8212; Mo Rocca</p>
<p><span id="more-805"></span></p>
<p><strong>Licorice Roots</strong> &#8211; <em>Melodeon</em> (Mood Food, 1997). <strong>Neutral Milk Hotel</strong> &#8211; <em>In The Aeroplane Over The Sea</em> (Domino, 1998). <strong>Bongwater</strong> &#8211; <em>The Power Of Pussy</em> (Shimmy Disc, 1990). <strong>Milk</strong> &#8211; <em>Succeeding/Receding</em> (Spanish Fly, 1994). <strong>Blur</strong> &#8211; <em>Modern Life Is Rubbish</em> (Food, 1993). <strong>The Jean-Paul Sartre Experience</strong> &#8211; <em>s/t compilation</em> (Flying Nun, 1995). <strong>Slint</strong> &#8211; <em>Spiderland</em> (Touch and Go, 1991). <strong>East River Pipe</strong> &#8211; <em>Shining Hours In A Can</em> (Merge, 1994). <strong>Scott Walker</strong> &#8211; <em>Tilt</em> (Mercury, 1995). <strong>Thomas Jefferson Slave Apartments</strong> &#8211; <em>Bait And Switch</em> (Onion, 1995).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Mulanya adalah Stroszek</title>
		<link>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 17:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[he&#8217;s watching him watching stroszek. happy 55th birthday, ian! &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg"><img class="size-full wp-image-726 aligncenter" title="watchstrosz!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><em></em>he&#8217;s watching him watching <a href="http://budiwarsito.net/stroszek/" target="_blank"><strong>stroszek</strong></a>.</span></span></p>
<p><span id="more-725"></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #c0c0c0;">happy 55th birthday, ian!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji? #1</title>
		<link>http://budiwarsito.net/janji-1/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/janji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, lucu juga idenya. 10 Penyanyi Perempuan Terfavorit? Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi: [01] Rebecca Schiffman [02] Sibylle Baier [03] Josephine Foster [04] Wheatie Mattiasich [05] Soelih Soejatno [06] Ann Magnuson (of Bongwater) [07] Fursaxa [08] soap&#38;skin [09] Sharon Van Etten [10] Freya Hollick [11] Jeri Rossi (of Your Funeral) [12] Ana da Silva &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-721" title="SS" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg" alt="" width="401" height="146" /></a></p>
<p>Hmm, lucu juga idenya. <em>10 Penyanyi Perempuan Terfavorit</em>?<em> </em>Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi:<span id="more-720"></span></p>
<p>[01] Rebecca Schiffman<br />
[02] Sibylle Baier<br />
[03] Josephine Foster<br />
[04] Wheatie Mattiasich<br />
[05] Soelih Soejatno<br />
[06] Ann Magnuson (of Bongwater)<br />
[07] Fursaxa<br />
[08] soap&amp;skin<br />
[09] Sharon Van Etten<br />
[10] Freya Hollick<br />
[11] Jeri Rossi (of Your Funeral)<br />
[12] Ana da Silva &amp; Gina Birch (of The Raincoats)</p>
<p>Dan ya, tetep kelebihan dua! Kapan-kapan ditulisnya. Semoga ini bisa lebih dari sekadar janji-janji tukang jahit.</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-739" title="SS!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>[MP3]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?a0w6ru4yveus7f4" target="_blank"><strong>Soelih Soejatno &#8211; &#8220;Nyanyian Musafir&#8221;</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/janji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>S.O.S.</title>
		<link>http://budiwarsito.net/s-o-s/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/s-o-s/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 20:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[dina-dina kepungkur sing nyenengake, saiki muspra lan sirna. saben dak cedhaki, sliramu mesthi nutupi. ana apa ta ya, tresnamu lan tresnaku, aku kandhanana. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. nalika ing sisihmu, apa sliramu ora krungu: &#8220;S.O.S.&#8221; tresnamu marang sliraku, ora ana liya kejaba iku, sing bakal nyelametake aku: &#8220;S.O.S.&#8221; yen sliramu lunga, awakku lungkrah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/03/Semut.jpg"><img class="size-full wp-image-685 aligncenter" title="Semut!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/03/Semut.jpg" alt="" width="358" height="269" /></a></p>
<p>dina-dina kepungkur sing nyenengake, saiki muspra lan sirna. saben dak cedhaki, sliramu mesthi nutupi. ana apa ta ya, tresnamu lan tresnaku, aku kandhanana. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. nalika ing sisihmu, apa sliramu ora krungu: &#8220;S.O.S.&#8221; tresnamu marang sliraku, ora ana liya kejaba iku, sing bakal nyelametake aku: &#8220;S.O.S.&#8221; <span id="more-675"></span>yen sliramu lunga, awakku lungkrah ora duwe daya. yen sliramu lunga, banjur aku mulih menyang sapa. sanajan cedhak, sliramu krasa adoh. amarga sliramu, esemku ngungkuli urip. nanging ana uga sing kebacut mati ing sajroning ati. wis dak jajal ngrungkebi sejatining aji, tetep wae ora gampang dingerteni: ana apa ta ya, tresnaku lan tresnamu. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. &#8212;<em><strong><a href="http://www.mediafire.com/?7pitb5dic9jd1n9" target="_blank">Aidan Smith</a> </strong>membawakan ABBA dengan sedikit modifikasi.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/s-o-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang-binatang di Kepala Syd</title>
		<link>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 12:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[. An effervescing elephant with tiny eyes, and great big trunk once whispered to the tiny ears the ears of one inferior that by next June he&#8217;d die, oh yeah! because the tiger would roam and the little one said oh my goodness I must stay at home and everytime I hear a growl I&#8217;ll [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-264" title="Syd" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/06/Syd.jpg" alt="Syd" width="431" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
An effervescing elephant<br />
with tiny eyes, and great big trunk<br />
once whispered to the tiny ears<br />
the ears of one inferior<br />
that by next June he&#8217;d die, oh yeah!<br />
because the tiger would roam<br />
and the little one said oh my goodness I must stay at home<br />
and everytime I hear a growl<br />
I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl<br />
and I&#8217;ll be really safe you know<br />
The elephant he told me so<br />
And everyone was nervy, oh yeah!<br />
and the message was spread<br />
to zebra, mongoose, and the dirty hippopotamus<br />
who wallowed in the mud and chewed<br />
his spicy hippoplankton food<br />
and tended to ignore the word<br />
prefering to survey a herd<br />
of stupid water bison, oh yeah!<br />
and the jungle took fright<br />
and ran around for all the day and the night<br />
but all in vain because you see<br />
the tiger came and said to me,<br />
&#8220;You know I wouldn&#8217;t hurt not one of you<br />
I much prefer something to chew<br />
you&#8217;re all too scant, oh yeah!&#8221;<br />
He ate the elephant&#8230;<br />
</em>&#8212;lagu &#8220;Effervescing Elephant&#8221;, Syd Barrett, album <em>Barrett</em> (1970).</p>
<p>Saya tak begitu ingat apa saja yang saya lakukan di usia 16 tahun. Itu sudah bertahun-tahun silam. Mungkin membolak-balik majalah HAI, karena masih ada cerbung bubin LantanG di sana, dan saya suka. Mungkin sedang berusaha (terlalu) keras menyatakan cinta monyet pertama saya, deg-degan dan malu-malu. Oh, atau mungkin sedang terlalu antusias (antara senang sekaligus cemas) karena pergi dari rumah dan mulai hidup terpisah dari orang tua. Dan saya mulai menulis. Puisi-puisi norak, cerpen-cerpen yang tak pernah selesai, atau sekadar kata-kata patah hati yang tak tersampaikan. Saya menulis apapun, selain lagu. Ya, selain lagu. Sementara Syd Barrett, sudah menulis lagu sejak usia 16 tahun. Dan dia jenius. <span id="more-1"></span></p>
<p>Tentu saja lancang dan tolol sekali membandingkan diri saya dengan dia. Saya bukan otak kreatif awal Pink Floyd untuk kemudian dipecat dari sana (bahkan saya tidak pernah punya band, karena saya tak bisa bermain instrumen apapun selain seruling, dan itu pun hanya satu lagu, &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221;!), saya bukan seorang Capricorn, saya tidak mengonsumsi LSD tiga sampai empat kali sehari, dan saya tak pernah secara resmi dinyatakan gila. Setidaknya psikiater saya belum sampai hati mengatakannya.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara tak sengaja saya mendengar satu lagu Syd Barrett di sebuah toko musik, pada sebuah musim dingin di pinggiran Seoul. Dan kebetulan umur saya juga 16 tahun waktu itu. Ada perasaan merinding yang janggal, murung sekaligus senang, rasa penasaran menjalari kepala saya, atau kombinasi yang aneh dari semua itu. Sesuatu yang misterius. Semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Sejak saat itu saya resmi menjadi penggemar.</p>
<p>Lagu itu adalah &#8220;Effervescing Elephant&#8221;. Sebagai <em>closing track</em> dari album solo keduanya (yang kemudian menjadi album terakhirnya), itu justru termasuk lagu paling awal yang pernah Syd tulis, ketika masih berumur 16 tahun. Tentu saja ini bukan komposisi terbaiknya, tapi lagu tersebut sangat berarti bagi saya. Dinyanyikan hanya dengan iringan gitar kopong, nada lagu ini terdengar riang sekaligus ganjil, sepintas seperti progresi lagu mars untuk anak-anak. Liriknya pun terkesan kekanak-kanakan, meski sebenarnya tidak. Dia memang bercerita soal binatang, sejenis fabel. Namun fabel macam apa, dengan pesan jenis apa, yang keluar dari kepala seorang jenius gila seperti Syd?</p>
<p>Sedikit berbeda dari kebanyakan lirik Syd lainnya yang rumit dan sulit dimengerti, &#8220;Effervescing Elephant&#8221; sebenarnya cukup mudah. Dan tumben struktur dramatiknya jelas. Seperti ada logika bertutur yang dipatuhi, semacam pola Struktur Tiga Babak. Pertama, Perkenalan Karakter dan Masalah. Tersebutlah seekor Gajah, (perhatikan deskripsinya yang teliti &#8220;<em>…with tiny eyes and great big trunk…</em>&#8220;) sedang menyampaikan kekhawatiran tentang kehidupan hutan yang ganas, kepada rekannya sesama gajah yang lebih junior. Hukum rimba berlaku mutlak: siapa kuat, dia bertahan. Dan itu selalu berarti soal siapa memangsa siapa. Dan Harimau, tentu saja, adalah ancaman besar bagi mereka. Gajah Kecil jelas ketakutan, &#8220;<em>…oh my goodness I must stay at home</em>!&#8221;, tapi lagi-lagi, rumah macam apa, di tengah hutan, yang sanggup melindungi binatang dari kejamnya predator alam bebas?</p>
<p>Masuklah babak kedua, Intensifikasi Masalah. Maka ketika Harimau datang, seisi hutan pun tegang. &#8220;<em>…and everytime I hear a growl, I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl.</em>&#8221; Saya membayangkan sesosok loreng dengan otot-otot kaki yang ramping dan lentur, berjalan melenggang. Ya, hanya melenggang. Itu pun sudah cukup membuat sekumpulan binatang resah bukan main, dan mau tak mau mereka harus tetap bergerombol jika ingin selamat dari terkaman sang pemangsa (apakah Syd sedang menyindir konsep agung &#8220;manusia adalah makhluk sosial&#8221; sekaligus <em>homo homini lupus</em>?). Sederetan nama binatang Syd sebutkan, mulai dari Zebra, Mongoose, hingga Kuda Nil pemalas yang gemar berkubang dan mengunyah &#8220;<em>his spicy hippoplankton food</em>&#8220;. Diksi yang amat jeli. Bahkan Greg Graffin, vokalis Bad Religion yang juga profesor biologi di UCLA, rasanya tidak akan pernah terpikir memakai kata &#8216;<em>hippoplankton</em>&#8216; untuk sebuah lirik lagu.</p>
<p>Syd terus menggenjreng gitarnya, bernyanyi dengan suara tak stabil: seperti terlalu rendah saat mengambil nada awal, lalu <em>falsetto</em> di beberapa bagian, untuk kemudian nyaris tercekik kehabisan nafas di bagian lain. Dan tibalah penghujung cerita, Penyelesaian Masalah. &#8220;<em>…and the jungle took fright/ and ran around for all the day and the night</em>.&#8221; Siapa akhirnya yang menjadi santapan Harimau? Kepada siapa Nasib Buruk akan ditimpakan oleh Sang Penguasa? Ketakutan seluruh penghuni rimba sempat terhapus oleh Sabda Raja Hutan: &#8220;<em>You know, I wouldn&#8217;t hurt one of you.</em>&#8221; (Yeah, seperti dalam hidup, harapan seringkali muncul, bukan?) Tapi tunggu dulu, &#8220;<em>I&#8217;d much prefer something to chew</em>.&#8221; (Oh sial, harapan palsu, mulai dibanting.) Pada akhirnya, well, baca saja sendiri kalimat terakhir lirik di atas, ada baiknya setelah Anda selesai mengunduh lagu tersebut di Limewire.</p>
<p>Setiap lagu itu selesai diputar, saya selalu diam termenung. Syd menyisakan 15 detik di akhir lagu hanya dengan suasana sepi, hanya ada suara jengkerik di gelapnya malam, dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, lolongan binatang kesakitan. Saya curiga Syd tak sekadar membicarakan binatang semata-mata. Dia sedang membahas sesuatu yang lebih besar, hal-hal yang tak pernah selesai, lebih subtil, hal-hal yang susah dijelaskan. Pada titik tertentu dalam hidup, seberapa percaya Anda terhadap Takdir (dengan &#8216;T&#8217; besar), berikut segala usaha mengakalinya? Dan hebatnya, segala narasi itu dikemas Syd secara ringkas hanya dalam durasi lagu 1 menit 52 detik. Segala ironi dan kesia-siaan bertahan itu. Nada datar, progesi tak terduga, tanpa <em>reffrain</em>, 173 kata yang padat berisi, dan setiap bait hanya dinyanyikan sekali.</p>
<p>Entah kenapa kalimat terakhir lagu itu selalu mengingatkan saya pada baris puisi Chairil Anwar yang terkenal, &#8220;<em>sekali berarti sudah itu mati</em>&#8220;. Bisa jadi hidup yang sialan ini memang seperti itu: dia hanya sekali, dan tak lebih dari sekumpulan ironi atas hal-hal percuma. Mungkin tak masuk akal, tapi saya menangkap ada kemiripan di situ: keduanya sama-sama berusaha tetap optimis dari awal, meski sekaligus tahu betul betapa semuanya akan selalu berakhir tragis. Seberapa jauh kita sanggup menyiasatinya, untuk kemudian tetap tunduk takluk tak berdaya? Logika ironi selalu diramu dari bahan-bahan menyebalkan seperti itu. Chairil berharap panjang umur (&#8220;<em>aku mau hidup seribu tahun lagi</em>&#8220;), tapi toh penyakit TBC menghentikannya di angka 27. Sementara di lagu &#8220;Dark Globe&#8221;, komposisi terbaiknya menurut saya, Syd menyanyi dengan tenggorokan sedih luar biasa, &#8220;<em>Won&#8217;t you miss me?/ Wouldn&#8217;t you miss me at all?</em>&#8221; Dan kita tahu, karir musiknya yang brilian terpaksa terhenti di rentang waktu sangat pendek, setelah dinyatakan sebagai &#8216;<em>an incurable mad man</em>&#8216; oleh dokter jiwa, untuk kemudian menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang gila (dalam arti harfiah) dan tinggal di rumah ibunya hingga akhir hayatnya. Sering terlintas di benak saya, apa jadinya jika Chairil dan Syd, yang sama-sama tertarik tema kesepian transendental, hidup di zaman sama dan berkolaborasi? Seperti apa Chairil (dia penerjemah andal) mengalihbahasakan lirik lagu Syd &#8220;<em>when I was alone/ you promised the stone from your heart</em>&#8220;? Dengan nada minor macam apa Syd menyanyikan baris puisi Chairil &#8220;<em>aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang</em>&#8220;?</p>
<p>Ya, saya selalu kagum pada mereka yang demikian fasih perihal binatang-binatang sebagai metafor. Selain lagu di atas, beragam satwa bertebaran di karya-karya Syd Barrett, mulai dari Angsa, Burung, Serigala, hingga Cumi-cumi. Bahkan di salah satu sampul albumnya, tergambar bermacam-macam Serangga. Sementara satu-satunya hal yang pernah saya lakukan soal binatang, hanyalah sebaris puisi tolol berikut ini, yang tak mungkin hinggap di kepala Chairil Anwar, saya tulis di usia 7 tahun: &#8220;<em>Once I had a cat. Now he’s dead</em>.&#8221; Well, setidaknya itu berima.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?2ymaewitwgk" target="_blank"><strong>Syd Barrett &#8211; Effervescing Elephant</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>O Judge Dredd, Where Art Thou?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;They call him Judge, his last name is Dredd. So break the law, and you wind up dead.&#8221; (&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album Among The Living, 1987) Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="komikmagnetik" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/komikmagnetik.jpg" alt="komikmagnetik" width="160" height="217" /><em><span style="color: #ffffff;"> </span>&#8220;They call him Judge, his last name is Dredd.<br />
</em><em>So break the law, and you wind up dead.&#8221;</em><br />
(&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album <em>Among The Living</em>, 1987)</p>
<p>Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil&#8212;rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat <em>ngantor </em>demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. &#8220;<em>Life begins at six forty</em>!&#8221; (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si <em>slacker</em>: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain <em>metalhead</em>, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan.<span id="more-237"></span></p>
<p>Saya, masih kelas 2 SD waktu itu, sepulang dari sekolah sering main-main ke kamarnya, yang penuh puntung rokok, tumpukan kaset, dan komik bertebaran di mana-mana. Dialah yang pertama kali mencekoki saya dengan Batman (&#8220;<em>Daripada jadi Clark Kent mending jadi Bruce Wayne, nggak usah kerja udah kaya raya</em>!&#8221;), tak menggubris protes saya saat disuruh membuang komik-komik Donal Bebek (&#8220;<em>Tapi kan Paman Gober juga nggak kalah kaya, Mas</em>!&#8221;), dan menertawakan idola saya Gundala Putra Petir (&#8220;<em>Kamu pernah baca Flash nggak sih</em>?&#8221;). Saya tahu semua sikapnya menyebalkan, tapi apa yang bisa dilakukan anak umur 8 tahun yang juga merindukan figur seorang kakak sekaligus teman? Kamarnya selalu bising dengan lagu-lagu cadas, tapi toh saya tetap datang dan datang lagi. Saya ingat betul kenapa lagu<em> </em>Anthrax &#8220;I Am The Law&#8221; terus menerus dia putar: sebab lagu itu itu bercerita sepenuhnya tentang tokoh komik favoritnya&#8212;Judge Dredd! Yeah, hampir semua tokoh komik superhero impor digemarinya, namun di atas segalanya, Judge Dredd adalah pahlawan dia nomor satu. Lagipula, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang fakta bahwa band favorit kita berbagi cerita tentang jagoan yang sama?</p>
<p>Selama intro lagu itu&#8212;kocokan gitar tebal diadu dengan gebukan drum gagah, memakan waktu 1 menit sendiri&#8212;tetangga saya itu ber-<em>headbanging</em> heboh di atas kasur, lalu dengan lantang meneriakkan lirik demi lirik, &#8220;<em>He keeps peace with his law-giver, judge, jury, and executioners</em>!&#8221; Dan menjerit sekeras-kerasnya di bagian &#8220;<em>I am the law, you won&#8217;t fuck around no more</em>!&#8221; Ketika dia tunjukkan adegan demi adegan Judge Dredd berjibaku di lembar-lembar komik koleksinya, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca.</p>
<p>Dalam hati&#8212;tentunya setelah bertahun-tahun kemudian&#8212;saya sering bertanya-tanya, jangan-jangan itu semua berhubungan dengan latar belakangnya sebagai anak seorang penegak hukum, ditambah kemungkinan batinnya sedang tertekan oleh persoalan hidup entah apa. Judge Dredd, sang jagoan berseragam yang menggabungkan kekuatan polisi, wibawa hakim, kebrutalan preman, teknologi mutakhir, dan sedikit aroma monster Frankenstein itu jelas mengejek sistem penegakan hukum di masyarakat masa depan. Atas nama hukum, aparat boleh bertindak apa saja, termasuk menghabisi nyawa si pelanggar hukum. Saya tidak sedang bicara moral atau soal benar salah di sini, tapi saya hanya curiga: bahwa yang dilihat tetangga saya di sosok Judge Dredd itu bukanlah kesewenang-wenangan aparat akibat kekuasaan, tapi semata-mata kebebasan bertindak. Bukankah dia mendambakan kemerdekaan, yang hanya diperoleh ketika rumahnya kosong, dan bapaknya, seorang hakim terhormat, sedang tidak berada di tempat?</p>
<p>Namun apapun itu, sejak itulah saya mulai berpikir ulang tentang persepsi primitif masa kecil saya perihal komik. Bahwa ternyata komik tak melulu tentang superhero (atau kalaupun masih, lebih sering muncul dalam parodi, atau antihero), bahwa narasi hitam putih bisa jadi sudah basi, dan bahwa telah (sedang, dan akan selalu) ada kebutuhan terciptanya format-format baru yang lebih menantang. Beranjak dewasa, saya harus berpisah selama-lamanya dengan tetangga saya itu. Saya bersekolah di luar kota, dan ada berita sedih: dia minggat dari rumahnya, lenyap tanpa kabar. Ada yang bilang dia menjadi preman di ibukota, dan kabar terbaru: dia mati ditusuk di sebuah huru-hara. Ayahnya, kini pensiun sebagai hakim, berduka untuk kedua kalinya, menghabiskan masa senja dengan berpindah domisili entah ke mana. Sementara di saat bersamaan. saya mulai &#8220;meninggalkan&#8221; komik, sedikit &#8220;beralih&#8221; dengan menemukan keasyikan di gambar bergerak alias film. Namun tiap kali tak sengaja mendapati tumpukan komik impor di toko buku, saya selalu teringat tetangga saya itu. Diam-diam saya bersyukur dia tak sempat menonton akting buruk Stallone di film <em>Judge Dredd</em> (1995)&#8212;sebuah upaya gagal memindahkan karakter komik ke pita seluloid. Bisa-bisa dia meringis kecewa.</p>
<p>Zaman makin berubah, dan perkembangan komik di negeri ini pun memasuki babak baru. Komik-komik bawah tanah mulai tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Pakem bertutur konvensional yang saya pahami, terang-terangan mereka labrak: panel-panel makin diruntuhkan, ada keliaran imajinasi yang semakin menjadi-jadi, serta imbuhan elemen lain seperti permainan kolase, baik untuk teks maupun gambar. Ada memang, yang terkesan asal-asalan, baru setengah jadi, atau cuilan-cuilan momen keseharian yang &#8216;Gak Penting&#8217; (tapi sebenarnya apa sih, yang &#8216;Penting&#8217; itu?), namun entah kenapa, beberapa di antaranya berhasil menggetarkan hati. Jangan-jangan justru di situ poinnya: mereka cuek dengan tampilan, toh yang lebih esensial adalah gagasan. Ada gairah bermain-main di situ&#8212;sebuah kesadaran penuh sebagai <em>homo ludens</em>&#8212;maka jika kemerdekaan bercerita dan ketersampaian pesan justru tercapai dengan mempreteli segala perangkat baku itu, kenapa tidak?</p>
<p>Ketika pameran komik—baik yang &#8220;lurus&#8221; maupun eksperimental&#8212;mulai menjamur di mana-mana, ingin rasanya saya ajak tetangga saya itu datang melihat-lihat. Saya penasaran apa pendapat dia. Tapi di mana dia sekarang? Saya tidak tahu. Jangan-jangan sebenarnya dia selalu &#8216;ada&#8217; menemani saya. Barangkali di alam sana, sambil menekuni halaman demi halaman komik Judge Dredd, dia tetap meneriakkan lagu Anthrax kesukaannya. Namun akankah dia bersetia pada lirik &#8220;<em>so break the law, and you wind up dead</em>&#8220;? Entahlah. Angkat gelasmu, ayo bersulang untuk kebebasan!</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penikmat budaya pop, tinggal di Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ditulis sebagai catatan pendamping<em> </em>&#8220;<strong>Komik Magnetik</strong>&#8220;&#8212;Pameran Komik 10 Seniman, di RURU Gallery, ruangrupa, 14-29 November 2009. Kurator: Ifan Ismail dan Yudha Sandy.</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?j5iy5kzkyzm" target="_blank"><strong>Anthrax &#8211; &#8220;I Am The Law&#8221;</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Si Koin Bolong</title>
		<link>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[. there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose &#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album Nine Lives, 1997 Dulu waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-305" title="yencoinbolong" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/yencoinbolong1.jpg" alt="yencoinbolong" width="230" height="162" /><em>there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose<br />
</em>&#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album <em>Nine Lives</em>, 1997</p>
<p>Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja &#8220;Masih ada, Bu!&#8221;&#8212;ini persoalan etika menyenangkan orang seberang&#8212;sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu.<span id="more-82"></span></p>
<p>Saya yakin pasti ada pertimbangan lain yang bukan sekadar artistik belaka. Ketika tinggal di Mishima beberapa hari, menatap lebih dekat salju di pucuk gunung Fuji sambil membaca novel-novel Yukio Mishima (benar-benar kombinasi kegiatan yang sangat pas! Alias norak banget), saya bertanya ke Motonori (teman sebangku di sekolah yang suka main tamagotchi) soal koin itu, dan dia juga hanya bisa mengangkat bahu—belakangan saya baru tahu minat dia lebih ke musik dan membentuk band punk bareng tetangga sebelah rumahnya. Wuiih, ini rukun warga pangkeh bener!</p>
<p>Sampai balik ke Indonesia, pertanyaan itu tetap tidak terjawab. Saya malah menjadikan koin bolong itu sebagai bandul kalung, hingga saya masuk bangku kuliah di Bandung dan mulai nyadar bahwa ternyata <em>geuleuh</em> juga ya kalung itu (<em>pisan, jang!</em>). Akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari sebuah buku, yang saya beli dengan harga cukup wajar di pojok Lt. 3 Gramedia Merdeka, ini dia cuplikannya:</p>
<blockquote><p><em>Why do ¥5 and ¥50 coins have holes?</em></p>
<p><em>When the Japanese economy was based on the sen (¥0.01) rather than the yen, there were several coins with circular holes in the middle. During the first half of 20th century the holes disappeared and coins were distinguished by size and material. There was also a time when there were not so many denominations of coins, so one of two distinctions sufficed. Today, however, we have coins of ¥1, ¥5, ¥10, ¥50, ¥100, and ¥500 value. Size alone, even with the addition of tooled edges, is insufficient to help the user recognize the denomination. The hole was, therefore, reintroduced to help even people with limited sight distinguish between ¥5 and ¥10 coins and ¥50 and ¥100 coins by feel alone.</em></p>
<p>(<em>Japan from A to Z, Mysteries of Everyday Life Explained</em>. p.28-29. James M. Vardaman, Jr. and Michiko Sasaki Vardaman. Yenbooks, 1995)</p></blockquote>
<p>Ah, dasar orang Jepang, sampai segitunya. Tapi bagus sih, niatnya mulia. Lalu apa hubungannya koin Yen dengan lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;-nya Aerosmith yang saya kutip di awal tulisan? Sama-sama bolong aja, gitu? Bukan. Begini ceritanya. Lagu itu sedang populer waktu saya balik ke Indonesia, dan ada seorang teman baik saya di SMA yang pacarnya lagi suka banget lagu itu. (Teman baik saya itu cuma minta &#8220;oleh-oleh&#8221; koin Yen buat koleksi mata uang dia. Hehehe, itu sih oleh-oleh yang gampang dan murah!). Di <em>sleeve</em> kasetnya rupanya tidak disertakan lirik, dan waktu itu internet belum sangat populer di tempat kami. Demi tampil heroik di mata ceweknya, jadilah saya ditodong untuk men-transkrip lirik lagu itu. Tentu saja dia nanti akan bilang ke ceweknya bahwa dia-lah yang telah bersusah payah men-transkripnya, spesial atas nama cinta. Well, taktik gombal murahan sebenarnya, tapi siapa tahu ampuh.</p>
<p>Di radio tape butut miliknya (sumpah butut banget), dengan semangat mulia &#8220;<em>a friend in need is a friend indeed</em>&#8221; membara di dada, kami memutar kaset itu berulang-ulang, mencatat kata demi kata. Sementara saya pasang kuping baik-baik (listening saya sebenarnya sama bututnya), teman saya itu malah sibuk mencabuti jenggotnya dengan dua koin Yen yang bolong tengahnya itu. Buset, kayak tukang ojek lagi nungguin penumpang aja. Liriknya mulai tercatat sedikit demi sedikit. Ketika baru sampai baris &#8220;<em>&#8230;yeah there&#8217;s a hole in my soul, but one thing I&#8217;ve learned, for every love letter written, there&#8217;s another one burned&#8230;</em>&#8221; (hmmm, dalem juga si Oom Tyler ini!) radio tape butut itu mulai batuk-batuk. Uhuk-uhuk. Well, usia lanjut tak bisa bohong. Begitu sampai lirik &#8220;<em>&#8230;is it over, is it over, ‘cause I&#8217;m blowin&#8217; out the flame&#8230;</em>&#8221; radio tape itu tiba-tiba berhenti bekerja. Sialan, pas banget sama liriknya!</p>
<p>&#8220;Tenang Bud, bentar lagi dia jalan lagi kok. Dia emang suka begitu&#8230;&#8221; ujar teman saya itu meyakinkan, sambil mengetok-ngetok bodi renta radio tape-nya. Tapi rupanya kali ini lain. Ditunggu-tunggu lama, radio tape itu tak mau hidup lagi. Diketok-ketok lagi, diam saja. Saya mulai khawatir, jangan-jangan wafat beneran. Padahal kata Chairil Anwar, &#8220;kerja belum selesai, belum apa-apa.&#8221;</p>
<p>Dengan otoritas penuh sebagai pemilik sah, akhirnya teman saya itu dengan pedenya mencoba membongkar dikit-dikit radio tape kesayangannya itu. Ini demi cewekku, katanya sambil sesekali menerawang (halo, sinetron). Maka dibukanya bodi radio tape yang sudah bau tanah itu. Beberapa sekrupnya, itupun kalau masih bisa disebut sekrup, sudah karatan dimakan usia. Waduh, saya lupa teman saya itu orangnya agak ceroboh. Bukannya ditaruh dulu, koin Yen bolong dia itu (plus beberapa helai jenggotnya menempel di situ) malah kecemplung masuk ke dalam radio tape butut itu! Yak, sempurna!</p>
<p>Koin sialan itu nyelip di antara kabel keropos dan onderdil busuk. Setelah mengumpat secukupnya, dia mengajak saya membongkar total radio tape itu. Saya sebenarnya males, tapi demi persahabatan (uhuk-uhuk!) saya menurut saja. Baiklah, ambil obeng, dsb. Bongkar sana bongkar sini, dsb. Tapi karena kami berdua tidak begitu paham soal barang-barang elektronik, jadilah duo-amatir-sok-tukang-reparasi ini cuma bisa &#8216;terima bongkar, tidak terima pasang&#8217;. Alias, &#8216;terima bongkar.. dan terima kasih&#8217;. Jadilah radio tape itu makin ancur. Operasi kami gagal total, dan bertambah satu lagi kasus malpraktik di Indonesia. Ketika kami membawanya ke tukang reparasi beneran di daerah dekat Kraton, diagnosis resmi yang kami terima adalah: &#8220;Wah, ini sih harus diganti, Dik!&#8221; … &#8220;Oh gitu? Diganti apanya ya Mas? Onderdilnya?&#8221; … &#8220;Bukan. Radio tapenya! Beli aja yang baru!&#8221;</p>
<p>Teman saya tersenyum kecut. Penuh haru, diangkutnya radio tape butut legendaris itu pulang. Didekapnya erat-erat, mungkin semacam penghormatan terakhir. Saya mengekor saja di belakang. Di perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Kami berkabung. Di kepala saya berkumandang lagu &#8220;Gugur Bunga&#8221;, adegan tentara baris berbaris, plus beberapa tembakan salvo. Jadilah teman baik saya itu gagal tampil heroik di depan ceweknya. Seminggu kemudian, mereka putus.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">PS.<br />
Download di <a href="http://www.4shared.com/file/94488155/d870f688/Aerosmith_-_Hole_In_My_Soul.html" target="_blank"><strong>sini</strong></a> jika ingin mendengar lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopi, TV, Popularitas</title>
		<link>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 01:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Y&#8217;know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating &#8216;coffee is so delicious, it would be a pity to let the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-281" title="coffeeandtvmilk2" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/07/coffeeandtvmilk2.JPG" alt="coffeeandtvmilk2" width="302" height="223" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;Y&#8217;know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating &#8216;coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it&#8217;. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.</em>&#8221;<br />
&#8212;Bob Dylan, memperkenalkan &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; di acara radionya pada tahun 2006</p>
<p>Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung.<span id="more-69"></span> <strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6oqXVx3sBOk&amp;ob=av3e" target="_blank">Videoklip &#8220;Coffee &amp; TV&#8221;</a> </strong>adalah cerita tentang sebuah misi mulia. Sebuah upaya penyelamatan. Perjalanan si kotak susu menjadi sangat heroik sekaligus mengharukan. Dan perjuangannya tak sia-sia. Si anak hilang berhasil ditemukan—dia sedang bermain musik, nge-band bersama teman-temannya. Si anak hilang pun bergegas pulang, meninggalkan teman-temannya, kembali ke rumah orangtuanya. Tugas si kotak susu selesai.</p>
<p>Blur, band asal Inggris, berhasil menerjemahkan lirik lagunya ke dalam bahasa gambar videoklip dengan cara yang &#8216;berbeda&#8217;. Lirik lagu &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; sendiri bercerita tentang seorang superstar yang lelah akan dunianya. Lirih, lagu bernuansa minor ini dilantunkan—setengah berharap, setengah mengejek. &#8220;<em>Do you feel like a chain store/ practically floored/ one of many zeros/ kicked around bored…</em>&#8221; Popularitas menjadikan seorang bintang seakan-akan (harus) hidup dalam deretan etalase toko: siap dilihat-lihat, dan oleh sebab itu harus bagus—karena konsumen adalah raja. Sang bintang pun terjebak dalam rutinitas itu: rangkaian konser yang gegap gempita, jadwal tur yang melelahkan, kejaran pers, dan histeria penggemar. Ruang gerak pun menjadi terbatas. Privasi tiba-tiba menjadi satu hal langka.  Penggemar bisa berada di mana saja, siap mengejar-ngejar untuk sekadar tanda tangan atau foto bersama. Sesuatu yang mungkin pada awalnya menyenangkan, membanggakan, tapi lama-kelamaan merepotkan juga. Sang bintang pun merasa letih. Mungkin juga jenuh—dan karenanya ingin sekali-kali hengkang dari situ. Di bagian <em>reffrain</em>, dengan teriakan setengah tertahan, keinginan itu diungkapkan: &#8220;<em>&#8230;so give me coffee and TV easily/ I’ve seen so much/ I’m going blind/ and braindead virtually…</em>&#8221; Hal-hal sepele pun kemudian menjadi sangat berharga: ditemani secangkir kopi, menonton televisi, menjalani kehidupan seperti orang lain, layaknya seorang manusia biasa.</p>
<p>Videoklip lagu ini tak lantas ber-&#8217;frontal ria&#8217;. Dia tidak hendak menerjemahkan lirik lagu begitu saja. Dipilihnya cara penyampaian yang lebih &#8216;halus&#8217;. Sebuah sudut pandang yang sedikit berbeda, tanpa harus menyimpang dari tema utama dan pesan lagu yang ingin disampaikan. Tak ada sepotong pun adegan tentang gemerlapnya dunia bintang. Tak ada kilapan blitz kamera dan lampu-lampu panggung yang menyilaukan. Tak ada kepungan mikrofon wartawan dan teriakan histeris penggemar. Sebagai gantinya, dipakainya simbol-simbol, yang cukup simpel tapi dalam: kotak susu dan foto anak hilang.  Hampir seluruh adegan adalah petualangan seru si kotak susu. Sang bintang digambarkan sebagai &#8220;si anak hilang&#8221;. Sebuah kiasan yang cukup bersahaja. Bahwa si kotak susu harus menempuh perjalanan yang cukup berat—untuk ukuran sebuah kotak susu—menggambarkan betapa misi mulia itu tidaklah mudah: &#8220;mengembalikan&#8221; sang bintang ke dunianya yang semula. Betapa tidak gampang untuk keluar dari sebuah lingkaran setan bernama &#8220;dunia <em>showbiz</em>&#8221; itu. Dunia yang penuh gemerlap, tampak menyenangkan, tapi sekaligus kejam. &#8220;<em>Take me away from this big bad world&#8230;</em>&#8220;—Blur bahkan menggambarkannya sebagai &#8220;sebuah dunia besar dan buruk&#8221;.</p>
<p>Dunia bintang ternyata tak selalu seenak kelihatannya, dan popularitas tak selamanya menyenangkan. Tak jarang mereka memaksa seorang bintang harus terus memakai topeng, demi menghibur penggemar. &#8220;<em>Your ears are full but you’re empty/ holding out out your heart/ to people who never really/ care how you are&#8230;</em>&#8221; Ada &#8216;kekosongan&#8217; di tengah ketenaran itu, menyelinap diam-diam. Ada sesuatu yang hilang.  Tapi siapa yang mau peduli &#8216;kehampaan&#8217; itu? Tiba-tiba kita teringat kisah tragis Kurt Cobain. Popularitas Nirvana—lengkap dengan segala konsekuensinya—ternyata, siapa sangka, sangat menyiksa dia. Salah satu judul lagunya yang terkenal, &#8220;I Hate Myself And I Want To Die&#8221; seakan mengisyaratkan sesuatu. Semacam beban yang berat. Bisa jadi sesuatu yang tak terjelaskan, namun menghimpit. Surat terakhirnya lebih menegaskan lagi: &#8220;<em>…kejahatan terbesar yang pernah aku lakukan adalah naik ke panggung dan mempertontonkan kepalsuan…</em>&#8221; Dan matilah si dewa grunge itu—dengan pistol ia meledakkan kepalanya sendiri. Tragis.  Blur bukannya tak tahu hal itu. Invasi pertama Blur ke Amerika di awal &#8217;90-an—mencoba mengulang kesuksesan Beatles—gagal total karena demam grunge ala Nirvana sedang kuat-kuatnya melanda Amerika. Band asal Inggris lainnya, Oasis, yang sukses menginvasi Amerika beberapa tahun kemudian, juga pernah menulis tentang risiko sebuah popularitas. Lirik lagu &#8220;Champagne Supernova&#8221; mereka menyiratkan hal itu: &#8220;<em>How many special people change/ how many lives are living strange/ where were you when we were getting high?</em>&#8221;</p>
<p>Dunia pesohor tak selamanya indah. Blur pernah menjadi bintang, merasakan popularitasnya, menanggung risikonya. Dan mereka ingin sekali-kali &#8220;keluar&#8221;—sebelum beban itu meledak. Melepaskan label-label superstar mereka, meski cuma sejenak. Mereka memilih cara yang sehat: dengan &#8220;kopi dan televisi&#8221;—bukan pistol. Pilihan yang manis. Lebih manis lagi, dengan sekotak susu yang berjalan-jalan lucu sepanjang videoklip.</p>
<p style="text-align: right;">Bandung, Mei 2001<br />
<strong>Budi Warsito</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>[MP3]</strong> <a href="http://www.mediafire.com/?ntzhaovywi3" target="_blank"><strong><br />
Blur &#8211; Coffee and TV</strong></a> (album <em>13</em>, 1999) <a href="http://www.mediafire.com/?nyygdgnvyy1" target="_blank"><strong><br />
Blur &#8211; Coffee and TV</strong></a> (Live at Hyde Park, July 2009)</p>
<p><strong>[video]</strong><br />
<strong><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6oqXVx3sBOk&amp;ob=av3e" target="_blank">Blur &#8211; Coffee and TV</a></strong> (YouTube)</p>
<p><strong>UPDATE:</strong><br />
<span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Di videoklip yang dibuat tahun 1999 ini, &#8220;si anak hilang&#8221; diperankan oleh gitaris Blur, Graham Coxon, yang juga menulis lirik &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; dan menyanyikannya sendiri (di lagu ini vokalis Damon Albarn hanya mengiringi sebagai vokal latar). Uniknya, melalui videoklip ini Graham Coxon seolah meramalkan nasibnya sendiri. Tiga tahun setelah itu lagu itu dibuat, dia hengkang dari Blur, meninggalkan teman-temannya, dan melanjutkan proyek solonya.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Setelah perpisahan itu, Blur sempat merilis album <em>Think Tank</em> (2003), untuk kemudian vakum hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Tiap personel disibukkan dengan proyek musik dan non musik masing-masing. Berbagai rumor bercampur harapan menyebutkan kemungkinan reuni formasi lengkap (termasuk Graham Coxon) dan rencana meliris album baru Blur. Namun harapan tinggal harapan. Dalam sebuah wawancara pada Oktober 2007, Damon Albarn mengakui ada masalah internal yang tidak kunjung terpecahkan dan bahwa reuni itu tidak akan pernah ada.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Namun akhirnya Blur sepakat rujuk kembali, dan mengadakan konser reuni yang fenomenal di Hyde Park, London pada 2 Juli 2009. Ketika penjualan tiket konser itu mulai dibuka via online setengah tahun sebelumnya, puluhan ribu tiket langsung ludes hanya dalam waktu 2 menit!</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Sutradara videoklip ini, Garth Jennings (tergabung dalam Hammer and Tongs), juga membuat videoklip keren lainnya: &#8220;Imitation of Life&#8221;-nya R.E.M (2001) yang unik, dan &#8220;Silent Sigh&#8221;-nya Badly Drawn Boy (2002) yang menyentuh.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atas Nama Jalanan&#8230;</title>
		<link>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 02:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…&#8221; &#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221; Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-271" title="breathless" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2007/10/breathless.jpg" alt="breathless" width="380" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…</em>&#8221;<br />
&#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221;</p>
<p>Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir <em>nyerempet</em> mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama <em>suspense</em> sedang terjadi.<span id="more-111"></span> Perhatikan pula sekelilingnya, sebuah ruang pentas berbagai <em>genre</em> peristiwa: dua polisi gendut duduk-duduk santai sambil <em>ngerumpi</em>, padahal lalu lintas padat jelas-jelas membutuhkan mereka (<em>komedi satir</em>); mbak-mbak pegawai kantoran tergopoh-gopoh menyusuri lorong gang sempit, cemas karena diikuti preman suruhan mantan pacarnya yang sakit hati (<em>thriller</em>); anak-anak STM tawuran, kejar-kejaran sambil menghunus pedang (<em>action</em>); atau sepasang remaja modis saling menatap malu-malu di dalam mobil mewah (jelas punya orangtua mereka) dan menunggu-nunggu kapan bisa berciuman (<em>drama remaja</em>). Segala peristiwa itu terjadi berbarengan, di sebuah <em>setting</em> besar bernama EXT. JALANAN.</p>
<p>Begitu juga pengamen di perempatan, yang <em>misuh-misuh</em> nadanya jadi agak fals lantaran harus berkelit menghindari ojek yang ugal-ugalan. Padahal gitar kopongnya (lecet kena seruduk ojek) sedang mendendangkan lagu lawas KLa Project yang merepresentasikan dirinya: &#8220;<em>…musisi jalanan mulai beraksi, seiring langkahku kehilanganmu…</em>&#8221; Barangkali dia kehilangan beberapa rupiah, atau dia sedang sentimentil. Namun kita tahu, jalanan tidak melulu soal &#8220;kehilangan&#8221;. Jalanan juga &#8220;menumbuhkan berbagai hal&#8221;. Jika tidak, bagaimana mungkin para seniman menghasilkan karya-karya mumpuni yang inspirasinya jelas-jelas dicomot dari jalan?</p>
<p>Film <em>City of God </em>(2002), misalnya, menunjukkan betapa jalanan bisa berarti keji, dan dendam pribadi mampu menjelma kekuatan kolektif yang brutal dan mengerikan. Segala drama jalanan yang keras dan penuh darah, termasuk perang antar geng di Rio de Janeiro dengan senjata api, jelas disadari sutradara Fernando Meirelles sebagai bahan dasar mengasyikkan untuk dipindahkan ke pita seluloid. Sama-sama mengangkat tema jalanan, Garin Nugroho memilih Jogja dan menghasilkan sketsa kemiskinan yang menggugah, lewat permainan akting anak jalanan non-aktor di film <em>Daun di Atas Bantal</em> (1998). Sementara di film <em>Slacker</em> (1991), Richard Linklater seperti hendak memberi aura positif kepada para <em>slacker</em> yang luntang-lantung di jalanan, bergaya bohemian dan meracau soal Dostoevsky, UFO, Marxisme, teori konspirasi JFK, dan Madonna. Perhatikan juga film <em>Breathless</em> (1960), mahakarya Jean-Luc Godard dengan <em>scene</em> legendarisnya: gadis Amerika berteriak menjajakan koran di jalanan Paris, &#8220;<em>New York</em><em> Herald Tribune! New York Herald Tribune!</em>&#8221; Menarik sekali mencermati <em>street fashion</em> di film itu: Jean Seberg tampil manis dengan model rambut <em>pixie</em>, <em>t-shirt</em> semi-turtleneck dengan lengan digulung, dipadu celana capri dan <em>flats</em>; berjalan di sebelah Jean-Paul Belmondo yang mengenakan setelan jas dan <em>ankle-high slim pants</em>, topi fedora, mengisap rokok dan merasa dirinya Humphrey Bogart.</p>
<p>Di situlah sebenarnya keunikan budaya jalanan: tak ada yang betul-betul persis satu sama lain. Apa yang khas di sudut Paris tentu berbeda dengan jalanan Amerika Latin, dan pelosok Jogja jelas lain dengan hiruk pikuk di Shinjuku. Dan tidakkah itu seru dan menantang untuk digali? Keragaman dirayakan, kebebasan berekspresi diberi tempat, dan jalanan penuh sesak dengan inspirasi. Tak heran seorang <em>filmmaker</em> pemula yang kebingungan mencari ide untuk karya pertamanya, mendapat wejangan singkat dari seniornya: &#8220;Ambil kameramu, dan pergilah ke jalan.&#8221; Mungkin dia bisa mulai dengan bertanya-tanya apa yang ada di benak Damon Albarn saat terkesima melihat kata-kata graffiti di salah satu sudut kota London. Sedemikian pentingkah suara ekspresif khas jalanan itu, hingga Albarn menjadikan graffiti tersebut judul album kedua Blur di era ’90-an: &#8220;<em>Modern life is rubbish</em>&#8220;? Bisa jadi iya. Dunia modern kian letih, monoton, butuh pencerahan-pencerahan baru. Dan bukan tidak mungkin kesegaran itu justru muncul dari jalanan: aksi manuver tukang ojek, makian khas pengamen, gaya berpakaian seenaknya, atau coretan di dinding-dinding jalan. Persis seperti &#8216;ramalan&#8217; Simon and Garfunkel: &#8220;<em>…sabda nabi-nabi tertulis di tembok-tembok subway…</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

