A’, Setun A’.. Jagger, Jègêr, Jäger…

Kemarin seorang teman bertanya di status medsos seorang teman lainnya yang mengunggah foto di atas, “Ini bikin gue penasaran, kenapa orang-orang di Bandung jaman dulu segitu sukanya sama The Rolling Stones? Trus kenapa juga orang yang paling garang dipanggil Jegger, padahal dia asa teu garang?Karena saya turut dicolek di kanal comment-nya, jadilah saya ikut urun jawaban. Dibanding Mick Jagger, secara look dan falsafah hidup Keith Richards memang jauh lebih garang, bahkan Johnny Depp saja sampai menjadikannya inspirasi atau role model saat membayangkan tokoh Jack Sparrow di film-film Pirates of the Carribean. Tapi lidah Endonesah kan lebih susah ngucapin Richards (“Ricêt”?) ketimbang Jagger (“Jègêr”!). Hehe.

Saya pikir beberapa daerah memang punya sebutan khas masing-masing untuk entitas problematis bernama “preman”, seperti misalnya “jenggo” di Jakarta, “gali” di sekitaran Jateng DIY, dan “jeger” di wilayah Jawa Barat. “Jenggo” tentu saja diambil dari jagoan koboi di film klasik spaghetti western-nya Franco Nero berjudul Django (1966) yang populer di bioskop-bioskop ibukota pada sekitar dekade ’70an. Saking populernya bahkan sampai ada lagu-lagu interpretasi Django beserta beberapa variannya di industri musik pop(uler) saat itu—yang memang berpusat di Jakarta—seperti Lilis Suryani (1968) atau Oma Irama & Elvi Sukaesih (1971). Kalau “gali” sendiri saya malah kurang paham asal-usulnya, meski ada yang bilang itu singkatan dari “gabungan anak liar”—yang saya ragukan kebenarannya karena istilah di bahasa Jawa kok singkatannya malah bahasa Indonesia. Sementara “jeger”, menurut saya, besar kemungkinan memang berasal dari Mick Jagger-nya The Rolling Stones.

Bahwa grup musik asal Inggris itu populer di Bandung (atau lebih luas lagi, Jawa Barat) bahkan hingga ada frase/ungkapan bernuansa Sunda, “A’.. Setun, A’..!” (cara santun penonton me-request lagu-lagu The Rolling Stones untuk dibawakan oleh band yang sedang tampil di panggung), saya rasa ada hubungannya dengan reputasi Bandung sebagai salah satu barometer kultur pop di Indonesia di dekade ’60an/’70an/’80an (bahkan kultur musik indie—atau lazim disebut “indies” di era ’90an), terutama dari sisi fashion dan musik yang memang berkaitan erat. Karena The Rolling Stones cukup beken di Indonesia saat itu (era ’70an dan ’80an), jadi wajar jika yang paling kelihatan pemujaannya adalah di salah satu “episentrum-nya pop” yakni Bandung. Apalagi ada majalah Aktuil juga, yang bisa dibilang adalah agen persebaran pop culture terbesar di kalangan anak muda Indonesia saat itu (era ’60an hingga ‘70an), yang bukan kebetulan memang bermarkas di Bandung.

Mungkin Lennon-McCartney dkk dirasa terlalu “anak manis” bagi orang-orang Bandung yang saat itu (konon) jiwanya lebih ke tipe ‘pemberontak’, maka lumrah belaka jika imaji visual Jagger dkk lebih merasuk ke benak mereka. Munculnya figur-figur pemusik bengal lokal dari Bandung seperti Deddy Stanzah dan Bangun Sugito (aka Gito Rollies), juga pria asal Malang yakni Mickey Merkelbach alias Micky Jaguar—yang dijuluki Mick Jagger-nya Indonesia—rasanya punya pengaruh juga menambah kegandrungan anak-anak muda Bandung kepada Mick Jagger dan The Rolling Stones. Seorang teman dari kawasan Kebon Pisang, Bandung, pernah bercerita, dia mengoleksi foto lawas dari dekade ’80an tentang orang-orang yang katakanlah ‘disegani’ saat itu di kalangannya, yang kerap disebut “jeger” oleh lingkungan sekitar, dan dari foto itu terlihat betapa “jeger-jeger” Bonpis itu memang berpakaian ala Mick Jagger. Stiker alias gambar tempel atawa gambar setrika bermotif lidah merah menjulur pun belakangan jadi ikut populer.

Ketika kemudian ada yang mengartikan “jeger” sebagai singkatan dari “jelema gering” (dalam bahasa Sunda artinya orang ‘sakit’, makna konotatif), saya duga itu hanyalah singkatan yang dicari-cari, yang baru dimunculkan belakangan, alias diada-adakan, disambung-sambungkan, sejenis othak-athik gathuk yang jika dalam khazanah bahasa Jawa dikenal ada istilah “jarwodosok” (contoh: “kodhok” = “teko-teko ndhodhok“/katak, dateng-dateng langsung jongkok, “garwo” = “sigaraning nyowo“/istri, belahan jiwa, “keris” = “mlungker ra iso nggo ngiris“/berkelok-kelok tak bisa dipakai mengiris, dsb).

Bukti lain betapa populernya band Mick Jagger dkk di Bandung saat itu, di era ’70an-’80an ada seorang pemusik buta di Jl. Braga yang sering membawakan lagu-lagu The Rolling Stones dengan instrumen kecapi (!), dan dia terkenal dengan julukan Braga Stone. Bahkan sampai rekaman dan dirilis menjadi kaset oleh label musik Yess. Kini kaset tersebut cukup langka keberadaannya dan lumayan diburu di kalangan para kolektor musik.

Menariknya, seorang teman lain ikut berkomentar di percakapan kami tadi, bahwa menurut dia, bisa jadi “jeger” lebih berasal dari “Jäger”, sebuah istilah di dunia militer dalam bahasa Jerman. Membaca entry-nya di Wikipedia, silakan direnung-renungkan sendiri apakah masuk atau nggak. Lagipula, apa sih yang nggak mungkin di negeri kita yang lucu ini?

[Budi Warsito]

_____
Foto oleh Widyarani, lokasi di sebuah gang di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *