Apa Kabar Bo?

ApaKabarBo

Surat pembaca punya keseruan dan keasyikan tersendiri, bahkan sampai ada komunitas penulisnya segala, namanya epistoholik. Beberapa cerita tentang surat pembaca masih membekas di ingatan saya. Bram Makahekum dari Kelompok Kampungan, misalnya, mendapatkan rekaman pidato Bung Karno dari seorang mahasiswa Jogja yang menulis surat pembaca di majalah TEMPO pertengahan 1979, yang mengaku butuh uang untuk biaya kuliah dan ujian, dan bagi siapa yang bisa membantu mengirim Rp 1.500,- akan mendapat kaset pidato Bung Karno. Transaksi pun terjadi, dan cuplikan pidato khas Bung Karno yang menggetarkan itu (dari acara peringatan Maulid Nabi Muhammad di Istana Negara tahun 1964) lalu dimasukkan ke salah satu lagu di album dahsyat Mencari Tuhan (Akurama, 1980) yang kini cult dan piringan hitamnya diburu para kolektor. Saya masih menyimpan kliping surat pembaca tersebut.

Cerita lain, saya dengar dari seorang teman, tentang ratusan vinyl 7″ proyek reissue band indie ’90-an legendaris ibukota—hasil pressing di luar negeri yang kemudian dikirim ke Indonesia—sempat tertahan di pihak bea cukai negeri kita yang memang terkenal aneh. Semua peraturan dan biaya (bisa jadi termasuk pungli) sudah ditaati, barang tetap saja tak bisa keluar. Lalu ditulislah surat pembaca yang kemudian dimuat di harian nasional terbesarentah ada hubungannya atau tidak, tak lama setelah itu bea cukai pun akhirnya meloloskan paket tersebut. Jika upaya itu tak ditempuh, bisa jadi saya tak pernah bisa memutar plat penting itu. Dan tentunya masih segar di ingatan kita beberapa waktu lalu, kasus seorang pedagang di ITC Mangga Dua yang malah divonis pengadilan gara-gara menulis surat pembaca berisi keluhan soal ketidakjelasan status ruko yang ia beli dari pihak developer. Ya, negeri ini memang absurd.

Tapi di luar hal-hal serius semacam itu, tak ada yang lebih absurd dan menyenangkan ketimbang menyimak kembali surat-surat pembaca di edisi-edisi lama majalah Bobo. Pertanyaan polos anak-anak, dari yang sangat remeh hingga kelewat serius, direspons dengan bahasa canggung orang dewasa, dan di banyak kasus, apa boleh buat imajinasi anak-anak itu terpaksa difasilitasi, dengan jawaban-jawaban bernada bijak dan cenderung bermain aman. Mulai dari pertanyaan berbau akademis (mereka lebih percaya Bobo ketimbang guru di sekolah?), ngambek karena surat-suratnya tak pernah dibalas sambil bawa-bawa isu kedaerahan, cuek minta alamat artis dan pejabat, saran-saran lugu, hingga rasa penasaran apakah Juwita dan Si Sirik benar-benar ada di dunia nyata. Dan jangan lupa, hampir selalu ada acara titip salam di akhir surat. Sungguh lawas dan mengharukan.

Sepengamatan saya, kolom surat pembaca Bobo di halaman 2 atau 3 itu sempat beberapa kali berganti nama, mulai dari “Hai Apa Kabar?” (dengan segala variannya: “Haii.. Apa Kabar”, “Hai! Apa Kabar?”, dsb) di tahun-tahun pertama terbit, hingga yang sangat menempel di ingatan saya sejak awal ’80-an, yaitu “Apa Kabar Bo?“. Saya tidak tahu apakah yang terakhir itu kemudian mengilhami istilah ‘Bo’ untuk kata sapaan yang (dugaan saya) mulai popular di akhir ’90-an dan awal 2000-an. “Ke mana aja lu, bo?” “Ah gila lu, bo!” “Enak banget, bo!” Mungkin ada yang lebih tahu soal ini?

Berikut ini saya salin (ketik-ulang) beberapa surat pembaca favorit saya beserta jawaban dari para pengasuh redaksi, dari arsip majalah Bobo lama yang masih saya simpan. Saya sertakan juga sumber edisinya, lengkap dengan cara penulisan tahun dan harga yang tak pernah konsisten ejaannya. Oya, pekan ini tepatnya 14 April 2013, majalah Bobo tepat berusia 40 tahun. Met ultah ya Bo, life begins at 40! Salam untuk Paman Kikuk, Husin, dan Asta.

Budi Warsito
Pembaca setia Bobo pada pertengahan 1980-an,
bekas lungsuran kakak-kakaknya,
hingga lulus SD tahun 1992.

Bobo No. 27 Th ke VIII, Tgl. 11 Oktober 1980, Harga : Rp 250,-

Halo Bobo,
Bo, nama saya Muhammad Mamin. Panggilan sehari-hari Mamin. Bo, saya ingin tahu alamat Paman Kikuk. Bo, bolehkah Mamin pinjam gunting pagar Paman Kikuk? Kalau diberi, Mamin berjanji tidak menggunakan untuk menggunting pagar. Sekian dan terima kasih. Harap surat Mamin dibalas.

Muhamad Mamin
Jl. Denai – Medan

::: Mamin yang baik, Bobo sudah tanyakan kepada Paman Kikuk apakah kau boleh meminjam gunting pagarnya. Tapi sayang, si Paman Kikuk pelupa. Dia tidak tahu di mana ia menyimpan gunting pagar itu. Jadi bagaimana dia bisa meminjamkannya kepadamu? Nah, Mamin kalau gunting pagar itu sudah diketemukan, kau boleh meminjamnya. Salam dari Paman Kikuk dan Bobo sekeluarga.

* * *

Bobo No. 50 Th. ke-IV, Tanggal 26 Maret 1977, Harga Rp. 100,-

Bobo yang cakep seperti Alain Delon.
Bo, apakah Nirmala dan Oki kakak beradik? Bo, suruh dong Paman Gembul ke rumah Nova. Nanti Nova kasih wortel sebanyak 40.000.000 buah. Terima kasih dan salam manis buat keluarga Bobo, Paman Kikuk dan pengasuh-pengasuh Bobo.

William Taviponova (Nova)
jl. Bukitduri no. 33
Complex GIA – Jakarta.

::: Wah Nova, Alain Delon bisa marah lho! Habis kau katakan Bobo secakap dia. Berarti dia seperti kelinci dong! Bobo tidak berani menyuruh Paman Gembul ke rumahmu. Sebab Nova pasti kewalahan deh meladeni Paman Gembul yang suka makan itu. Salam kembali ya dari segenap keluarga Bobo serta para pengasuh majalah Bobo.

* * *

Bobo No. 35 TH. Ke XI, 3 Desember 1983, Harga Rp. 450,00

Halo, kak Bobo,
Apa kabar? Baik baik bukan? Adik baru kali ini mengirim surat buat Kak Bobo yang manis. Kak Bobo, adik menanyakan soal Sayembara pada Bobo no. 22 yang telah lewat. Soal menurun no. 4. Binatang khas Sulawesi. Jawaban adik ANOA. Sedangkan jawaban Bobo no. 27: ANDA. Apakah binatang khas Sulawesi itu ada yang bernama Anda? Mohon diperhatikan dan diteliti.

Debby Veronica Yusuf
Jl. Gn. Kawi Rt XIII/132
Balikpapan

::: Ah, di Sulawesi (juga di mana pun) tidak ada binatang yang namanya Anda, Debby. Wah, Bobo agak ngantuk. Yang betul binatang Anoa.

* * *

Bobo No. 33 Th. ke VIII, Tgl. 22 November 1980, Harga: Rp 250,-

Halo Bobo yang baik,
Kalau mengarang, bolehkah diketik? Saya tak mau menulis, sebab tulisan saya jelek sih. Boleh ya Bo? Salam buat Deni dan Bobo sekeluarga.

Rudi Afriadi
Jl. Otista Komplek SMAN 56
Sukabumi Selatan

::: Rudi yang baik, karanganmu itu boleh kau ketik. Apakah kau sudah bisa mengetik? Wah, kalau sudah bisa kau pintar sekali. Nah Rudi kapan kau kirim karanganmu itu? Salam kembali dari Deni dan Bobo sekeluarga.

* * *

Bobo No. 42 Th. ke V, Tanggal : 28 Januari 1978, Harga : Rp. 125,

Bobo yang baik,
Bo, mengapa cerita Deni si Manusia Ikan hampir sama dengan cerita Rahan di majalah Hai? Apakah cerita Deni Manusia Ikan diambil dari cerita Rahan?

Aim
jl. Pedati 69 A
Jakarta Timur.

::: Halo Aim, cerita Deni Manusia Ikan sama sekali tidak mirip dengan Rahan. Dan cerita Deni itu juga tidak diambil dari cerita Rahan.

(Lucunya, surat yang sama muncul lagi enam bulan kemudian. Pengirimnya orang yang sama, dengan redaksional sedikit berbeda. Inti pertanyaannya tetap tak berubah, hanya ditambah salam. Kakak-kakak pengasuh di meja redaksi Bobo pasti tidak menyadari hal ini. Di bawah ini saya tampilkan sekalian surat kedua tersebut. Salut buat kegigihan si Aim! –Budi Warsito)

Bobo No. 14 Th. VI, Tanggal : 15 Juli 1978, Harga : Rp 125,-

Bobo yang baik,
Bo, mengapa cerita Deni si Manusia Ikan hampir sama dengan cerita Rahan di majalah HAI? Apakah cerita Deni itu diambil dari cerita Rahan? Sekian dulu Bo, salam buat Paman Gembul, Coreng, Upik, dan seluruh keluarga Bobo.

jl. Pedati 69 A
Jakarta Timur.

::: Aim temanku, cerita Deni kelihatannya saja hampir sama dengan Rahan. Tapi sebetulnya ceritanya lain sama sekali! Dan cerita Deni tidak diambil dari cerita Rahan. Salam kembali dari seluruh keluarga dan selamat belajar!

* * *

Bobo No. 32 Th. ke IX, Tgl. 14 Nopember 1981, Harga Rp 300,00

Halo Bobo, apa kabar?
Bo, Sri telah mengirim surat kepada salah seorang Sahabat Bobo, nama Ela Amalia Rosa. Tapi kok tak pernah dibalas? Mungkin Ela tidak mau menerima Sri sebagai sahabat dan tak mau kenal dengan orang Cianjur. Salam untuk seluruh keluarga Bobo.

Sri Nurcahyani
jl. Dr. Muwardi 287/E
Cianjur.

::: Halo Sri, mungkin Ela banyak menerima surat dari teman-teman sehingga dia kewalahan untuk membalas suratmu. Yah, kau tak usah kecewa atau putus asa. Bukankah masih banyak sahabat Bobo yang lain. Salam kembali dari Bobo sekeluarga.

* * *

Bobo, No. 34 Th ke X, Tgl. 27 November 1982, Harga Rp. 400,00

Bobo,
Telah berulangkali saya mengikuti sayembara Bobo. Dan jawaban sayembara saya tersebut selalu benar. Tapi saya tidak pernah menjadi pemenang. Sehingga saya merasa kecewa dan bosan untuk mengikuti sayembara Bobo yang akan datang. Mohon jawaban dari Bobo.

Herni Yusnita Rangkuti
AFD IX/X – Perkembunan Gunung Bayu
P.N.P. VII – Perdagangan Sumatra Utara

::: Halo Erni, jawaban sayembara yang Bobo terima banyak sekali. Yang pandai menjawab dengan benar juga banyak. Padahal pemenang untuk setiap sayembara Bobo hanya tiga puluh anak, sehingga jawaban-jawaban yang benar itu harus diundi. Herni, Bobo bisa mengerti bahwa engkau kecewa dan bosan. Namun, Bobo juga tidak bisa memenangkan engkau begitu saja tanpa diundi. Sebab itu berarti Bobo tidak adil terhadap teman-teman yang lain, yang jawabannya juga benar. Pengundian ini justru Bobo lakukan agar Bobo tidak dikatakan pilih kasih. Tapi benar-benar merekalah yang beruntung dalam undian berhak menjadi pemenangnya dan mendapat hadiahnya. Nah, Herni! Salam dari Bobo sekeluarga. Sampaikan juga salam kami kepada Bapak dan Ibumu, ya!

* * *

Bobo No. 23 Th. ke IX, Tgl. 12 September 1981, Harga Rp 300,00

Halo Bobo,
Terima kasih untuk hadiahnya. Saya sudah menerimanya dan saya senang sekali. Padahal saya baru sekali mencoba mengirim jawaban sayembara. Ternyata berhasil. Saya juga sudah mengirim karangan untuk Tak Disangka berjudul Kunci Lemariku. Mudah-mudahan dimuat ya, Bo?

Purnajatmiko
Puskesmas Baron
Nganjuk – Jatim

::: Halo Pur, terima kasih kembali. Bobo pun turut senang. Karanganmu itu harus dinilai dulu. Jika baik tentu dimuat.

* * *

Bobo No. 44 Th ke-III, 14 Pebruari 1976, Harga Rp 90,-

Bobo yang cakap tapi ompong,
Bobo kok rambutnya tidak pernah tumbuh? Kenapa? Dan cerita Negeri Dongeng di Bobo no. 39/III kenapa tidak diteruskan? Nah, sampai sini dulu ya Bo.

Wingki,
SD Triguna – kelas III A
Kebayoran Baru – Jakarta

::: Ah, Wingki bisa aja. Bobo kan tidak ompong. Gigi yang kelihatan memang cuma dua. Bobo juga nggak tahu lho, kenapa rambutnya nggak mau tumbuh-tumbuh. Tapi lumayan. Biarpun sedikit, orang tak bisa mengatakan Bobo botak. Nah, Wingki memang ngelamun nih. Kan Cerita Negeri Dongeng dari no. 39/III ada sambungannya sampai Bobo no. 41/III. Coba deh, Wingki perhatikan.

* * *

Bobo No. 31 Th. ke VI, Tanggal 10 Nopember 1978, Harga : Rp 150,-

Halo Bobo yang baik,
Apa kabar, Bo? Baik-baik saja bukan? Demikian pula dengan Chrisna dan keluarga. Semua sehat-sehat. Bo, bagaimana cara mengirim cerita untuk Arena Kecil? Sebab saya bingung karena nomor rumah Chrisna dari kiri no. 4, tapi kalau dari kanan nomor 3. Bagaimana, Bo? Salam buat keluarga Bobo.

Chrisna Moelyadi
Seneca L.P.P.U. Curug
Tangerang

::: Halo Chrisna, kau ini lucu betul. Berikan saja alamat seperti yang selalu kau pakai jika kau menulis surat. Seperti misalnya alamat yang sekarang kau pakai untuk menulis surat kepada Bobo. Dan tuliskan juga alamat sekolahmu. Sebab dalam syarat-syaratnya antara lain disebutkan bahwa si pengirim cerita harus mencantumkan alamat rumah dan alamat sekolah. Nah Chrisna, salam kembali untukmu dari seluruh keluarga Bobo.

* * *

Bobo No. 18 Tahun XVII, Tanggal 12 Agustus 1989, Harga Rp 800,00

Bobo yang ca’emnya selangit,
Kalau ada yang menanya, Bobo itu sebenarnya binatang atau manusia, lantas Bobo menjawab bahwasanya Bobo berasal dari Negeri Kelinci. Masak sih Bobo dari Negeri Kelinci bisa menulis dan membaca surat-surat yang datang pada Bobo. Bagaimana kalau taruhan? Saya bilang Bobo pasti manusia. Kalau benar tebakan saya, Bobo mengirim hadiah pada saya. Hadiahnya sederhana saja. Saya minta foto Bobo, lengkap dengan datanya. Bobo sebenarnya adil enggak? Kalau ada kuis, yang menang kebanyakan orang Jakarta. Orang luar Jakarta jarang sekali menang. Apa orang luar Jakarta tidak ada yang mengikuti?

Iryanti
Jl. Bahagia
Gg. Rukun no. 8
Tanjungbalai, Asahan 21311

::: Nah, Iryanti kalah; tebakannya salah. Apa hadiah untuk Bobo? Karena Bobo memang bukan manusia. Repot, ya. Kalau kebetulan yang menang kuis orang luar Jakarta (juga surat yang muncul di rubrik ini) orang Jakarta yang mengomel. Nah, kalau orang Jakarta yang menang, bertanyalah kawan dari luar Jakarta (termasuk Iryanti) Bobo itu adil enggak. Repooot, tetapi justru mengasyikkan, Ir.

* * *

Bobo No. 34 Th ke X, Tgl. 27 Nopember 1982, Harga Rp 400,00

Hai Bo!
Rudy ingin tanya, di mana alamat Bapak Menteri PLH Emil Salim? Salam buat Bobo sekeluarga.

Rudy
Jl. Pahlawan – Komplex Kehutanan
Bondongan Utara – Bogor

::: Hai Rudy, kantor Bapak Emil Salim berada di jl. Merdeka Barat no. 15 – Jakarta Pusat. Salam kembali dari Bobo sekeluarga.

* * *

Bobo No. 18 Th. Ke-V, Tanggal 13 Agustus 1977, Harga: Rp. 100,-

Halo Bobo yang manis,
Sigit ingin tanya ya, Bo! Apakah Husin tidak mempunyai orang tua? Orang tuanya di mana? Kalau punya orang tua kok selalu ikut Paman Kikuk? Jawab ya Bo! Salam manis untuk Bobo sekeluarga.

Sigit Herdiyanto
SMP LXXX Halim Perdanakusuma – kls 1G
Jakarta Timur

::: Hei Sigit, tentu saja Husin punya orang tua. Tapi Husin sangat akrab dengan pamannya si Paman Kikuk. Karena itu setiap hari setelah belajar dan membuat PR ia selalu ke rumah Paman Kikuk. Nah, sudah mengerti, bukan? Terimalah salam manis kembali dari Bobo sekeluarga.

Paman_Kikuk_Husin_dan_Asta

* * *

Bobo No. 8 Th. ke V, tanggal 4 Juni 1977, Harga Rp. 100,-

Bobo yang baik,
Sebenarnya saya sudah lama ingin menanyakan kepada Bobo: kenapa Bobo tidak patuh dengan ketentuan yang telah Bobo tetapkan sendiri. Coba renungkan! Bobo kan tiap minggu harus terbit setiap hari Sabtu seperti yang tertera di halaman muka Bobo. Tetapi tiap hari Kamis Bobo sudah muncul. Apa sebabnya? Kalau Bobo memang senang muncul tiap hari Kamis, ganti dong hari terbitnya dari Sabtu menjadi Kamis, supaya sesuai dengan kemunculan Bobo. Jangan sampai Bobo jadi pencipta HARI KARET, di samping JAM KARET yang sudah kita kenal. Sudah dulu ya Bo. Jangan lupa membalas lho! Salam manisku untukmu dan untuk keluarga kelinci.

Adi D.
jl. Jend. A. Yani 76
Bogor

::: Halo Adi! Rupanya kau bingung antara hari edar dan hari terbit. Hari terbit majalah Bobo adalah setiap Sabtu. Dan hari edarnya setiap Kamis sebelum hari terbitnya. Misal: Bobo no. 7/V, terbit tgl. 28 Mei 1977, hari edarnya tgl. 26 Mei 1977. Hari edar selalu lebih dulu dari hari terbit, supaya pembaca-pembaca di Medan, Banjarmasin, dsb juga bisa menerima majalah Bobo tepat pada waktunya. Sebab Adi tahu, bukan? Pengiriman majalah Bobo ke kota-kota tersebut membutuhkan waktu 1 atau 2 hari lamanya. Dan hal ini tidak saja dilakukan oleh majalah Bobo, tapi juga majalah-majalah lain. Masing-masing mempunyai hari edar dan hari terbitnya sendiri. Nah, Adi! Mudah-mudahan kau puas dengan penjelasan Bobo ini. Jadi, Bobo tidak mau mencipta HARI KARET lho!

* * *

Bobo No. 2 Th. ke X, Tgl. 17 April 1982, Harga Rp 350,00

Halo Bobo yang baik,
Nama saya Kuniarto Satyono. Tapi panggil saja Doni. Bobo yang baik, maukah kau memberikan alamat-alamat yang kutanya ini? Alamat Radio Amerika, Radio Australia dan BBC. Sudah ya, Bo. Salam untuk Deni, Coreng, Nirmala dan Paman Kikuk.

Kuniarto Satyono
jl. Veteran no. 14
Muntilan

::: Hai, Kuniarto! Tentu Bobo mau menjawab pertanyaanmu. Radio Amerika atau VOA—jl. Merdeka Selatan no. 5, Jakarta Pusat. Radio Australia atau ABC adalah P.O. Box 2299, Jakarta. BBC—P.O. Box 76, Bush House Strand, London WCZB 4 PH, England atau P.O. Box 2023, Jakarta. Salam kembali dari Deni, Coreng, Nirmala dan Paman Kikuk.

Bobo No. 38 Tahun XVI, Tgl. 31 Desember 1988, Harga Rp 700,00

Saya mau tanya pada Bobo. Semula saya bercita-cita menjadi Insinyur Pertanian. Tapi kok setelah saya pikir-pikir, apa sih yang dikerjakan Ir. Pertanian itu? Dan kalau Ir. Kimia apa sih yang dikerjakan?

Bonita Ayu Palupi
SD Persit KCK Kenari Jaya
Jl. Jend. Urip Sumoharjo 12
Jatinegara – Jak Tim

::: Tentu saja banyak yang dikerjakan oleh insinyur pertanian maupun insinyur kimia, Ir. (eh… calon Ir.) Bonita. Yang berkaitan dengan Ir. pertanian, misalnya, tentang perkebunan (kopi, karet, tebu). Bagaimana membuat hasil pertanian menjadi lebih meningkat. Bagaimana caranya memupuk tanaman yang benar. Dan lain-lain. Yang berkaitan dengan Ir. Kimia tentu banyak. Misalnya membuat bahan-bahan kimia. Termasuk dalam hal ini antara lain pupuk buatan, racun pembasmi tikus, obat-obatan, dan juga tentang perminyakan, dan lain-lain.

* * *

Bobo No. 29 Th. ke-III, 31 Oktober 1975, Harga Rp 75,-

Bobo yang manis,
Bobo kan kakak beradik dengan Coreng dan Upik. Tapi kenapa muka Bobo dengan muka Tut-Tut hampir sama? Sedang muka Bobo dengan muka Coreng dan Upik jauh berbeda. Bo, kapan ke Bandung? Saya tunggu! Dari:

Lia Rosmalia
Jl. Moh. Yunus 211/6A – Bandung

::: Lia yang manis, Bobo juga tidak tahu kenapa muka Bobo hampir mirip muka Tut-Tut, mungkin kebetulan saja. Ya, muka Bobo dan Coreng serta Upik berlainan, Bobo rasa juga kebetulan saja. Bobo tidak tahu kapan ke Bandung. Kalau ke Bandung dan sempat, nanti Bobo mampir deh ke rumah Lia.

* * *

Bobo No. 18 Th. ke-V, Tanggal 13 Agustus 1977, Harga : Rp. 100,-

Bobo yang baik,
Saya ada usul: bagaimana kalau Bona yang gendut tidurnya di bawah dan Rong-Rong si kecil di tingkat atas? Sebab kalau ambruk nanti Rong-Rong tertimpa. Bisa berabe! Kasihan dong! Semoga usul saya ini diterima. Terima kasih.

Faika Zain

::: Faika, sebenarnya Bobo tak mau membalas suratmu. Sebab kau tidak mencantumkan alamatmu dengan jelas. Tapi kali ini tak apalah, Bobo tetap mau membalas suratmu. Usulmu itu sudah Bobo sampaikan ke Bona dan Rong-Rong. Tapi Bobo tak tahu lho apakah mereka akan mengikuti usul itu. Sebab ketika Bobo katakan, Bona dan Rong-Rong ketawa-tawa.

Bona_dan_Rong-Rong

[SELESAI]

24 thoughts on “Apa Kabar Bo?

  1. Rega

    Mas Budi yang baik,
    Aduh post nya! Sedih haru kangen nostalgi dan tersenyum campur aduk membaca kumpulan suratnya, melihat anak kecil bisa dengan polosnya menaruh harapan besar pada seekor (benar kan seekor) Bobo ya. Plus, mengingat dulu pun saya punya surat yang tidak pernah terkirimkan ke Bobo karena malu! Pas deh nostalgianya. Apa kabar Rumah Buku? Salam untuk Juwita, Nirmala, dan Mbak Rani!

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Rega yang ca’em,
      Kok manggilnya masih Rumah Buku? Sejak tahun lalu Rumah Buku sudah resmi berganti nama menjadi Kineruku lho. Tapi karena kamu member lama, maka Bobo eh Budi maafkan. Lain kali jangan diulangi ya! Kapan main ke sini lagi? Jangan lupa bawa wortel. Salam kembali untukmu dari Rani dan keluarga kelinci.

      Reply
  2. Rani

    Bobo, aku mau ikut tanya ya.
    Bener nggak sih Batman tadinya mau pakai huruf “B” di bajunya, tapi karena sudah keburu dipakai Bobo jadi dia pundung dan pakai gambar kelelawar? Pertanyaanku yang kedua Bo, Batman dulu pas ngontak Bobo pakai apa sih?

    Rani

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Rani yang baik,
      Memang betul Batman sempat ngambek ke Bobo gara-gara itu. Untunglah sekarang Batman sudah bisa mengerti. Lagipula Batman lebih cocok pakai gambar kelelawar supaya dia tidak lupa sama kampung halamannya, Pekalongan. Batman biasa ngontak Bobo pakai sandi Morse, tapi Bobo jawabnya malah pakai Sandi Nayoan. Dasar Bobo.

      Reply
  3. masjaki

    Kak Budi yang baik,
    Apakah Deni Manusia Ikan sekarang menjadi Deni Manusia Vinyl karena laut-laut tercemar dan ikannya diambil oleh nelayan luar negeri? Terima kasih ya Kak.

    masjaki
    Rumah Mertua, Bogor

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Dik masjaki yang cihuy,
      Pertanyaanmu sudah Kak Budi sampaikan langsung kepada Deni Manusia Ikan, dan dia menjawab: …BrJrPhgfrtwHJFZRkalgsfaojlsclTGWKSgwdgrajbczvtySZJBC…

      Reply
  4. Pawang Singa di Kaca Jendela

    Bobo, apakah kautahu bahwa dirimu pada masa lalu adalah penanda status sosial anak-anak? Mereka yang membawa Bobo setiap pekan ke sekolah dan merelakan majalahnya dibaca beramai-ramai dianggap insan pilihan. Status mereka ini makin meningkat lagi jika tembus rubrik “Sahabat Bobo” dan foto mereka terpacak, terlepas tampang mereka seperti Alain Delon ataupun Otong Lennon. O ya, Bo, minta alamat Ibu Ratu, sepertinya orangnya baik.

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Kangmas Pawang,
      Bobo senang jika ada yang mau merelakan majalahnya dibaca rame-rame dan membawa kegembiraan seisi kelas. Rukun agawe santosa, kata Paman Gembul alias Abu Lahap. Dan syukurlah ternyata masuk rubrik Sahabat Bobo bisa mendongkrak status, meski hobi teman-teman di situ mirip satu sama lain, dan selalu itu-itu saja: “korespondensi, dan makan bakso.” Oya, Ibu Ratu orangnya memang baik, tapi begitu partnernya ada main sama lelaki buaya darat (ngakunya teman, tapi mesra), dia marah besar. Bobo sampai takut, meski bisa mengerti.

      Reply
  5. hujanreda

    Jadi penasaran, siapa ya penjaga gawang rubrik Surat Pembaca Bobo ini? Aku juga pengagum jawabannya yg cerdas, lucu, dan suka menggemaskan. hehe

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Ibnu si Hujanreda,
      Aku sendiri kurang tahu siapa penjaga gawangnya. Yang jelas, jaman kita kecil dulu pasti bukan Markus Horison ya. Tapi mengingat majalah ini asalnya dari Belanda, jangan-jangan Hans van Breukelen? #lawas

      Reply
  6. wawan

    ah, bahagianya oom bud. aku dulu langganan bobo cuman beberapa minggu (itu pun waktu ada oom yg kerja di surabaya, belinya hari selasa, kayaknya tahun 88-an gitu, seingatkau salah satu edisinya ada yg berisi orang bisa melipat mulut di tengah-tengah bunga matahari atau apa gitu). terus ada juga pas yg ada hadiahnya bangunan lipat-lipat. terus komiknya cerita tentang anak kembar cewek. tapi ya… cuman beberapa minggu saja langganannya. setelah itu, sampai kelas 2 SMP-pun kalau ke rumah teman masih suka baca bobo. hahaha

    btw, itu yang namanya Chrisna Moelyadi lucu betul. kayaknya mau deh saya taruhan kalau dia itu sebenarnya Kresno Mulyadi 😀

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Figur paman seringnya menyenangkan ya Wan, dan punya peranan penting tersendiri bagi anak-anak. Mungkin karena itu kita lebih kenal Paman Donal, Paman Gober, tanpa mau tahu siapa ayah dari Kwak-Kwik-Kwek, misalnya. Begitu juga dengan Paman Kikuk, Husin, dan Asta. Ah, jadi kangen Bibi Sofi dan Bibi Ndari! Se-slacker-slacker-nya Paman Kikuk, setidaknya dia disukai dua Bibi itu. Aku inget soal bonus Bobo yang bangunan lipat-lipat itu. Beres disusun, bisa berhari-hari aku memandanginya. Kalau betul si Chrisna itu Kak Kresno, kenapa dia tidak tanya dulu Kak Seto ya? Mungkin si Kresno, eh Chrisna ini anaknya gengsian.

      Reply
  7. Amri

    Rasa-rasanya gank Lenong Rumpi yang dimotori Harry De Fretes, Debby Sahertian, dkk yang pertama-tama mempopulerkan panggilan “Bo” ini. Atau ada yang lebih dulu?

    Reply
  8. sg

    Duh, saya baca Bobo ini kalau berkunjung ke rumah Budhe di Solo saja. Kalau di rumah hanya dibawakan majalah Kuncung dan Ceria oleh Ibu dari perpustakaan sekolahnya. Garuk-garuk masa lalu deh jadinya.

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Kuncung dan Ceria itu nggak kalah ciamik lho Brur. Kearifan lokal, haha. Waktu saya kecil dulu sempat takut banget sama logo majalah Kuncung, yg anak-anak baris itu lho. Rasanya ganjil dan seram. Oya, kalau majalah Ceria, ehmm profil saya waktu kelas 6 SD pernah dimuat di situ! Wartawannya dateng ke rumah, naik bus disambung naik becak. 😀 Pas wawancaranya saya deg-degan bukan main.

      Reply
  9. Ismail Sunni

    Walah, ternyata lucu-lucu ya kalau dikumpulin surat pembacanya. Padahal dulu saya sering skip, baru dibaca kalau udah habis isi majalah lainnya. Apalagi kalau sekedar nanya alamat kantor apa gitu (dulu belum tau gunanya).

    Senasib, membaca Bobo dari bundel sekian edisi tahun 70-80an kalau ndak salah, dan langganan pas jaman SD, 90an.

    Pengen ngirim juga dulu, tapi kantor pos jauh, dan kotak pos isinya rumah burung. Ahaha…

    Keren om. Bikin mrengas-mrenges. Sekarang masih sepolos inikah pertanyaan yg datang? Udah mahal sih harganya

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      (((KOTAK POS ISINYA RUMAH BURUNG))) Pagupon ya? Hehe. Majalah Bobo jaman sekarang saya udah nggak ngikutin, dugaan saya sih ya masih polos tapi udah nggak sepolos yg dulu. Mungkin karena pengaruh derasnya era informasi yg juga menerpa anak-anak itu.

      Reply
  10. ipit

    Aduh, mendadak jadi ingin pulang ke Indonesia, lalu bongkar gudang dan baca lagi majalah Bobo :(.
    Btw Mas Bud, saya juga pernah kirim surat pembaca Bobo sekitar tahun 96-97 an kok ga dimasukin sih? hahah.
    Salam rindu buat Kineruku 🙂

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Halo Ipit! Hehe tahun ’96-’97 saya sudah nggak langganan Bobo, jadi nggak dimasukin. Sekarang lagi nggak di Indonesia ya? Pantesan es timun Kineruku kehilangan satu penggemarnya, hehe. Di negara perantauan kamu sekarang ada majalah anak yg selegendaris Bobo nggak? 😀

      Reply
  11. Pipin Hendapi

    Seiring perkembangan jaman dan teknologi semakin canggih, budaya membaca di kalangan anak2 harus tetap dibudayakan…dan Bobo sebagai Media sumbangsihnya sangat besar untuk mengembangkan memory dan imajinasi anak, tetap berkarya dan eksis…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *