Ada Mbah Dukun, Sedang Bikin Kaset Demo-nya..

Meski sampul kaset demo yang saya temukan di pasar loak beberapa waktu lalu ini membiarkan tetap kosong data elementer kapan tanggal rilisnya, saya masih ingat betul bagaimana lagu fenomenal itu muncul ke permukaan pada sekitar 2002. Syahdan, limabelas tahun silam, di tengah kebosanan industri musik yang gitu-gitu aja di radio dan televisi (maksudnya, what do you expect bro, dari err ‘hip metal’? wkwkwk), mendadak nongol sosok ajaib ini: kombinasi maut dari dangdut + metal + Michael Jackson. Moniker yang dipilihnya pun tak main-main, dan sungguh Hamka-esque: nama Alam ternyata adalah singkatan dari Are Lion Angkara Malam. Baik lagu maupun penyanyinya sama-sama menggelikan, tapi justru bahan-bahan semacam itulah yang mengembalikan pesona dangdut ke sihir lawasnya di era akhir ’80an dan awal ’90an (setidaknya bagi saya pribadi), yakni figur-figur konyol tapi seru yang muncul dengan nomor-nomor one hit wonder legendaris yang menempel lekat-lekat padanya. Seperti lengkingan maut Jhonny Iskandar di tiap awal bait “Bukan Pengemis Cinta“, goyang irit dari Ona Sutra di lagu “Bola” yang gerak-gerik penyanyinya malah mengingatkan saya pada oom-oom jenaka berwajah ramah di halalbihalal keluarga besar, dan tentu saja rayuan gombal “Cinta Sabun Mandi” yang mau tak mau memang identik milik Jaja Miharja seorang. Komposisi “Mbah Dukun” ciptaan Endang Kurnia ini memang punya amunisi lengkap dan racikan tepat untuk langsung meledak sebagaimana para seniornya, seperti ekspresi keseriusan yang mengharukan (justru karena tampak terlalu bersungguh-sungguh itu mereka jadi lucu!), melodi-melodi racun yang cepet nempel di kuping pendengar (sebetulnya ini trik standar di ranah musik pop dan dangdut, tapi grafik emosi dari detik-detik awal hingga akhir lagu itu jelas menunjukkan kelas tersendiri), dan tentunya lirik-lirik koplak yang mengundang gelak. Kita yang hidup di Indonesia tentu paham bagaimana dukun bekerja, tapi kecuekan Alam menggambarkan pameo lama “cinta ditolak, dukun bertindak” secara terang-terangan dalam bentuk lagu patut diacungi jempol. Lalu pasien disembur! Beuhh.. Mbah dukunnya malah nge-rap. Belum lagi cekikikan khas yang sungguh menular (susah betul untuk tidak ikut tertawa melihatnya), vokal serak, dan celetukan “tsaaahh” yang masih di-twist lagi menjadi “syeaachh” di subtitle layar-layar karaoke. Sejatinya ada dua legacy besar dari era kejayaan Alam yang masih saya kenang hingga hari ini: 1) joke abadi “SEBELUM MENCIPTAKAN ALAM, TUHAN MENCIPTAKAN APA? VETY VERA!” 2) banyak mas-mas jadi keidean untuk.. rebonding. Bencana fashion pun mewabah di mana-mana. Peace, aachhh..

__
Mari tengok kembali videoklipnya di tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *