Oops! …Kok Ngene Meneh?

May 26th, 2015 | 1

KasetBritney_Oops

Suka atau tidak, musik dekade ’90an dibuka oleh Nirvana (atau Vanilla Ice, tergantung selera Anda) dan ironisnya, ditutup oleh Britney Spears. Album debut Britney …Baby One More Time (1999) sudah terjual puluhan juta copies hingga hari ini. Saya inget betul ekspresi mukanya yang polos-polos gimana gitu di videoklipnya—thanks to MTV Asia via ANteve—dimana ia tampil sebagai gadis SMA baik-baik kepang dua, yang sekaligus sok rebel dengan ujung kemeja diiket di atas pusar dan rok sepaha melambai-lambai sentosa, kaos kaki menjulang sampai lutut (menginspirasi Cinta dkk di AAdC?), menunggu-nunggu bel sekolah berdering sambil berfantasi hura-hura joget di lapangan basket. Lirik “..my loneliness / is killing me..” (dengan pelafalan kenes pada suku kata “-ness”) seperti hendak membuktikan bahwa kesepian adalah memang musuh abadi manusia, » Read the rest of this entry «

Street – s/t (1968)

May 9th, 2015 | 0

Street-st-12'

#weekendplaylist » Read the rest of this entry «

Yakin Bro, Lebih Baik Sakit Gigi?

April 28th, 2015 | 2

Kaset_Pepsodent_CloseUp

Saat mendapati dua kaset ini di tukang loak sejujurnya saya kurang paham apa hubungan odol dengan musik dan lagu. Kalau mau dicari-cari othak-athik gathuk-nya sih ya pasti bisa. Misalnya, mungkin mereka cuma mau bilang bahwa kegiatan tarik suara bakal lancar jaya jika nafas kita segar, alias nggak bau mulut? Sering kita lihat bagaimana penyanyi-penyanyi tampil duet secara live, » Read the rest of this entry «

D’You Know What I Mean?

April 25th, 2015 | 0

Kaset-Single-Oasis-D'YouKnowWhatImean

Saya kurang suka pelajaran Ekonomi, yang pas saya kelas 2 SMA sekitar 1996-1997 mata pelajaran membosankan itu kok ya kebetulan jadwalnya tepat di jam setelah pelajaran Olahraga. Jadi selalu ada alasan yang saya cari-cari supaya nggak usah masuk kelas habis itu, seperti kaki pura-pura keseleo di lapangan basket, atau mengaku jidat benjol kena smes bola volley. Ketika stok derita diri sendiri mulai habis, mulailah mengarang indah alasan lain semacam “terpaksa mengantarkan pulang teman” yang keracunan air kolam setelah kelas berenang, atau “harus menyisir toko-toko peralatan olahraga” gara-gara nggak sengaja matahin tongkat lompat galah punya sekolah. Padahal ujung-ujungnya ya keluyuran ke toko kaset, » Read the rest of this entry «

#RecordStoreDay 2015

April 21st, 2015 | 0

Kaset-kaset-RSD2015

Beberapa hari terakhir ini saya harus berada di ibukota, jadi keriaan Record Store Day 2015 yang sempat saya datangi ya cuma RSD Jakarta. Dua hari berturut-turut saya menyambangi bazaar musik di gedung Bara Futsal Melawai yang saat itu lebih mirip sauna gratis dengan bonus asap rokok tak berkesudahan, berharap bisa konsentrasi digging yang tentunya tak bisa maksimal gara-gara venue yang pengap luar biasa. Saya berhasil keluar hidup-hidup dengan kaos basah penuh keringat dan badan yang terasa jadi lebih empuk mirip bandeng presto ala Semarang, tapi toh saya tetap senang bisa membelikan istri kaset single NKOTB untuk melengkapi koleksi favoritnya. Rani menyusul ke venue malam harinya, dan dengan jeli langsung menemukan double plat Grace Slick and the Great Society di salah satu lapak, yang harus saya akui langsung melibas semua plat hasil buruan saya hari itu. Tapi rasa-rasanya tangkapan terbesar saya kemarin itu kok justru ada pada kaset. Beberapa di antaranya sebenarnya saya sudah punya, tapi tetap saya beli lagi dan lagi, untuk keperluan arsip agar musik bagus tak lantas lenyap ditelan zaman. Berikut ini kaset-kaset temuan yang perlu saya syukuri: » Read the rest of this entry «

Tiga Menguak Camus

February 24th, 2015 | 0

TheOutsider_OrangAsing_WongNjaba

Except for these privations I wasn’t too unhappy. Yet again, the whole problem was:  how to kill time. After a while, however, once I’d learnt the trick of remembering things, I never had a moment’s boredom. » Read the rest of this entry «

Belajar Script Development 101

February 24th, 2015 | 1

revisiohrevisi!

Berikut ini saya share salah satu proses menulis saya. Ide dicomot dari sana sini. Awalnya saya melempar satu anekdot pendek (lihat Draft 01 di bawah) tentang rumah berhantu ke sebuah WhatsApp group yang isinya kawan-kawan unit film di kampus lama saya dulu. Dasar sudah satu frekuensi, beberapa kawan langsung sigap menyambar dengan menambahi cerita dari pancingan saya itu. Saya sambung lagi, lalu disambar lagi oleh kawan yang lain, begitu seterusnya, makin panjang dan panjang lagi. Rupanya seseorang di group itu lalu menyatukan cerita panjang tersebut dan menyebarkannya lewat WhatsApp, Line, BBM, dsb, sehingga makin menyebar, menyebaar, teruuuus menyebaaar. Pokoknya going viral gitu deh. Lucunya, setelah berkelana sana-sini di belantara dunia maya, ehhh anekdot itu beberapa kali kembali ke saya sendiri!

Yang saya mau bilang di sini adalah: untuk beberapa kasus, proses menulis adalah perkara revisi, revisi, dan revisi. Lagi dan lagi. Saya posting di sini, pura-puranya untuk menanggapi postingan Ardi dan Jaki soal serupa. Eh beda sih.. Tapi cuek ah.

DRAFT 01.

FADE IN.
INT. Home – NIGHT

Suatu hari di rumah baru.
“Pa, katanya di rumah ini ada hantunya ya?”
“Ah, kata siapa, dek?”
“Kata Bik Inah, pas nyebokin aku.” » Read the rest of this entry «

did you make mankind…

February 21st, 2015 | 0

XTC_DearGod

…after we made you? » Read the rest of this entry «

Berburu dan Meramu?

February 19th, 2015 | 0

.
Beberapa hari lalu Talitha mewawancarai saya untuk sebuah artikel di web roi-radio. Saya muat ulang tulisan tersebut di blog ini untuk arsip, versi asli sebelum diedit oleh editor web tersebut:

foto-BW_roi-radio

Budi Warsito, dari Majalah Tua ke Barang Vintage
Teks dan Foto oleh: Talitha Yurdhika

Memori adalah sejarah masa lalu, tersimpan lewat barang, musik, bacaan, apapun. Coba deh lihat sekeliling kamu, kita nggak bisa terlepas dari kenangan-kenangan masa lalu yang berupa barang vintage, kan? Nah, ngomong-ngomong soal itu, saya sempat ngobrol santai bareng seseorang yang hobi banget mengoleksi barang-barang vintage nih, ini dia Budi Warsito. Menurut Mas Budi, barang-barang lawas selalu punya kisah tersendiri dari masa ke masa. Pengen tahu lebih lanjut, yuk simak ulasannya! » Read the rest of this entry «

Lomba Mirip Gombloh
dan Kaset Duplikat Group

February 9th, 2015 | 2

DuplikatGroup_kaset

Ketika sedang mempersiapkan kaset album solonya yang kesekian, yang kemudian memuat hits pop terbesarnya “Kugadaikan Cintaku”, Gombloh pernah kepikiran satu cara promosi yang tak lazim, yakni membuat lomba mirip Gombloh. Ini mirip look-alike contests di Barat sono [salah satu yang cukup legendaris: mitos soal Chaplin pernah diam-diam menyelinap ke lomba mirip-miripan Chaplin, ikut bertanding, dan kalah! Haha. Berarti pemenangnya dianggap lebih mirip Chaplin ketimbang si Chaplin itu sendiri!]. Namun sayangnya sebelum rencana promosi unik itu sempat terwujud, Gombloh yang mengidap penyakit paru-paru kronis sudah harus dipanggil menghadap-Nya, awal Januari 1988. Atas seizin keluarga almarhum, Radio Suzana dari Surabaya berniat meneruskan rencana kocak itu, » Read the rest of this entry «