bahwa seteru abadi tak pernah mati.

“I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.”
Adorable “Homeboy”

pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa di dunia, kata-kata terakhir dengan senyum sinis yang dilatih ratusan kali di depan kaca, juga segenap detil lainnya dengan pengaruh film-film detektif murahan di sana-sini. namun seperti kisah-kisah klise di buku dongeng, ternyata gelas kita tertukar: tanpa sadar aku menenggak racunku sendiri. (ah, ‘ternyata’—bukankah itu kata sialan yang sudah lama berusaha kita hapus dari kamus?)

betapa usangnya. tapi juga betapa perihnya: wahai siapapun yang merasa jenius sudah menciptakan istilah ‘senjata makan tuan’, silakan berbangga, bung. pagi itu pula, aku kemudian menggelepar meregang nyawa, mati konyol dan sia-sia. leherku melepuh, dan perutku terbakar dengan indah (sia-sia saja berusaha mengutuk), sementara parasmu tampak memucat dengan kecemasan yang putih dan tulus. adakah kau khawatir? keringat sisa bercinta semalam memantulkan cahaya keperakan di pipimu yang cekung, lalu semuanya memburam: selamat tinggal.

jika dada rasa hampa,
dan jam dinding yang berdetak.

bahkan kita dulu pernah foto bersama. masa muda yang gelap? lihat, kau tampak limbung mengacungkan sebotol bir, menggumamkan sebaris puisi chairil anwar, atau toto sudarto bachtiar, atau siapapun tentang segala hal yang heroik, dan kembali meracau tentang karya-karya ginsberg. astaga, alangkah noraknya. sementara aku berdiri tolol dengan pupur tebal yang tak kalah noraknya, memakai topi rombeng yang bolong-bolong dimakan ngengat, juga asap tembakau yang mengepul samar dengan aroma daun surga, dan kata-kata mutiara sialan betapa dunia adalah panggung sandiwara. mungkin kita hanya terlalu serius menyiasati kedunguan masing-masing. bukankah kuil tempat kita rajin berdoa hanyalah bioskop tua dengan sejuta sarang laba-laba, dan yang tersisa adalah chaplin atau keaton atau lloyd yang tak bosan-bosannya berjumpalitan menuai tawa yang tak pernah ada? kita hanya meringis tipis, sebab belati sedang menancap di masing-masing perut, merobek lambung dan membanting harapan, sementara sidik jari kita jelas-jelas bertebaran, saling bersilangan dan berseberangan. tiba-tiba segalanya serupa nafas terakhir kita yang tersengal-sengal: keteraturan tak lagi menarik. jari kita basah meraba luka, rembes, dan genangan merahnya terlalu becek, namun senyum kuyu tetap berusaha dipaksakan—begitu senyap, dan redup mata bertahan menatap layar: kenapa kita selalu berusaha saling membunuh?

tiba-tiba kau ingat maut dan bertanya
adakah taman puspa di atas sana.

dan aku hanya bisa tertawa. gara-gara kita, bioskop tua itu lalu ditutup selamanya, dengan berita kecil di koran lokal. kini, dari nisan tua yang makin jarang kau ziarahi: serupa hantu gentayangan yang terus mencoba, aku kembali turun ke bumi, dan bersumpah akan terus mengusikmu. dan bersikeras membunuhmu. lalu pertarungan bisa kita lanjutkan di alam baka. jika hari perhitungan dinyatakan tertunda, jika tuhan terlalu sibuk dengan angka-angka, jika surga-neraka tak pernah ada.

lalu kita berdua menulisi buku harian masing-masing dengan tinta darah: “do you know how to make god laugh? MAKE A PLAN.”

* * *

 

2 thoughts on “bahwa seteru abadi tak pernah mati.

    1. Budi Warsito Post author

      dulu waktu kecil saya ikut lomba baca puisi, dengan puisi itu 🙂 nggak kebayang kalo chairil beneran “hidup seribu tahun lagi”, dia pasti galau berat di twitter hehe

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *