Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya (dan mungkin juga Anda) sekilas bakal terkecoh mengiranya sebagai Dian Pramana Poetra dalam versi yang tertukar; lebih muda, langsing, sedikit canggung dan peragu. Tapi memang selalu begitu: Anto akan tetap berdiri mematung tepat di depan pintu, seperti ragu-ragu harus menyapa dulu atau lebih baik menunggu, hingga akhirnya saya benar-benar menoleh dan melambaikan tangan; dan dia pun nyengir, senyumnya setipis kumisnya.
Akhir-akhir ini saya mulai sering membicarakan musik funk bersamanya, membahas film-film blaxploitation, menghadiahi laserdisc konser Gil Scott-Heron (salah satu pahlawan musik terbesarnya) di hari ulang tahunnya, tapi minat Anto Arief terhadap genre musik itu rasanya sudah diketahui banyak orang. » Read the rest of this entry «










