A Woman Is A Woman

Angela, seorang penari striptease berwajah melankolis, bermimpi bisa tampil di pergelaran musikal nan megah bersama Gene Kelly. Namun ada satu impian sederhana yang melebihi segalanya: segera hamil dan punya anak. Mungkin Angela memang konvensional, perempuan ini hidup di satu sudut Paris tahun 1960-an, tapi begitulah jalan pikirannya—dia juga berkeyakinan “We should boycott women who don’t cry.” Emile, sang pacar yang tinggal serumah, menolak niat hamil itu. Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Sementara Alfred, teman baik mereka berdua, kebetulan juga menaruh hati pada Angela. Plot cinta segitiga terjalin. Sekilas tampak sederhana, namun di tangan seorang Jean-Luc Godard, segalanya bisa jadi sangat berbeda.

Gerakan sinema French New Wave sedang berada di puncak-puncaknya ketika Godard kembali menggebrak dengan film panjang ketiganya, A Woman is A Woman (1961). Jika di Breathless (1959) Godard menunjukkan kecintaannya pada film-film B-movies Amerika, kali ini ide film musikal menjadi laboratorium barunya. Meski dimaksudkan sebagai penghormatan kepada film-film musikal Hollywood era 1950-an, film A Woman is A Woman justru berhasil tampil dengan gayanya sendiri yang unik, dan tidak serta-merta musikal. Plot ménage a trois yang simpel—kisah cinta segitiga antara 1 perempuan dan 2 laki-laki, dengan porsi utama pada perempuan—bisa jadi telah dianggap klise dan usang, namun yang menakjubkan adalah usaha Godard mengolahnya menjadi sesuatu yang tak biasa, baik dari segi cerita maupun bahasa gambar. Eksperimennya yang tak terbatas—bermain-main dengan teknik penyuntingan jump cuts, termasuk tiba-tiba memenggal scoring di tengah-tengah adegan, gerakan kamera hand-held yang jauh dari pretensius, adegan mogok-bicara-lalu-saling-bertukar-buku (oh, sungguh jenius!), juga panning yang cerdas dan keputusan menambahkan teks di beberapa adegan—menjadikan film ini sebuah sajian visual yang akrobatik sekaligus menggetarkan. Godard memilih bersenang-senang, dan penonton menikmatinya.

Pilihan Godard yang sering mengangkat karakter perempuan terpinggirkan sebagai tokoh utama—penari striptease di film ini, dan perempuan pelacur di film berikutnya, My Life to Live (1962)— bisa menjadi perbincangan tersendiri yang terlalu menarik untuk dilewatkan. Melalui film A Woman is A Woman, Godard mengajak kita menyelami alam pikiran perempuan, yang merupakan misteri tersendiri baginya. Atau bahkan bagi sebagian besar kita, yang apa boleh buat, hidup di dunia yang masih dipenuhi wacana patriarkis. Seperti ketika pertanyaan “Is it a comedy or a tragedy?” dilontarkan di sebuah adegan, lalu salah satu tokohnya menjawab: “With women, we’ll never know…” Pada akhirnya, seorang perempuan adalah seorang perempuan.

[Budi Warsito]

A Woman Is A Woman 
(Une femme est une femme). Jean-Luc Godard, France, 1961. Color, 84 min, DVD.

[LINK] Trailer film A Woman Is A Woman.

A Woman Is A Woman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *