Atas Nama Jalanan…

.
“…the words of the prophets are written on the subway walls…”

—Simon and Garfunkel, “The Sound of Silence”

Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (“Kantornya di jalan apa tadi, Bos?” tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir nyerempet mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama suspense sedang terjadi.

Perhatikan pula sekelilingnya, sebuah ruang pentas berbagai genre peristiwa: dua polisi gendut duduk-duduk santai sambil ngerumpi, padahal lalu lintas padat jelas-jelas membutuhkan mereka (komedi satir); mbak-mbak pegawai kantoran tergopoh-gopoh menyusuri lorong gang sempit, cemas karena diikuti preman suruhan mantan pacarnya yang sakit hati (thriller); anak-anak STM tawuran, kejar-kejaran sambil menghunus pedang (action); atau sepasang remaja modis saling menatap malu-malu di dalam mobil mewah (jelas punya orangtua mereka) dan menunggu-nunggu kapan bisa berciuman (drama remaja). Segala peristiwa itu terjadi berbarengan, di sebuah setting besar bernama EXT. JALANAN.

Begitu juga pengamen di perempatan, yang misuh-misuh nadanya jadi agak fals lantaran harus berkelit menghindari ojek yang ugal-ugalan. Padahal gitar kopongnya (lecet kena seruduk ojek) sedang mendendangkan lagu lawas KLa Project yang merepresentasikan dirinya: “…musisi jalanan mulai beraksi, seiring langkahku kehilanganmu…” Barangkali dia kehilangan beberapa rupiah, atau dia sedang sentimentil. Namun kita tahu, jalanan tidak melulu soal “kehilangan”. Jalanan juga “menumbuhkan berbagai hal”. Jika tidak, bagaimana mungkin para seniman menghasilkan karya-karya mumpuni yang inspirasinya jelas-jelas dicomot dari jalan?

Film City of God (2002), misalnya, menunjukkan betapa jalanan bisa berarti keji, dan dendam pribadi mampu menjelma kekuatan kolektif yang brutal dan mengerikan. Segala drama jalanan yang keras dan penuh darah, termasuk perang antar geng di Rio de Janeiro dengan senjata api, jelas disadari sutradara Fernando Meirelles sebagai bahan dasar mengasyikkan untuk dipindahkan ke pita seluloid. Sama-sama mengangkat tema jalanan, Garin Nugroho memilih Jogja dan menghasilkan sketsa kemiskinan yang menggugah, lewat permainan akting anak jalanan non-aktor di film Daun di Atas Bantal (1998). Sementara di film Slacker (1991), Richard Linklater seperti hendak memberi aura positif kepada para slacker yang luntang-lantung di jalanan, bergaya bohemian dan meracau soal Dostoevsky, UFO, Marxisme, teori konspirasi JFK, dan Madonna. Perhatikan juga film Breathless (1960), mahakarya Jean-Luc Godard dengan scene legendarisnya: gadis Amerika berteriak menjajakan koran di jalanan Paris, “New York Herald Tribune! New York Herald Tribune!” Menarik sekali mencermati street fashion di film itu: Jean Seberg tampil manis dengan model rambut pixie, kaus semi-turtleneck dengan lengan digulung, dipadu celana capri dan flats; berjalan di sebelah Jean-Paul Belmondo yang mengenakan setelan jas dan ankle-high slim pants, topi fedora, mengisap rokok dan merasa dirinya Humphrey Bogart.

Di situlah sebenarnya keunikan budaya jalanan: tak ada yang betul-betul persis satu sama lain. Apa yang khas di sudut Paris tentu berbeda dengan jalanan Amerika Latin, dan pelosok Jogja jelas lain dengan hiruk pikuk di Shinjuku. Dan tidakkah itu seru dan menantang untuk digali? Keragaman dirayakan, kebebasan berekspresi diberi tempat, dan jalanan penuh sesak dengan inspirasi. Tak heran seorang filmmaker pemula yang kebingungan mencari ide untuk karya pertamanya, mendapat wejangan singkat dari seniornya: “Ambil kameramu, dan pergilah ke jalan.” Mungkin dia bisa mulai dengan bertanya-tanya apa yang ada di benak Damon Albarn saat terkesima melihat kata-kata graffiti di salah satu sudut kota London. Sedemikian pentingkah suara ekspresif khas jalanan itu, hingga Albarn menjadikan graffiti tersebut judul album kedua Blur di era ’90-an: “Modern life is rubbish“? Bisa jadi iya. Dunia modern kian letih, monoton, butuh pencerahan-pencerahan baru. Dan bukan tidak mungkin kesegaran itu justru muncul dari jalanan: aksi manuver tukang ojek, makian khas pengamen, gaya berpakaian seenaknya, atau coretan di dinding-dinding jalan. Persis seperti ‘ramalan’ Simon and Garfunkel: “…sabda nabi-nabi tertulis di tembok-tembok subway…

[Budibadabadu]

Atas Nama Jalanan…

2 thoughts on “Atas Nama Jalanan…

  1. Antyo Rentjoko Post author

    “Jalanan, kami sandarkan cita-cita…” kata Swami. Jalanan. Dari sana saya banyak temuan. Bahkan dari jalan yang saya lalui setiap hari. Lalu saya masukkan ke blog (memo.blogombal.org dan oh.blogombal.org). Jalanan, ruang yang dirancang untuk bergerak — meski ada juga yang diam karena sejumla alasan (antara lain menunggui warung rokok). Ruang untuk bergerak, fisik. Dan kita tahu lalu lintas benak pelintasnya lebih ruwet lagi.

    Reply
  2. Budi Warsito Post author

    Yo’i mas Tyo, blogombal banyak bahas hal-hal ‘sepele’ di jalanan ya, yg seringkali luput dari perhatian kita. Small is great. Kalo kata Camus, “Great works are often born on a street corner or in a restaurant’s revolving door.” Apalagi kalau restorannya ada di sudut jalan ya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *