Adikarso

Adikarso_Varia1960

 ikhti[ar]sip.006, diketik-ulang dari:
Majalah Varia, No. 104, 13 April 1960, kolom Close-Up, halaman 5-6.

Agaknja malu2 ia ketika diminta bertjerita tentang dirinja, lebih2 mengenai hasil tjiptaannja, lagu “Papaja Cha-Cha-Cha”, jang sudah begitu populer sekali. “Saja malu, mas! Lagu itu mungkin oleh para pentjipta jang lebih lihay dianggap masih djauh dari sempurna!” demikian udjarnja. Dia itulah: Adikarso, seorang berpengawakan gemuk dan jang sudah sedjak lama berkerdja pada perusahaan piringan hitam N.V. “Irama” di Tjikini, Djakarta. Bahkan didjelaskan bahwa ia bekerdja disitu sedjak lahirnja perusahaan tsb.

Penuh dengan pengalaman.
Anak Djember jang lahir pada tgl. 25 Djuni 1924 itu, ternjata sudah sedjak ketjil mengenal “struggle for life”. Ketika tamat sekolah rendah maka ia oleh orangtuanja sudah diharuskan berdiri sendiri, dan setelah merantau kemana2, bekerdja, achirnja bisa memasuki sekolah tehnik. Kemudian berhasil bekerdja pada Marine bagian perbengkelan di Udjung, Surabaja. Dan ketika didjaman Djepang ada perintah-paksaan beladjar pada sekolah pelajaran di Shonanto (Singapore), maka Adi bersama kawan-kawannja “terdampar” dibandar Singapore dan bersekolah disana selama 7 ½ bulan. Kemudian pulang ke Tanah-Air dan bekerdja pada depot K.A. dikota Djember.

Disamping bekerdja, maka Adi terdorong oleh minat jang besar ikut dalam perkumpulan kerontjong, baik sebagai penabuh instrumen musik maupun selaku biduan. Ketika ada perebutan kedjuaraan kerontjong buat daerah Besuki, maka Adikarso berhasil menduduki nomor dua. Keinginannja merantau tergolak lagi, maka ia pun pindah tempat dan menetap di Modjokerto. Sebelumnja, karena ia masuk mendjadi anggota perkumpulan kepanduan K.B.I., maka pernah ikut “siaran2 pak Doho” untuk tjorong R.R.I.

Di Modjokerto ia kemudia masuk rombongan “koor arek-arek Surobojo” dbp. alm. Hardi (bukan Hardi trompetis alm.). Dan ketika djaman gegeran revolusi, rombongan “koor” tsb. achirnja sampai mengungsi dan berada dikota Djokja, kemudian semakin diperkuat dengan ikut sertanja Bing Slamet (ketika itu belum ada “Bing”-nja), Sri Kuntari, Napu, Maskan, Suroso, Piet Soerjo, Carry, dll., jaitu mereka jang diwaktu belakangan ini merupakan pemusik2 dan biduan2 jang baik kedudukannja dalam masjarakat. Waktu itu mereka dikota Gudeg jang masih merupakan ibukota N.R.I. merupakan rombongan jang dikenalnja dengan nama “The Hardy’s boys and a miss” (jang djadi miss-nja ialah biduanita Sri Kuntari). Disamping itu, untuk keperluan siaran luar negeri R.R.I. mereka bermain musik dibawah nama “The six Gandiers and a goos”.

Jang mendampingi saat terachir Kartolo.
Sebagai pengungsi dari Djawa Timur, Adikarso kemudian mendapat pertolongan rumah di Tamansari dari Kartolo, suami Rukiah. Persambungan antara Adi dan Kartolo itu adalah akibat logis dari sesama rekan dibidang musik. Tapi kemudian ternjata bahwa mereka berdua dapat merupakan sahabat karib satu-sama-lain.

“Pada suatu saat pernah saja djatuh sakit, kena malaria,” demikian Adikarso mengenangkan pengalamannja bersama Kartolo almarhum. “Anak-anak mas Kartolo itulah jang merawat saja, sampai2 anak jang paling besar membawakan bubur dan bahkan menjuapkan bubur itu kedalam mulut saja. Ketika saja sudah hampir sembuh, tiba2 mendengar bahwa mas Kartolo djuga sakit. Walaupun saat itu saja masih kuat benar tetapi saja perlukan datang kerumahnja. Mungkinkah ia djuga terkena malaria? Tapi, sebagaimana jang saja lihat sendiri, pada pangkal pahanja ada bibo, sematjam bisul. Dan, saja tahu sudah apa jang diderita mas Kartolo, selain memang malaria.

Saat itu sedang hebat2nja pes berketjamuk di Djokja dan di Tamansari memang sudah ada beberapa orang korban. Ketika saja jakin benar, bahwa jang diderita mas Kartolo itu pes bibo, maka segeralah saja mengadjak keempat2 anaknja keklinik minta disuntik. Saja masih ingat benar, didalam mengigau lantaran panas badan, mas Kartolo selalu sadja menjatakan idam2annja akan dapat segera kembali pulang ke Djakarta bersama ke-empat anak2nja jang masih ketjil2 itu. Tapi idam2nja itu tak tertjapai. Ia meninggal tidak lama setelah saja bawa kerumah-sakit. Suntikan penisilin jang dengan susah pajah berhasil saja ichtiarkan dengan harga Rp. 1000,- per ampul (dan saja hanja dapat sebuah sadja), ternjata tak dapat menolong djiwanja. Ia meninggalkan ke-empat anak2nja, jang telah sudah djadi piatu itu. Apa hendak dikata! Sajalah pada waktu itu sahabat karibnja jang terdekat. Maka adalah sudah mendjadi kewadjiban saja pula untuk lantas merawat ke-empat anak jatim-piatu, anak2 peninggalan seniman dan seniwati, jang walaupun ketjil namun sudah menundjukkan darma-bakti dan djasa2nja kepada masjarakat, nusa dan bangsa.

Pada kesempatan pergi ke Djakarta dengan menumpang konvooi sesudah adanja clash kedua Belanda, saja bawa anak2 itu ke Djakarta, antara lain dengan keinginan merealisir idam2an almarhum. Sesampai di Djakarta, ja, lantas se-bisa2 saja mentjari redjeki, untuk dapat terus menolong anak2 sahabat karib saja itu, disamping memang sudah pula ada jang menampungnja, jaitu keluarga alm. Rukiah.”

Lahirnja “Papaja Cha-Cha-Cha”
“Dengan serba kebetulan dan serba tak sengadja, mas!” begitu ia memulai bertjerita tentang lahirnja lagu jang kemudian mendjadi tenar itu. Saja telah kawin dan punja anak. Tapi anak2 almarhum masih kumpul serumah. Dimuka rumah ada pohon papaja. Banjak buahnja, walaupun pohonnja hanja rendah2 sadja. Dan, karena kami serumah hidup serba kekurangan, maka buah papaja itulah jang selalu menolong dapur kami. Djelasnja, walaupun masih muda, ja, dipetik, untuk dibuat sajur. Demikian itu berdjalan beberapa bulan.

Pada suatu siang, sepulang saja dari Kantor Irama, kiranja hudjan lebat tiba dan ketika saja sampai dimuka rumah, saja lihat pohon papaja jang sungguh berdjasa itu sudah tumbang. Betapa terharu saja sungguh tak terkirakan. Rasa hati sudah seperti kehilangan salah seorang dari keluarga sadja. Tergeraklah hati saja setjara tiba2 untuk membuat tjorat-tjoret diatas kertas. Sebuah lagu dengan kata2nja terlahir.

Saja segera menjuruh anak2 almarhum menjanjikannja ber-sama2. Enak, enak lagunja, Oom, lantas namanja apa, ja? Begitu terdengar dari mulut anak2 itu. Jah, djawab saja, demi penghargaan kita terhadap djasa2 pohon papaja jang sudah tumbang itu, baiknja namakan sadja Papaja. Dan karena iramanja adalah irama Cha-Cha-Cha, irama jang waktu itu lagi populer sekali, maka kemudian saja namakan sadja lagu itu Papaja Cha-Cha-Cha.

Anak2 almarhum, jang rupa2nja ada djuga kealiran darah seni dari orangtuanja, ternjata lekas sadja hafal lagu itu. Selalu dinjanjikan dalam suasana gembira, sambil mengenangkan nasib pohon papaja jang tumbang itu.

Tape jang kebetulan.
Pada suatu ketika, seperti biasa apabila kebetulan ada opname piringan hitam di Irama selalu saja bawa anak2 almarhum, opname untuk lagu2 baru jang dimainkan oleh sebuah orkes harus mengalami kelambatan, disebabkan biduan belum djuga tiba. Maka, setjara kebetulan dan dengan maksud iseng, oleh operator saja diminta memainkan lagu, kalau ada lagu baru. Tentu sadja saja kemukakan gubahan saja itu, jang lalu saja njanjikan sendiri dan diantara anak2 almarhum djuga ada jang ikut menabuh instrumen. Operator merekamnja diatas tape. Kemudian diputar, dan kami ramai2 mendengarkannja, dengan diseling oleh gelak tawa anak2.

Kiranja direktur Irama setjara kebetulan ikut pula mendengarkan. Beliau tertarik dan menjuruhnja lagu itu dimainkan betul untuk direkam diatas piringan hitam. Djadi sudah! Pada baliknja plaat itu pun direkamnja sekali lagu saja kedua, jaitu lagu jang saja beri nama Marjamah. Kemudia lantas R.R.I. meminta untuk disiarkan. Begitulah riwajat kelahiran lagu jang serba setjara kebetulan sadja itu!” Konon, lagu “Papaja Cha-Cha-Cha” itu termasuk rekor dalam pendjualan.

Setelah itu Adikarso masih mengarang beberapa lagu lagu, antara lain, jang djuga mendjadi terkenal, misalnja “Pasar Baru”, “Markonah” (sjair oleh A. Oesman), “Bangun Pagi” dan gubahannja terachir ialah “Marilah tanam singkong”. Lagu2 Adi dimaksud sebagai lagu untuk anak2 tapi digubahnja setjara populer sekali dan mudah dinjanjikan oleh anak2, digemari pula oleh orang2 tua.

(H. Asby)

 * * *

Adikarso_Plat-Kaset-Majalah

>> MP3: Lagu “Papaja Mangga Pisang Djambu
>> Album Papaja Mangga Pisang Djambu Volume 2 dibahas di sini.
>> Untuk ikhti[ar]sip lainnya, klik di sini dan di sini.

One thought on “Adikarso

  1. Pingback: Kisah Pembebasan Lagu "Happy Birthday" Ke Domain Publik - CC Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *