November 16th, 2009 »
.

“I’m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.”
—A. Whitney Brown, “Saturday Night Live” cast member, Season 11-16, 1985-1991.
Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga—sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku moviefreak sejati, pernah membuat review film Korea berjudul 301, 302 (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa! » Read the rest of this entry «
October 10th, 2009 »
.

“A lot of people ask me when I do a stunt, ‘Jackie, are you scared?’ Of course I’m scared. I’m not Superman.”
—Jackie Chan
Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur tubuhnya mati rasa. Para penggemar Superman yakin Reeve akan segera pulih. “He’s Superman, isn’t he?” Tapi kenyataan berkata lain. Tujuh tahun berlalu, dan Reeve masih belum beranjak dari kursi rodanya. Di luar layar, Reeve hanyalah manusia biasa, bukan manusia super. » Read the rest of this entry «
July 30th, 2009 »
.

“They don’t mean anything when I do them. Just a mess.
Afterwards, I find something to hang on to…
Then it sorts itself out and adds up.
It’s like finding a clue in a detective story.”
—Bill (John Castle), tentang lukisan-lukisan abstraknya, di film Blow-Up (Michelangelo Antonioni, UK, 1966)
London, 1966. Sebuah taman, luas dan sepi. Hijau rumput terhampar, begitu syahdu, begitu damai. Seorang fotografer berambut kusut dengan sorot mata nyalang, melangkah gontai tanpa tujuan, menyisir tepi taman. Nun jauh di tengah sana, tampak sepasang manusia bermesraan. Naluri fotografer mengatakan: itu objek menarik, maka dipotretlah mereka. Merasa privasi dia dan pasangannya terganggu, sang perempuan berang, lalu berlari mengejar sang fotografer. Dimintanya roll film itu, tapi sang fotografer menolak. » Read the rest of this entry «
March 7th, 2008 »
.

‘G’ means the hero gets the girl,
‘R’ means the villain gets the girl,
and ‘X’ means everyone gets the girl.
—sebuah lelucon lama
Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan polisi Detroit sekarat diberondong senapan penjahat atau Arnold Schwarzenegger kebingungan dikejar-kejar tentara di Planet Mars mungkin luput dari ingatan kita, tapi siapa yang bisa melupakan cara Sharon Stone menyilangkan kaki dan sekelebat kita tahu tak ada celana dalam di balik rok mininya? Sama-sama ditasbihkan lembaga rating MPAA sebagai ‘X-rated film’, aksi ranjang di Basic Instinct rasanya lebih sah di persepsi kita ketimbang aksi kekerasan di RoboCop atau Total Recall. » Read the rest of this entry «
February 21st, 2008 »
.

Berbekal glockenspiel dan akordeon plus pengalaman dua tahun di penjara karena alkohol, seorang penyanyi jalanan Berlin yang eksentrik mengajak seorang pelacur meninggalkan negerinya yang kaku demi menuju tanah pengharapan, Amerika. » Read the rest of this entry «
January 1st, 2008 »
.
(a short story by Jonathan Nolan)

1
“What like a bullet can undeceive!”
—Herman Melville
Your wife always used to say you’d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.
Right about now you’re probably wondering if you were late for hers.
You were there, you can be sure of that. That’s what the picture’s for—the one tacked to the wall by the door. It’s not customary to take pictures at a funeral, but somebody, your doctors, I guess, knew you wouldn’t remember. They had it blown up nice and big and stuck it right there, next to the door, so you couldn’t help but see it every time you got up to find out where she was.
The guy in the picture, the one with the flowers? That’s you. And what are you doing? You’re reading the headstone, trying to figure out whose funeral you’re at, same as you’re reading it now, trying to figure why someone stuck that picture next to your door. But why bother reading something that you won’t remember? » Read the rest of this entry «
October 29th, 2007 »
.

“…the words of the prophets are written on the subway walls…”
—Simon and Garfunkel, “The Sound of Silence”
Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (“Kantornya di jalan apa tadi, Bos?” tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir nyerempet mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama suspense sedang terjadi. » Read the rest of this entry «
April 25th, 2007 »
.

“Do you mind telling me where you’re headed, Trav?
What’s out there? There’s nothing out there.”
—Walt (Dean Stockwell) kepada Travis (Harry Dean Stanton) di film Paris, Texas
Padang gersang, di sepenggal waktu yang tidak terlampau jelas. Seorang pria dengan setelan lusuh, sepatu kisut, topi bisbol warna merah, berjalan melintasi sengatan matahari. Cambangnya kusut masai, langkahnya ringkih, terayun dalam irama tak pasti. Dari atas bebatuan kusam, berlatar belakang langit biru terang nan luas, seekor burung pemangsa menatapnya tajam, mungkin menanti kematiannya. Letih dan dahaga menyergap tak terperi, namun di atas segalanya, rasa kehilanganlah yang paling kentara: mata pria itu cekung dan menerawang. Di film Paris, Texas (1984), si pejalan kaki yang linglung itu bernama Travis, dan memang ada yang hilang dari hidupnya. Tapi dia tidak ingat apa itu. Dia terus melangkah dan melangkah, tanpa tahu ke mana dan mengapa. » Read the rest of this entry «
September 20th, 2006 »
.
Tentang sinema, Lauren Bacall, aktris film-noir tahun 1940-an, pernah berkata, “The industry is shit, it’s the medium that’s great.” Terdengar sedikit heroik memang, tapi apa boleh buat: dalam wacana sinema, persoalan medium selalu jadi perbincangan menarik. Setelah Louis dan Auguste Lumière menemukan kamera film pertama di dunia pada tahun 1895, sejarah sinema pun dimulai. Film Lumière et compagnie ini adalah proyek sinting tentang penghormatan pada keajaiban gambar-hidup. Untuk memperingati 100 tahun kelahiran sinema, 40 sutradara ternama dari berbagai belahan dunia ditantang membuat film pendek dengan kamera Cinematograph, yakni kamera sama yang juga dipakai Lumière Bersaudara pada tahun 1895. Ada 3 aturan ketat: durasi film tak boleh lebih dari 52 detik, synchronized sound tidak diperbolehkan, dan maksimal hanya 3 kali take. » Read the rest of this entry «
February 7th, 2006 »
.

Angela, seorang penari striptease berwajah melankolis, bermimpi bisa tampil di pergelaran musikal nan megah bersama Gene Kelly. Namun ada satu impian sederhana yang melebihi segalanya: segera hamil dan punya anak. Mungkin Angela memang konvensional, perempuan ini hidup di satu sudut Paris tahun 1960-an, tapi begitulah jalan pikirannya—dia juga berkeyakinan “We should boycott women who don’t cry.” Emile, sang pacar yang tinggal serumah, menolak niat hamil itu. Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Sementara Alfred, teman baik mereka berdua, kebetulan juga menaruh hati pada Angela. Plot cinta segitiga terjalin. Sekilas tampak sederhana, namun di tangan seorang Jean-Luc Godard, segalanya bisa jadi sangat berbeda. » Read the rest of this entry «