Bu Siti vs. Pak Chaplin

Extra-Nona-Siapa-78rpm_still
“EXTRA NONA SIAPA”, dinjanjiken oleh SITI MOEDJENAH dengen POPULAIR JAZZ BAND. Tjap Banteng Paling Merdoe, diduga rilisan sekitar akhir 1930an.

Grammofoonplaat 78rpm ini saya temukan dalam kondisi kurang menggembirakan, teronggok kotor bersaput debu dan berlapis tanah (!), tapi selalu ada firasat tertentu untuk bersikeras membawanya pulang. Setelah dibersihkan sampai kondisi maksimal yang paling memungkinkan, sambil deg-degan saya putar plat tua yang boleh jadi umurnya sudah hampir 80 tahun itu di rumah. Sayup-sayup di awal lagu terdengar suara pria berlogat Jawa memperkenalken lagu ini, kira-kira begini kalimatnya, “…Nona Siapa, terbikin oleh Populair Jazz Band…” Setelah itu mengalunlah intro-nya, yang sontak bikin saya kaget: lho, lho.. sik, sik.. ini kan lagu di film Modern Times-nya Chaplin, tahun 1936! Saya inget betul adegan legendaris di situ. Karakter si Little Tramp, sebagai pelayan, terpaksa berimprovisasi saat disuruh bernyanyi untuk menghibur pengunjung restoran, gara-gara kertas contekan lirik yang ia pasang di pergelangan tangan tak sengaja terlempar, melayang entah ke mana. Sambil kebingungan celingukan kesana kemari (dengan gerakan kaki mirip moonwalk-nya Michael Jackson, hanya saja ini mendahului beberapa dekade!) lantaran para personel home band restoran sudah mulai memainkan musik pengiring, Chaplin kemudian menggumamkan lirik-lirik nonsens—oplosan ndak jelas dari beberapa bahasa sekaligus—yang malah sukses mengundang gelak tawa para hadirin dan hadirat. Chaplin sendiri konon menggubah komposisi jenaka tersebut berdasarkan sebuah lagu lawas Prancis keluaran tahun 1917. Dari situ saya lalu bertanya-tanya, bagaimana ceritanya kok lagu itu bisa sampai ke tanah Jawa pada saat itu, lantas diinterpretasi ulang oleh orkes setempat (“jazz band”!), direkam pula, dan didendangkan dengan langgam sedikit berbeda—dari ceria jadi sendu—oleh pesinden lokal bersuara cempreng bernama Siti Moedjenah? Apakah Bu Siti sak rencang pertama kali mendengarnya dari film Chaplin (hah, berarti Modern Times pernah diputar di sebuah bioscoop di Hindia Belanda?!?), ataukah mereka justru mendengarnya langsung dari sumber otentik yakni tembang lawas Perantjis tersebut (bagaimana pula mereka mendapatkan referensi itu, dari grammofoonplaat jugakah?!?). Saya sudah ngubek-ubek buku lawas, majalah-majalah tua dan bahkan internet, tapi tak ada data memadai soal itu, juga perihal plat gramofon ini. Brengsek. Arsip kita memang payah. Misteri-misteri asoy macam inilah, yang dengan caranya sendiri seolah ndak ada habis-habisnya mengejek saya, menjulurkan lidahnya, menantang dan memompa adrenalin saya untuk terus berburu dan berburu lagi. Lanjutken!

[Budi Warsito]

“Extra Nona Siapa” [sample]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *