Berlari ke Bukit Menyelamatkan Siapa

Tiap kali nama Iron Maiden tertangkap oleh matanya, seperti tadi pagi ketika iseng membaca-baca buku heavy metal di toilet, dia selalu teringat Anton Maiden. Dulu sekitar awal dekade 2000an, seorang kawan di kampus lama yang dua tahun lebih muda dari usianya, sebut saja namanya Jo, bercerita kepadanya tentang pria berkacamata asal Swedia yang bernama asli Anton Gustafsson itu. Jo mengaku menemukan file-file lagu Anton Maiden di internet ketika sedang mencari nomor-nomor Iron Maiden untuk keperluan karaoke. “Bayangin men, Iron Maiden dia bawain pake MIDI! Ngaco.. Lu pasti suka!” katanya dengan senyum-senyum tengil khas dia, sambil mengunyah batagor murah meriah di bawah pohon pepaya. Di masa-masa itu, Jo selalu dia ingat sebagai geek sejati, kebetulan kuliahnya memang IT, bacaannya luas dengan tulisan tangan sangat jelek, suka mengumpat dan kadang mereka ngobrol seru soal musik. (Ketika Jo tahu dia suka band LAIN misalnya, dan dia mengeluh tidak ada lirik di sleeve kaset Zeke dkk itu, Jo langsung berkata, “Ada kok liriknya, di MySpace mereka. Besok gua print buat lo.” Kertas print-out lecek dari era 2003 pemberian Jo itu bahkan masih dia simpan hingga kini.) Dia lupa persisnya apakah Jo mengcopykan lagu-lagu itu untuknya atau dia langsung melesat ke warnet terdekat dari kampus, tapi setelah mendengarkan lagu-lagunya dia kira-kira bisa mengerti kenapa Jo suka Anton Maiden, kenapa memilih menceritakannya kepada dia, dan kenapa dia bisa langsung suka! Musik metal jelas bukan selera terbesarnya, tapi interpretasi Anton-lah yang sontak memikat hatinya, bagaimana suara fals itu melaju kencang dan terjun bebas di tengah beat-beat videogame yang lucu; ada kesungguhan yang mengharukan, bagi dia justru inilah sosok metalhead sejati dengan spirit punk yang hakiki! Dari internet pula dia kemudian tahu bahwa Anton sedih mendapati banyak penggemar Iron Maiden tak menyukai penafsirannya, bahkan cenderung mencemoohnya, dan dia pun ikut masygul membaca kesedihan Anton. Sejak saat itu obsesinya terhadap penyanyi bersuara “jelek” (dalam tanda kutip) malah kian menjadi-jadi. Rasanya memang sudah ada dari dulu bibit-bibit itu di dalam dirinya, seperti bagaimana dia sangat menyukai Doel Kamdi maupun Daniel Johnston, Momus ataupun Sujud Kendang, terutama rasa kagum yang sulit dijelaskan atas upaya mereka mengolah kekurangan-kekurangan menjadi satu kelebihan. Saat dia akhirnya dikeluarkan dari kampus atas permasalahan akademik yang berlarut-larut, Jo adalah orang pertama sekaligus terakhir yang memeluknya, mencium pipinya, dan bilang “You’ll be fine, Mas.” Ketika itu awal Oktober 2003 dan langit terasa lebih gelap dari biasanya. Beberapa hari setelah surat keputusan rektorat itu mengagetkan kedua orangtuanya, dia mulai luntang-lantung dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, dan hari-hari kelabu itu kebanyakan dia habiskan dengan mencari-cari lowongan pekerjaan di warnet, dan dari sebuah web dia malah mendapati berita itu: Anton Maiden ditemukan tewas bunuh diri. Konon kabarnya dilanda depresi. Dia merinding saat menyadari bahwa Anton persis seumur dirinya, dan betapa jalan pintas serupa bukan tak pernah terlintas di benaknya. Mendadak kipas angin di meja sebelah berderak-derak lebih keras dari seharusnya, debunya membuyarkan lamunannya. Tanpa dia sadari kursor yang berpendar-pendar di monitornya telah bergerak mengunduh lagu-lagu Anton Maiden yang pernah didengarnya dari Jo, lalu disimpannya ke dalam beberapa disket 1.44 MB. Malam-malam setelahnya dia kerap terbangun oleh keringat dingin dan mimpi buruk yang terus menerus sama, dan kembali dia masukkan disket-disket tadi ke dalam CPU komputer kakaknya, hanya untuk mendengarkan lagi suara-suara mengharukan penuh gelora itu menghibur hatinya, “..run to the hills/ run for your lives..” Setiap bulan November dingin menghampiri kalender, seperti sekarang ini, dia sering teringat hari-hari suram di warnet itu, soda beku di kulkas kecil di sebelah printer, keripik pedes penuh micin, file-file *.fdr di Sent Items emailnya, peruntungan masa depan yang tak kunjung pasti, but Jo was right. Dia kini baik-baik saja.

___

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *