[Cerpen Favorit] Memento Mori

November 18th, 2006 » 1

.
(a short story by Jonathan Nolan)

1
“What like a bullet can undeceive!”
—Herman Melville

Your wife always used to say you’d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.

Right about now you’re probably wondering if you were late for hers.

You were there, you can be sure of that. That’s what the picture’s for—the one tacked to the wall by the door. It’s not customary to take pictures at a funeral, but somebody, your doctors, I guess, knew you wouldn’t remember. They had it blown up nice and big and stuck it right there, next to the door, so you couldn’t help but see it every time you got up to find out where she was.

The guy in the picture, the one with the flowers? That’s you. And what are you doing? You’re reading the headstone, trying to figure out whose funeral you’re at, same as you’re reading it now, trying to figure why someone stuck that picture next to your door. But why bother reading something that you won’t remember? » Read the rest of this entry «

Lumière et compagnie

September 20th, 2006 » 0

.

LumiereTentang sinema, Lauren Bacall, aktris film-noir tahun 1940-an, pernah berkata, “The industry is shit, it’s the medium that’s great.” Terdengar sedikit heroik memang, tapi apa boleh buat: dalam wacana sinema, persoalan medium selalu jadi perbincangan menarik. Setelah Louis dan Auguste Lumière menemukan kamera film pertama di dunia pada tahun 1895, sejarah sinema pun dimulai. Film Lumière et compagnie ini adalah proyek sinting tentang penghormatan pada keajaiban gambar-hidup. Untuk memperingati 100 tahun kelahiran sinema, 40 sutradara ternama dari berbagai belahan dunia ditantang membuat film pendek dengan kamera Cinematograph, yakni kamera sama yang juga dipakai Lumière Bersaudara pada tahun 1895. Ada 3 aturan ketat: durasi film tak boleh lebih dari 52 detik, synchronized sound tidak diperbolehkan, dan maksimal hanya 3 kali take. » Read the rest of this entry «

A Woman Is A Woman

February 7th, 2006 » 0

.

awomanisawoman!

Angela, seorang penari striptease berwajah melankolis, bermimpi bisa tampil di pergelaran musikal nan megah bersama Gene Kelly. Namun ada satu impian sederhana yang melebihi segalanya: segera hamil dan punya anak. Mungkin Angela memang konvensional, perempuan ini hidup di satu sudut Paris tahun 1960-an, tapi begitulah jalan pikirannya—dia juga berkeyakinan “We should boycott women who don’t cry.” Emile, sang pacar yang tinggal serumah, menolak niat hamil itu. Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Sementara Alfred, teman baik mereka berdua, kebetulan juga menaruh hati pada Angela. Plot cinta segitiga terjalin. Sekilas tampak sederhana, namun di tangan seorang Jean-Luc Godard, segalanya bisa jadi sangat berbeda. » Read the rest of this entry «

Goodbye, Dragon Inn

December 12th, 2005 » 0

goodbyedragoninn

.
Di salah satu sudut kota Taipei, sebuah bioskop tua harus menghadapi kematiannya. Malam itu adalah pertunjukan terakhirnya sebelum gulung tikar. Di luar, gerimis belum juga reda, atap bocor, dan air menggenang di lantai. Hanya segelintir penonton yang datang membeli karcis. Bioskop tampak begitu lengang, penonton membisu, terhanyut di antara hamparan kursi-kursi kosong. Sesekali terdengar derak-derak roda proyektor, dan suara pertarungan pedang dari film kungfu klasik berjudul Dragon Inn yang diputar di layar. » Read the rest of this entry «

Psycho

March 15th, 2005 » 0

psycho!

.

Norman Bates adalah pemuda canggung yang mengelola motel misterius, di sudut antah berantah sebuah kota kecil. Dia seorang penyendiri, dengan hobi aneh mengawetkan burung-burung, dan yang agak keterlaluan: mengintip tamu-tamunya. Hubungan dekatnya dengan sang ibu juga terasa janggal dan berlebihan, yang dalam istilahnya sendiri: “a boy’s best friend is his mother.” Alfred Hitchcock, si raja film-film mencekam, memperkenalkan tokoh Norman Bates ke layar lebar, dan sukses menjadikannya ikon legendaris untuk standar istilah ‘psikopat » Read the rest of this entry «

Aku Ingat, Maka Aku Ada

February 21st, 2002 » 0

.

photocopies

(sebuah surat tanpa alamat)

Nirmala kekasihku,
Di hari-hari seperti ini, aku teringat padamu: awal musim penghujan, pagi yang basah, dan betapa kenangan atas dirimu terasa semakin mengental. Kerinduan yang kian memuncak, dan untuk itu kutulis sepucuk surat. Puluhan surat telah kukirim padamu, Nirmala. Dan tak satupun yang kau balas. Aku mencoba untuk mengerti. Kau pasti terlalu sibuk dengan lingkungan barumu. Apakah teman-teman barumu lebih asyik diajak bertukar pikiran ketimbang aku, Nirmala? Aku tak tahu, apakah mereka juga suka menonton film seperti aku. Kau tak pernah cerita padaku. Tapi tak apa, toh aku takkan pernah bosan menulis surat untukmu. Bukankah cinta hanya butuh kesetiaan, meski logika tak mau mengerti? » Read the rest of this entry «

The Celebration

January 17th, 2002 » 0

.

festen!

Reuni sebuah keluarga besar bisa mengarah pada dua kemungkinan. Pesta meriah yang cerah ceria, sarat nostalgia dan gelak tawa; atau justru sebaliknya: suasana tak enak yang mengharu biru, cacat masa lalu yang bikin gerah dan para tamu yang tak betah. The Celebration lebih memilih yang kedua. Perayaan ulang tahun ke-60 seorang bapak, yang dihadiri anak, cucu, menantu, dan seluruh kerabat—acara yang harusnya menyenangkan—berubah menjadi jamuan makan malam yang absurd dan penuh kejutan yang benar-benar mengganggu. Ini bukan soal gelas yang tak sengaja pecah di tengah pesta yang khidmat. Bukan juga bocah yang tiba-tiba menangis keras pada saat doa bersama. Ini soal kesaksian menohok dari si anak sulung tentang sang bapak, dan masa lalu yang berusaha disangkal. Kalimat “every family has a secret…” bisa jadi benar, tapi rahasia sialan macam apa yang pantas dibeberkan di depan seluruh anggota keluarga, justru di tengah makan malam yang seru dan denting gelas anggur yang beradu? » Read the rest of this entry «

Where Am I?

You are currently browsing the Film category at budiwarsito.net.