Autogeddon Blues

Kaset asyik ini dulu saya dapatkan sekitar satu setengah tahun setelah tanggal rilisnya, dari toko kaset langganan saya di Solo alias Surakarta. Waktu itu masih ada bis tingkat. Dari toko kaset Aquarius di sekitar Singosaren Plaza saya berjalan kaki ke arah Jl. Slamet Riyadi, sebelum melompat masuk ke double decker warna putih biru punya Damri, bergegas menaiki tangganya dan memilih duduk di atas. (“Lho, kok nggak ada sopirnya!” Aiih, joke lawas.) Karena untuk turun di Terminal Palur ternyata butuh waktu lumayan panjang—tujuan saya saat itu adalah mengunjungi rumah teman sekelas di SMA yang bertetangga dengan Gesang, hanya demi nebeng ngeprint lirik lagu-lagu Barat lewat komputer Windows 95 punya kakaknya—jadi selama perjalanan di bis tingkat yang merayap pelan dan syahdu itu saya tak cukup sabar untuk tidak menyobek plastik segel dari kaset baru Autogeddon tersebut. Saya memutarnya di walkman yang pada masa itu selalu saya bawa-bawa di tas ransel sekolah. Good old days.

Album keluaran 1994 ini adalah manifesto kegusaran Julian Cope atas budaya kepemilikan mobil pribadi (car culture), yang judulnya terilhami oleh puisi “Autogeddon Blues” karya Heathcote Williams, penyair Inggris yang baru saja meninggal awal Juli 2017 lalu. Di track pembuka berjudul sama, mantan pentolan unit post-punk The Teardrop Explodes itu langsung menggebrak dengan kalimat pedas “..your drunken development’s making me sick/ your drunken development’s making me yawn/ I shit on your reason/ your rose is my thorn..” diiringi gitar indie rock dan teriakan parau di sepertiga terakhir lagu yang seperti menjurus histeris padahal mungkin tidak. Di nomor-nomor lain, Julian bisa juga tampil tenang sesekali, bernyanyi lirih sambil memetik gitar lembut, misalnya di satu lagu yang justru berjudul “Madmax”.

Kritik keras Julian tentang obsesi berlebihan orang-orang atas kendaraan bermotor salah satunya didasari oleh kecurigaannya betapa segala kenorakan di jalan raya dan seisinya boleh jadi berkaitan belaka dengan permasalahan ego lelaki. Untuk lagu “I Gotta Walk”, Julian mengisi liriknya dengan komedi muram, “Here to go, baby/ Here to beat Daddy/ Here to catch a falling star/ Save yourself some money/ Run behind a taxi/ Walk behind a funeral car/ Doomy doomy doomy/ Yet I’m feelin’ gloomy/ Still I hate to screw my Ma..” Sementara di lagu “Ain’t No Gettin’ Round Gettin’ Round”, dia terdengar putus asa saat bernyanyi, separuh mengeluh setengah mengejek, “..I need to get to London + I need to get there fast/ But my car is a polluter + it’s messing up my future..” Ada pula nomor-nomor panjang instrumental yang mengingatkan saya pada riuh rendah scene underground freak-out di UFO Club era late Sixties di Inggris—yang salah satu pentolannya justru bernama Soft Machine!—dan ketika suara-suara resah itu keluar dari sebuah kaset pita analog di atas bus raksasa yang angkuh sekaligus renta, tak ada yang bisa mengalahkan kerumitan sensasi psikologisnya.

Lucunya, tepat 100 tahun sebelum album itu dirilis, yakni pada 1894, seorang raja Surakarta bernama Sri Susuhunan Pakubuwana X mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai orang pertama di Indonesia (atau Hindia Belanda) yang punya mobil. Tipe Benz Phaeton yang dibelinya saat itu hanya berjarak sewindu dari mobil pertama di dunia (1886) itu selesai dibuat! Saya bisa membayangkan bagaimana dengan tunggangan bermesin paling mutakhir saat itu (yang mungkin sudah diramalkan oleh Jayabaya, tentang zaman di mana akan datang “kréta tanpa jaran” alias kereta tanpa kuda), PB X berkendara sambil dikelilingi ketakjuban, blusukan ke tanah-tanah kekuasaannya di Solo. Bukan tidak mungkin juga beliau melewati area yang kelak seabad kemudian akan berdiri toko kaset di situ.. yang menjual album musik yang justru mengecam kepemilikan mobil! Isn’t life funny?

*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *