1945 vs. 2605

PlatGramofon_Proklamasi_IndonesiaRaya

Pernahkah Saudara memperhatikan dan bertanya-tanya, bahwa di teks proklamasi—baik versi tulisan tangan maupun yang diketik—memang tercantum angka ’05 (seperti kata guru-guru SD kita, itu singkatan dari tahun Jepang 2605), tapi kenapa di rekaman audio yang kerap diputar di TV-TV terdengar jelas Bung Karno melafalkan “..seribu sembilan ratus ampat puluh lima..” alias 1945? Mengapa beliau tidak mengucap “..duaribu anem ratus lima..” saja sesuai teks? Kenapa bisa beda, antara yang ditulis dengan yang dibaca? Jawaban paling meyakinkan sejauh ini adalah: rekaman audio tersebut sebenarnya tidak direkam tepat pada saat pembacaan proklamasi di hari Jumat Legi bulan Ramadhan tanggal 17 Agustus 1945 pukul sepuluh pagi waktu Djakarta, melainkan baru beberapa tahun setelahnya. Yak betul, itu baru direkam beberapa tahun setelahnya. Sejumlah sumber menyebut tahun 1951, konon itu pun setelah Presiden Sukarno berhasil dibujuk dengan susah payah oleh Joesoef Ronodipoero, pendiri Radio Republik Indonesia yang saat itu baru saja membeli peralatan anyar. Bapak Proklamator akhirnya berkenan “membacakan ulang” naskah proklamasi yang legendaris itu untuk direkam oleh Bapak RRI. Setelah beberapa tahun merdeka, termasuk harus mengalami tahun-tahun awal pasca-kemerdekaan yang tak mudah, sangat bisa dimengerti jika untuk rekaman audio-nya kemudian Presiden Sukarno lebih memilih mengucapkan angka 1945 tahun Masehi yang ikonik, mungkin sekaligus sebagai koreksi, dan jelas terdengar lebih nasionalis dan revolusioner ketimbang 2605 tahun Jepang di teks aslinya. Setelah itu baru Lokananta, perusahaan rekaman milik negara yang berdiri pada 1956 di Surakarta, kemudian memperbanyak rekaman “pembacaan ulang” proklamasi itu ke dalam format plat gramofon (shellac) berkecepatan 78rpm, dibundel berurutan di side A dengan lagu “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman versi instrumental resmi pemerintah—diaransemen oleh Jozef “Jos” Cleber beserta Orkes Cosmopolitan dengan beberapa saran/masukan dari Presiden Sukarno langsung.

[Budi Warsito]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *