Mari Funk, Rebut Kembali?

April 20th, 2012 » 1

.

Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya (dan mungkin juga Anda) sekilas bakal terkecoh mengiranya sebagai Dian Pramana Poetra dalam versi yang tertukar; lebih muda, langsing, sedikit canggung dan peragu. Tapi memang selalu begitu: Anto akan tetap berdiri mematung tepat di depan pintu, seperti ragu-ragu harus menyapa dulu atau lebih baik menunggu, hingga akhirnya saya benar-benar menoleh dan melambaikan tangan; dan dia pun nyengir, senyumnya setipis kumisnya.

Akhir-akhir ini saya mulai sering membicarakan musik funk bersamanya, membahas film-film blaxploitation, menghadiahi laserdisc konser Gil Scott-Heron (salah satu pahlawan musik terbesarnya) di hari ulang tahunnya, tapi minat Anto Arief terhadap genre musik itu rasanya sudah diketahui banyak orang. » Read the rest of this entry «

[Cerpen Favorit] Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung

April 19th, 2012 » 3

.
(cerita pendek oleh Misbach Jusa Biran)

“Kalau Bung seorang seniman, jangan tinggal di kampung,” kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek “Cirebon” yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara dia duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu saya mengenakan baju yang siangnya saya tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula. Dan memenuhi kebiasaan di antara seniman, yakni meskipun belum pernah kenal atau berkenalan dapat saja bicara dengan intimnya, maka saya tidak ragu-ragu lagi.

“Kenapa?” tanya saya sambil menghembuskan asap rokok dengan gaya bebas, menggaruk-garuk rambut semaunya. Gaya yang saya sesuaikan dengan keadaan saya malam itu: seniman. » Read the rest of this entry «

Ira Hamil Lima Hari

February 21st, 2012 » 7

.

Berhubung hari ini tanggalnya istimewa, yakni 21-02-2012, dan itu angka palindrome yang tidak akan terulang lagi tahun depan, maka saya repost di sini satu tulisan iseng blog lama saya soal itu. Cekidot.

Senin, 4 April, 2005
::: palindrome!

Ini berawal dari Badu yang mampir ke blogombal Mas Kere Sukemplu, dan suatu saat mendapati dirinya adalah pengunjung ke-39493. “Aah, palindrome,” batin saya waktu itu. Yeah, Badu mengangguk, seolah bisa membaca pikiran saya. Lalu semacam flashback: saya ingat masa kanak, ketika seorang Budi kecil tercenung membaca merk sabun colek OMO, yang dibeli Ibu dari warung sebelah. “Bu, lihat merk itu! Kalau dibaca dari belakang pun tetap ‘OMO‘! Hebat ya?” Ibu diam saja, tapi tetap tersenyum—mungkin sambil membatin, “Hebatnya opo to, Le? Wong cuma gitu aja kok.” » Read the rest of this entry «

Mengenang Suwargi Pak Chaplin

December 25th, 2011 » 3

.
Tepat di hari Natal 34 tahun lalu, Chaplin meninggal dunia. Usianya 88 tahun. Tapi karyanya bakal tetap hidup seribu tahun lagi. Saya menemukan ini di buku harian saya, corat-coret 7 tahun lalu. Terasa naif di sana-sini. Maklum, masih muda. Ini dia. *tutup muka*

Thursday | September 16, 2004 | 01:36 AM

“Buck up – never say die! We’ll get along.”
(Modern Times’ closing intertitle. Charles Chaplin. USA. 1936)

Kampus J. adalah kampus terik gersang nggak mutu. Minggu lalu harus ke sana untuk sebuah keperluan: diundang berbicara di acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Bercucuran keringat ke sana, naik Jupe dibakar matahari, diasapi bis Damri. Sesampainya di lokasi, sempat minum teh-botol-dingin-menyegarkan di kantin Sastra, mendaftar kembali film apa saja di tas (waduh, DVD Man Bites Dog nyelip di mana ya?), kirim SMS sana sini (”halo-hai-saya-sudah-sampai-nih”), mengecek buku agenda, meraut pensil bujel kesayangan, Tyler (?) iseng mencoba menghitung jumlah pohon, sampai akhirnya seorang panitia datang juga menjemput. Astaga, masih muda banget (punten-kang-terlambat-dan-sebagainya-aku-sih-tersenyum-simpul-saja). Baik, baik. Tidak apa. Kami naik ke lantai dua. Tajuk acara kecil-kecilan itu kurang lebih: Chaplin, Film, dan Sejarah. Hmmm. » Read the rest of this entry «

Orang Sial jang Menemukan Saxofon

December 18th, 2011 » 1

.

Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang tren saksofon di kancah musik populer 2011, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah Intisari no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa haru. Penuh semangat saya mengetiknya ulang—secara manual, bukan memindainya dengan perangkat lunak tertentu—untuk di-post di sini. Saya sengaja mempertahankan ejaan lamanya. Eh, maksud saya: Saja sengadja mempertahankan edjaan lamanja. Selamat membatja. » Read the rest of this entry «

Empat Menit, Sehat Sempurna

November 10th, 2011 » 2

.

Aku senam, maka aku ada.

Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh file musik pengiring SKJ ’88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar.

Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru menyadarinya sekarang—langsung muncul prasangka di kepala saya: jangan-jangan itu semacam perlambang obsesi Orde Baru atas ketertiban dan stabilitas, karena bukankah itu gunanya peluit? Pak Polantas nan gendut meniupnya di jalan raya demi menyetop sepeda motor yang melanggar lampu merah. Wasit sepakbola memakainya di lapangan untuk menyemprit bek kiri yang terlalu keras mengganjal penyerang lawan. Dan bagaimana mungkin saya lupa guru olahraga di SD dulu, yang setelan baju training dan wibawanya terasa kurang afdol jika tanpa kalung peluit di lehernya? Dialah yang biasa berteriak-teriak lewat pengeras suara setiap Jumat pagi, sambil sesekali membunyikan peluit saktinya, gusar karena murid-muridnya sangat susah untuk sekadar berjejer rapi di halaman sekolah. Setelah barisan dirasa cukup solid dan enak dipandang, barulah semuanya—guru, murid, karyawan TU, tanpa terkecuali—dengan semangat “tiada hari tanpa olahraga” tunduk patuh pada tape compo butut yang mengumandangkan komposisi gagah karya N. Simanungkalit itu. » Read the rest of this entry «

Fell in Love with Planet Zeke

October 2nd, 2011 » 2

.

Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu “Blue Bird Taxi”, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire Salacca Zalacca? » Read the rest of this entry «

[Cerpen Favorit] Kandang Babi, Rendez-Vous

October 1st, 2011 » 0

.
(cerita pendek oleh Eka Kurniawan)


Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.

Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman—senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila. » Read the rest of this entry «

Why Brazil, someone once said

September 1st, 2011 » 2

ButtleTuttle!

.

“return i will
to old brazil”

» Read the rest of this entry «

Anak Band Beranak Band

August 14th, 2011 » 2

.

Set your guitars and banjos on fire,
and before you write a song: smoke a pack of whiskey
and it’ll all take care of itself
.”
—Beck

Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger ‘cuek’ itu juga cool.

Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: ‘menjadi band terkenal’. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. » Read the rest of this entry «