duaribusepuluh.

January 1st, 2010 » 2

c&h

the bells don’t ring at night.

Chief Sitting Bull

December 15th, 2009 » 5

.
(cerita pendek oleh Umar Kayam)

carousel

Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.

Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.

“Lima, seperti biasa, Charlie?” » Read the rest of this entry «

You Are What You Eat

November 16th, 2009 » 13

.

mangan_ora_mangan

I’m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.
—A. Whitney Brown, “Saturday Night Live” cast member, Season 11-16, 1985-1991.

Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga—sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku moviefreak sejati, pernah membuat review film Korea berjudul 301, 302 (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa! » Read the rest of this entry «

O Judge Dredd, Where Art Thou?

November 10th, 2009 » 4

.

komikmagnetik

“They call him Judge, his last name is Dredd.
So break the law, and you wind up dead.”
(“I Am The Law” —Anthrax, dari album Among The Living, 1987)

Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil—rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat ngantor demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. “Life begins at six forty!” (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si slacker: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain metalhead, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan. » Read the rest of this entry «

Hikayat Si Koin Bolong

November 2nd, 2009 » 2

.

yencoinbolongthere’s a hole in my soul that’s been killing me forever / it’s a place where a garden never grows / there’s a hole in my soul yeah, I should have known better /’cause your love’s like a thorn without a rose
—”Hole in My Soul”, Aerosmith di album Nine Lives, 1997

Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja “Masih ada, Bu!”—ini persoalan etika menyenangkan orang seberang—sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu. » Read the rest of this entry «

Mengingat Yudi

October 29th, 2009 » 5

.

Tradtelefon

Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi. » Read the rest of this entry «

Superman, The Ordinary Man

October 10th, 2009 » 0

.

reevechair

A lot of people ask me when I do a stunt, ‘Jackie, are you scared?’ Of course I’m scared. I’m not Superman.”
—Jackie Chan

Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur tubuhnya mati rasa. Para penggemar Superman yakin Reeve akan segera pulih. “He’s Superman, isn’t he?” Tapi kenyataan berkata lain. Tujuh tahun berlalu, dan Reeve masih belum beranjak dari kursi rodanya. Di luar layar, Reeve hanyalah manusia biasa, bukan manusia super. » Read the rest of this entry «

Apa yang Kau Cari, Antonioni?

July 30th, 2009 » 0

.

BlowUp

They don’t mean anything when I do them. Just a mess.
Afterwards, I find something to hang on to…
Then it sorts itself out and adds up.
It’s like finding a clue in a detective story
.”
—Bill (John Castle), tentang lukisan-lukisan abstraknya, di film Blow-Up (Michelangelo Antonioni, UK, 1966)

London, 1966. Sebuah taman, luas dan sepi. Hijau rumput terhampar, begitu syahdu, begitu damai. Seorang fotografer berambut kusut dengan sorot mata nyalang, melangkah gontai tanpa tujuan, menyisir tepi taman. Nun jauh di tengah sana, tampak sepasang manusia bermesraan. Naluri fotografer mengatakan: itu objek menarik, maka dipotretlah mereka. Merasa privasi dia dan pasangannya terganggu, sang perempuan berang, lalu berlari mengejar sang fotografer. Dimintanya roll film itu, tapi sang fotografer menolak. » Read the rest of this entry «

Kopi, TV, Popularitas

July 25th, 2009 » 1

.

coffeeandtvmilk2


“Y’know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating ‘coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it’. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.

—Bob Dylan, memperkenalkan “Coffee & TV” di acara radionya pada tahun 2006

Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung. » Read the rest of this entry «

Binatang-binatang di Kepala Syd

June 12th, 2008 » 0

.

Syd

An effervescing elephant
with tiny eyes, and great big trunk
once whispered to the tiny ears
the ears of one inferior
that by next June he’d die, oh yeah!
because the tiger would roam
and the little one said oh my goodness I must stay at home
and everytime I hear a growl
I’ll know the tiger’s on the prowl
and I’ll be really safe you know
The elephant he told me so
And everyone was nervy, oh yeah!
and the message was spread
to zebra, mongoose, and the dirty hippopotamus
who wallowed in the mud and chewed
his spicy hippoplankton food
and tended to ignore the word
prefering to survey a herd
of stupid water bison, oh yeah!
and the jungle took fright
and ran around for all the day and the night
but all in vain because you see
the tiger came and said to me,
“You know I wouldn’t hurt not one of you
I much prefer something to chew
you’re all too scant, oh yeah!”
He ate the elephant…
—lagu “Effervescing Elephant”, Syd Barrett, album Barrett (1970).

Saya tak begitu ingat apa saja yang saya lakukan di usia 16 tahun. Itu sudah bertahun-tahun silam. Mungkin membolak-balik majalah HAI, karena masih ada cerbung bubin LantanG di sana, dan saya suka. Mungkin sedang berusaha (terlalu) keras menyatakan cinta monyet pertama saya, deg-degan dan malu-malu. Oh, atau mungkin sedang terlalu antusias (antara senang sekaligus cemas) karena pergi dari rumah dan mulai hidup terpisah dari orang tua. Dan saya mulai menulis. Puisi-puisi norak, cerpen-cerpen yang tak pernah selesai, atau sekadar kata-kata patah hati yang tak tersampaikan. Saya menulis apapun, selain lagu. Ya, selain lagu. Sementara Syd Barrett, sudah menulis lagu sejak usia 16 tahun. Dan dia jenius. » Read the rest of this entry «