Cas-Cis-Cus

Buku Cas-Cus ini berisi dua novelet karya Putu Wijaya, berjudul Cas-Cus (hlm. 7-112) dan Ck Ck Ck (hlm. 113-142) terbitan Gaya Favorit Press, 1990. Judul Cas-Cus sendiri adalah pemenang pertama Sayembara Mengarang Novelet Femina 1987 dengan dewan juri yang diketuai oleh Prof. Dr. Umar Kayam. Cerita itu kemudian diolah menjadi skenario layar lebar dan disutradarai sendiri oleh Putu Wijaya, sebagai film Cas-Cis-Cus (Sonata di Tengah Kota), 1989. Di layar, tokoh si nenek cerewet yang tiba-tiba pengen nonton video porno sampai bikin kelabakan anak dan menantunya di meja makan (“Pokoknya, kalau tidak ada film XXX, aku tidak mau makan!”) diperankan dengan cukup bagus oleh aktris Nani Somanegara yang saat itu berusia 52 tahun. Saya sendiri masih umur 10 ketika film itu sampai di bioskop kelas kambing di kabupaten saya, di dekat kantor pegadaian, tapi tentu saja saya lebih pengen nonton Saur Sepuh III, terutama karena si gingsul bergincu merah Murti Sari Dewi, pemeran Lasmini si Kembang Gunung Lawu, tampak sedang hot-hotnya, dan si Mantili malah menumpasnya!

Belakangan saya baru bisa nonton film Cas-Cis-Cus di televisi, kalau tidak salah di RCTI siang-siang, itu pun nggak selesai karena sudah harus berangkat les Matematika. Bertahun-tahun kemudian saat mulai kuliah di Bandung, saya menemukan film itu dalam bentuk VCD di dalam keranjang obral di sebuah supermarket yang sepi. Lagi-lagi saya tak pernah menyelesaikannya, selalu ketiduran di tengah durasi, tapi saya senang mengulang-ulang bagian depannya; yakni opening credit yang ditimpali musik seru, seorang waria berkebaya dan bersanggul (diperankan oleh Deddy Mizwar sebagai bintang tamu) bernyanyi dengan genitnya di depan rumah si nenek. “..banyak nenek suka cas-cis-cus/ suara keras tapi tak becus..” Tentu saja si nenek itu buru-buru mengusirnya! “Huh, sekarang makin banyak orang krisis moral,” demikian gerutu si nenek setelah si waria pergi, yang langsung dilanjutkannya dengan menagih janji ke anak dan menantunya, “Manaaa, film video XXX-nya?”

Musik rakyat ala pengamen itu bikinan Harry Roesli, bagus sekali dan menempel terus di ingatan saya. Ketika saya diospek selama seminggu sebagai mahasiswa baru di kampus, acara perpeloncoan itu ditutup dengan malam penampilan live Harry Roesli. Lampu-lampu mulai dipadamkan, dan lilin-lilin dinyalakan di lapangan basket. Saya tak ingat apakah lagu di film tadi itu masuk ke dalam repertoir malam itu, karena boro-boro nonton atau ikutan nyanyi, saya malah ketiduran, gara-gara kecapekan setelah berhari-hari dipaksa push-up ratusan kali! Tadi siang saya baca-baca lagi kalimat terakhir noveletnya, ada di perpustakaan Kineruku, begini bunyinya, “Ca-ci-cu-ce-co, ca-ci-cu-ce-co, melawan sepi yang menguntit hidupnya. Bangsat itu masih terus menggigit-gigit.” Waduh, sedih juga ternyata. Saya taruh lagi buku itu di rak, sambil terngiang-ngiang di kepala saya satu baris puisi Bukowski.

___
Film Cas-Cis-Cus bisa diintip di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *