alone or lonely?

Gigi merilis lagu “Jomblo” pada 2001 di saat Damon Albarn mulai berjomblo karir eh solo karier dengan Gorillaz, lalu Adhitya Mulya (senior ospek, haha) mengeluarkan novel Jomblo pada 2003 yang konon bestseller ketika saya sudah dikeluarkan dari kampus dan malah diangkat menjadi film layar lebar pada 2006 dan kabarnya sedang/sudah (apa bedanya, btw) di-remake oleh sutradara yang sama juga di 2017 ini, tapi kapan sebetulnya istilah ‘jomblo’ mulai dikenal luas pertama kali? Saya kurang mengikuti musik Armand dkk, hehe, kebetulan nggak baca novelnya, nggak nonton filmnya, tapi saya ingat ada tulisan ini di majalah Hai, rubrik “Opini Kita” yang ditulis oleh seorang anak SMA, dari Bandung. Setidaknya bisa terbaca dari situ bahwa kata “jomblo” sudah dikenal di sekitaran Bandung, konon asal usul atau asal muasalnya dari bahasa Sunda, jauh sebelum produk-produk ikutan tadi itu bermunculan. Majalah tersebut terbit 18 Mei 1993, atau persis 13 tahun setelah Ian Curtis meregang nyawanya di tali gantungan yang ia sampirkan sendiri ketika Iggy Pop berputar di turntable dan di televisi sedang ada film Stroszek. Kita tahu Joy Division banyak bikin lagu-lagu tentang kesepian, lebih ke lonely ketimbang alone, yang liriknya seperti puisi-puisi tentang alienasi atau rasa berduka yang terlampau dalam, meski kadang itu lebih ke curhat terselubung Ian Curtis tentang epilepsi yang kian memburuk. Ia bahkan nggak berani gendong bayinya! Di salah satu lagu terkelam mereka di album penghabisan, “Isolation”, ada lirik “..a blindness that touches perfection/ but hurts just like anything else..” yang rasa-rasanya lebih mirip keclap-keclap silau di bola mata sesaat sebelum kesadaranmu melayang dan percik-percik listrik dari sel-sel otak yang bersiap mati dan takkan tumbuh kembali saat seizure menyergap tanpa permisi, ketimbang ‘sekadar’ berpuisi soal kesuwungan hidup yang sering apes. Saya masih terus bertanya ke diri sendiri, adakah secercah pasrah ala Pandu dan Pendawa, nrimo ing pandum atas kuasa langit dan para Betara, “…but if you could just see the beauty/ these things i could never describe…”? Ora kabeh isa, yen dak rasa-rasa, describing the indescribable!

__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *